Kata Agora berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tempat berkumpul”. Agora menjadi pusat diskusi publik pada masa Yunani kuno. Di sana para retoris, ahli politik, bangsawan, dan pemikir Yunani saling bertukar pendapat untuk mengakomodasi tatanan sosial, hukum dan politik Yunani.

Kekuasaan Perikles di abad 5 SM menciptakan keamanan bagi Athena. Athena mempraktikkan sistem politik undang-undang dan membuka partisipasi politik rakyat pria. Di masa itu pemerintahan demokrasi mulai digunakan. Demos berarti rakyat dan kratos berarti kekuatan. Kendati kekuasaan oligarki dan tiran masih mendominasi, namun riak-riak partisipasi rakyat dalam pemerintahan mulai terlihat di masa tersebut.

Debat publik diijinkan negara. Dan Agora menjadi tempat rakyat berlomba-lomba menyuarakan argumen bagi tatanan polis. Di masa itu rata-rata pemuda Athena bercita-cita menjadi seorang retorik handal di Agora.

Tradisi Berdebat

Hal ini memunculkan praktik pengajaran berbayar dari para Sofis. Mereka mengajarkan para pemuda ilmu debat dengan tarif pengajaran tertentu. Di sisi berlawanan, muncul Sokrates (warga Athena biasa yang hobi merenung). Ia menemui banyak ahli retorik Athena untuk membincang kebenaran.

Dalam naungan kaum Sofis, para ahli retorik dituntut memenangkan debat dengan cara yang pragmatis. Maka para Sofis sering dikenal di zaman Yunani sebagai para ahli “silat lidah”.

Dalam poros yang berlawanan Sokrates mengembangkan metode diskusinya sendiri. Ia menyebut metode tersebut sebagai metode elenkhus yaitu berpura-pura tidak mengetahui satu perkara. Namun diam-diam menggiring opini kebenaran tertentu.

Public Sphere: Ruang Diskusi Publik

Beralih ke masa modern bentuk ruang diskusi publik seperti Agora berkembang menjadi lebih beragam. Dalam musyawarah warga, diskusi di ranah politik, diskusi publik via medsos, dan sebagaianya.

Ruang diskusi publik adalah area dalam kehidupan sosial di mana individu-individu dapat berkumpul bersama untuk berdiskusi secara bebas dan mengidentifikasi problem sosial. Melalui diskusi tersebut dapat mempengaruhi tindak politik negara. Bagi Habermas ruang publik memungkinkan artikulasi kebutuhan masyarakat kepada negara.

Gerrard A Hauser mendefinisikan public sphere sebagai ruang diskursus individu-individu dan kelompok. Mereka mendiskusikan topik ketertarikan mutual yang memungkinkan tercapainya judgment umum atas topik tersebut. Public Sphere menjadi panggung masyarakat modern berpartisipasi dalam politik melalui media saling bicara. Public Sphere menjadi wadah kehidupan sosial di mana opini publik dibentuk.

ILC sebagai Agora Modern

Pasca reformasi dan kebebasan pers muncullah satu ruang diskusi publik yang diinisiasi oleh salah satu media Televisi dengan tajuk Indonesia Lawyers Club (ILC). Di sana para politisi, ahli hukum, negarawan, budayawan, analis, pengajar, maupun pemuka agama berkumpul. Mereka mendiskusikan topik sosial, situasi politik negara, maupun masalah yang sedang dihadapi negara.

Selayaknya Agora, di ILC para pembicara saling bertukar pendapat dengan keahlian retorika. Situasi paradoksal muncul, ketika pencarian kebenaran berubah menjadi kebutuhan pembenaran argumen individu. Dalam ilmu debat modern kiat retorika seperti ini disebut sebagai perang framing.

ILC menjadi panggung penting untuk mengatur opini publik. Kiat perang framing dapat dipakai mendominasi diskusi dan memenangkan opini publik. Bukan lagi tentang proporsi kebenaran, namun tergantung pada siapa yang memenangkan persuasi, memenangkan tempo debat, dan membalikan argumen dengan cepat. Ilmu framing dipelajari di kelas-kelas linguistik modern, kelas politik dan hukum.

 

Editor: Ahmed Zaranggi



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 3 =