Pada artikel sebelumnya, kami sudah membahas dua sisi dari filsafat, yaitu antara filsafat sebagai alat berpikir dan filsafat sebagai produk pikiran manusia. Nah, kali ini subjek yang dibahas adalah implikasi logis dari mempelajari kedua sisi tersebut. Kemudian, kami akan menguraikan relasi antara keduanya, serta melihat posisi diri kita di antara keduanya.

Menjadi Filsuf

Melihat filsafat dari sisi ia sebagai alat atau metode berpikir dapat melahirkan seseorang yang berpikir filosofis. Dalam konteks ini, berpikir yang memiliki dasar, kritis, jernih, dan mendalam serta bisa dipertanggungjawabkan. Mempelajari filsafat dari sisi ini juga bermakna membentuk diri sebagai seorang filsuf.

Predikat filsuf tidak bersifat eksklusif, justru ia terbuka untuk disandang oleh manusia siapa pun. Dengan catatan, ia selalu mencintai kebijaksanaan dengan melakukan laku filosofis dalam hidupnya. Artinya, apabila kita sehari saja telah berpikir filosofis maka kita sudah menjadi filsuf barang sehari.

Tentu, laku filosofis dalam hidup perlu dilatih dan didisiplinkan. Dengan demikian, maka laku dan cara berpikir tersebut tidak hanya bersifat melekat sementara, melainkan sudah menjadi bagian diri yang tidak terpisahkan. Selanjutnya, secara epik kita telah menjadi seorang filsuf. Jadi filsuf, siapa takut?

Menjadi Ahli Filsafat

Adapun mempelajari filsafat sebagai produk pikiran akan melahirkan seorang ahli filsafat. Bagian kedua ini boleh jadi lebih berat, karena perlu pembacaan mengakar dan mendalam terhadap pemikiran para filsuf.

Biasanya laku ini lebih dekat dengan para akademisi di perguruan tinggi atau pemikir yang concern terhadap literatur filsafat. Mengingat, membaca pikiran para filsuf membutuhkan usaha lebih, seperti kemampuan bahasa, memahami teks, serta mengakses buku-buku para filsuf terkemuka.

Seorang yang ahli filsafat akan mengetahui bagaimana gagasan dan pikiran filosofis para filsuf terkemuka. Baik itu dari sejarah awal hingga masa kontemporer. Boleh jadi, menjadi seorang filsuf lebih mudah ketimbang menjadi seorang ahli filsafat.

Namun, arti penting dari menjadi ahli filsafat adalah juga mempelajari cara berpikir para filsuf; tidak sekadar mengetahui produk pikiran mereka. Hal yang terpenting adalah melacak premis dan asal-usul pikiran mereka. Dengan demikian, ahli filsafat selain menemukan beragam gagasan filsuf, juga melihat cara berpikir mereka yang variatif. Nah, bagaimana kalau jadi ahli filsafat saja?

4 Model Relasi

Setelah memahami implikasi logis dari mempelajarinya, maka kami akan menguraikan relasi di antara keduanya. Relasi adalah keterkaitan satu objek dengan objek lainnya. Ada 4 model relasi yang umum dipelajari dalam ilmu logika. Model relasi tersebut disebut dengan 4 relasi (nisbah arba’ah), yaitu: sama (tasawī), berbeda (tabayyun), irisan umum-khusus mutlak (umūm wal khusūsh mutlaq), dan irisan umum-khusus relatif (umūm wal khusūsh min wajah).

Relasi Filsuf dan Ahli Filsafat

Melihat posisi kita di antara dua sisi ini, kita dapat menggunakan model relasi di atas. Dengan begitu akan ditemukan delapan kemungkinan relasional, yaitu sebagai berikut:

  1. Seorang filsuf saja, bukan ahli filsafat.
  2. Seorang ahli filsafat, bukan filsuf.
  3. Seorang filsuf, sedikit ahli filsafat.
  4. Seorang Ahli filsafat, sedikit filsuf.
  5. Seorang filsuf, sekaligus ahli filsafat.
  6. Seorang ahli filsafat, sekaligus filsuf.
  7. Bukan filsuf, sekaligus bukan ahli filsafat.
  8. Bukan ahli filsafat sekaligus bukan filsuf.

Dengan demikian, delapan kemungkinan ini yang akan muncul. Namun, pertanyaannya adalah mungkinkah ahli filsafat bukan seorang filsuf atau filsuf bukan seorang yang ahli filsafat? Lalu, di manakah posisi kita sekarang dalam relasi itu? Yuk terus berfilsafat, semoga kelak menjadi filsuf sekaligus ahli filsafat. Jangan sampai kita tidak termasuk dari keduanya ya. At least, bisa menjadi filsuf.

 

Editor: Wa Ode Zainab Z. T.

 

Referensi:

Fahruddin Faiz, Sebelum Filsafat, Yogyakarta: MJS Press, 2021.

Abdul Hadi Fadli, Logika Praktis: Teknik Bernalar Benar, Jakarta: Sadra Press, 2015.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + four =