Penulis: Muhammad Fadhil

Editor: Wa Ode Zainab Zilullah T

Beberapa kurun waktu terakhir ini, banyak fenomena viral yang terjadi. Misalnya, kasus Ferdy Sambo, permainan lato-lato, Piala Dunia Qatar, praktik KDRT pada berbagai kalangan masyarakat, sawer qari dan qari’ah, dan berbagai fenomena lainnya. Fenomena viral di media sosial secara tidak langsung menjadi magnet pikiran dan perasaan yang menyedot perhatian masyarakat.

Fenomena viral dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti konten yang menghibur, menyentuh, atau menginspirasi; serta konten yang memiliki keunikan. Fenomena viral juga dapat terjadi karena faktor eksposur, seperti dibagikan oleh selebriti atau influencer populer, atau memiliki potensi untuk menjadi topik perbincangan di media sosial.

Meskipun fenomena viral dapat menjadi cara yang efektif untuk menyebarkan pesan atau meningkatkan brand awareness, ia juga dapat menimbulkan masalah, seperti penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan, atau menghasilkan tekanan sosial yang tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa apa yang kita bagikan di media sosial atau di internet adalah informasi yang akurat, bukan hoax, dan bermanfaat bagi orang lain.

Dari perspektif filsafat, viral dapat dianggap sebagai suatu bentuk dari hegemoni yang terjadi di masyarakat. Hegemoni adalah sebuah konsep yang dikemukakan oleh filsuf Italia, Antonio Gramsci, yang menjelaskan bagaimana kekuasaan dan ide-ide tertentu dapat menjadi dominan di masyarakat.

Menurut Gramsci, hegemoni tidak hanya terjadi melalui kekuasaan politik atau militer, tetapi juga melalui kekuasaan ideologis dan kultural. Hegemoni terjadi ketika ide-ide atau nilai-nilai tertentu dianggap sebagai norma yang harus diikuti oleh masyarakat.

Viral dan hegemoni merupakan dua konsep yang saling terkait dan memiliki hubungan yang erat. Viral dapat dianggap sebagai suatu bentuk dari hegemoni karena isu atau topik yang viral seringkali menjadi perhatian utama masyarakat dan dianggap sebagai hal yang penting untuk dibicarakan.

Isu atau topik yang viral juga seringkali dianggap sebagai suatu norma yang harus diikuti oleh masyarakat, sehingga individu yang tidak setuju dengan isu atau topik tersebut seringkali dianggap tidak sesuai dengan norma yang ada.

Viral dapat diartikan sebagai suatu isu atau topik yang sedang populer dan hangat dibicarakan oleh masyarakat. Dalam era digital saat ini, viral dapat terjadi dengan cepat dan mudah melalui media sosial atau aplikasi messenger.

Fenomena viral di media sosial atau di internet dapat digunakan sebagai alat hegemoni dalam beberapa cara. Pertama, fenomena viral dapat digunakan untuk menyebarkan propaganda atau informasi yang tidak akurat atau menyesatkan dengan cepat dan luas. Ini dapat terjadi dengan sengaja atau tidak sengaja, tergantung pada sumber yang menyebarkannya dan tujuan yang ingin dicapai. Misalnya, sebuah video atau gambar yang tidak akurat tentang sebuah topik dapat tersebar luas dan mempengaruhi pandangan orang lain tentang topik tersebut, bahkan jika informasi tersebut tidak benar.

Kedua, fenomena viral dapat digunakan untuk menyebarkan pesan atau ide-ide tertentu yang dianggap penting oleh pihak yang menyebarkannya, terutama jika pihak tersebut memiliki kekuasaan atau pengaruh yang besar. Misalnya, selebriti atau influencer populer dapat menyebarkan pesan atau ide-ide tertentu kepada jutaan pengikutnya di media sosial, yang dapat mempengaruhi pandangan atau perilaku orang lain.

Ketiga, fenomena viral dapat digunakan untuk menciptakan tekanan sosial yang tidak sehat atau memengaruhi norma-norma sosial yang ada. Misalnya, sebuah video atau gambar yang menunjukkan seseorang melakukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan norma-norma sosial dapat tersebar luas dan menimbulkan tekanan sosial bagi orang lain untuk tidak melakukan hal yang sama.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bersikap terbuka, sekaligus kritis terhadap berbagai postingan di media sosial, terutama yang viral; salah satunya dengan melakukan verifikasi terkait dengan informasi yang beredar sebelum meyakini kebenaran dan membagikannya kepada orang lain.

Namun demikian, viral juga dapat dianggap sebagai suatu bentuk dari hegemoni yang dinamis karena isu atau topik yang viral seringkali berubah-ubah dan tidak selalu menjadi perhatian utama masyarakat. Selain itu, viral juga dapat dianggap sebagai suatu bentuk dari hegemoni yang tidak selalu diakui secara terbuka, karena individu yang terlibat dalam proses viral tidak selalu sadar bahwa mereka sedang terlibat dalam proses hegemoni.

Referensi:

Walter L Adamson, Hegemony and Revolution A Study of Antonio Gramsci Political And Cultural Theory, (California: University of California Press, 1980)

Zezen Zaenudin Ali, “Pemikiran Hegemoni Antonio Gramsci (1891-1937) di Italia” Yaqzhan Vol. 3 No. 2, (Desember 2017): 63

Peter D Thomas, The Gramscian Moment, (Boston: Brill, 2009)

https://www.google.com/amp/s/yoursay.suara.com/amp/lifestyle/2022/07/21/152100/4-fenomena-media-sosial-saat-ini-akses-berita-viral
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/skola/read/2020/02/15/170000669/apa-yang-membuat-video-viral


This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + 14 =