Kata “Filsafat” berasal dari gabungan dua kata Yunani; “philia” dan “sophia”. Philia berarti “cinta” sedangkan sophia berarti “kebijaksanaan”. Maka, kata philia-sophia atau “philosophy” diartikan sebagai cinta terhadap kebijaksanaan. Apabila Filsafat merupakan tindakan mencintai kebijaksanaan, maka orang yang menjalani Filsafat disebut sebagai philosopher atau filsuf yang diartikan secara harfiah sebagai pecinta kebijaksanaan. 

Mereka tidak disebut sebagai Sofis (orang bijak)  kata ganti orang dari kata kerja “sophia” tadi karena mereka tidak mendapuk diri “telah menjadi” orang yang bijak, tetapi sebagai pecinta atau pencari kebijaksanaan.

Lalu, bagaimanakah cara mencapai kebijaksanaan tersebut? Sokrates, filsuf terkenal dari Yunani kuno meyakini sebuah prinsip fundamental bagi pencari kebijaksanaan, alih-alih menganggap diri sebagai orang bijak Sokrates justru meyakini bahwa ia “tidak tahu apa apa”. Maksudnya adalah: Sokrates mencari kebijaksanaan dengan terus menerus bertanya sebagaimana orang yang “tidak tahu”. 

Lantas, pertanyaan-pertanyaan seperti apakah yang ada dalam Filsafat? Filsafat adalah eksaminasi/uji kebenaran dari realitas, filsuf akan mempertanyakan esensi dari hal-hal riil di sekitarnya seperti kebenaran dari keberadaan/ada, kebenaran dari reason/akal budi, kebenaran dari nilai.Yang terepresentasi dalam pertanyaan-pertanyaan; “apa hakikat dari keberadaan?”, “dari mana asal pengetahuan dan batasan-batasannya?”, “apa hakikat dari nilai?”, dan masih banyak lagi.

Filsafat Adalah Seni Bertanya

Dikisahkan sekitar tahun 300 an SM di Athena, Yunani, Hidup seseorang dengan rupa bulat dan tubuh yang pendek. Dia tidak mengenakan baju yang mewah dan memiliki selera humor yang sarkastik. Dia adalah Sokrates, guru dari Plato yang kelak dianggap sebagai Bapak Filsafat Barat.

Di dalam Apologia, Salah satu mitra wicara Sokrates, Charupon, suatu waktu mendatangi seorang peramal, dan bertanya, “siapakah orang paling bijak di Athena?” Peramal menjawab, “orang paling bijak di Athena adalah Sokrates”. Sokrates tidak percaya dengan hal tersebut, ia yakin bahwa pasti ada Sokrates lain di Athena yang dimaksud oleh si peramal, maka Sokrates berkeliling Athena untuk menemukan orang yang lebih bijak darinya.

Sokrates menemui orang-orang masyhur dalam bidang retorika dan politik di Athena. Mula-mula Sokrates akan memperkenalkan dirinya sebagai “orang yang tidak tahu apa-apa” dan lawan bicaranya akan berbalik menerima ketidaktahuan Sokrates dengan memperkenalkan diri mereka sebagai ahli bidang politik, moral, hukum, dan sebagainya. Setelah itu, Sokrates akan mencecar para ahli ini dengan berbagai pertanyaan.

Di dalam dialog Plato berjudul Euthydemos, Dikisahkan bahwa Sokrates menemui seorang pemuda bernama Euthydemos:

Sokrates : “Wahai Euthydemos, perkenalkan aku Sokrates, orang yang tidak tahu mengenai keadilan.”

Euthydemos : “Aku adalah orang yang mengerti tentang keadilan dan ketidak-adilan, aku akan mengajarimu Sokrates.”

Sokrates : “Apa itu keadilan?”

Euthydemos : “Keadilan ialah perlakuan terhadap manusia lain sesuai dengan hak dan kewajiban yang mereka miliki.”

Sokrates : “Apakah mencuri merupakan tindakan yang adil?”

Euthydemos : “Tentu tidak Sokrates, mencuri adalah tindakan yang menyimpang bagi hak orang lain, dan mencuri merupakan tindakan yang tidak adil”.

Sokrates : “Lalu, bagaimana dengan berperang demi negara, apakah hal itu wujud tindakan keadilan?”

Euthydemos : “Tentu Sokrates, membela hak dari warga negara kita adalah suatu bentuk keadilan.”

Sokrates : “Namun, bagaimana dengan rampasan perang? Apakah mencuri harta negara lain setelah kemenangan adalah bentuk keadilan?”

Pada pertanyaan ini Euthydemos terdiam, dan ia merenung lama.

Euthydemos : “Tindakan mencuri dikatakan tidak adil jika dilakukan kepada rakyat sendiri.Namun merupakan bentuk keadilan apabila dilakukan kepada penjahat dari bangsa lain.”

Sokrates : “Tapi engkau sendiri yang mengatakan bahwa keadilan adalah memperlakukan orang lain sesuai dengan hak mereka.Kini bagimu keadilan hanya berlaku bagi orang-orangmu sendiri.Apakah itu artinya keadilan hanya berlaku bagi diri kita sendiri? Jika berperang bagi negara adalah tindakan yang adil, maka mengikuti perintah pimpinan perang adalah tindakan yang adil.Lantas apakah perintah mencuri berubah nilai menjadi tindakan yang adil?

Dari pertanyaan ini Euthydemos benar-benar terdiam dan mulai menyangsikan keyakinannya sendiri atas keadilan. Euthydemos pada akhirnya menyadari ia tidak tahu apa-apa mengenai keadilan. Sikap filosofis adalah sikap yang menangguhkan pra-anggapan kebenaran yang tidak diperiksa. Filsafat menguji kedalaman kebenaran.Kekaburan esensi dari kehidupan sehari-hari kita membuat para filsuf mencari prinsip yang radikal dan temuan dari filsuf akhirnya akan menjernihkan pemahaman kita sebagaimana semboyan terkenal dari filsafat yaitu “ex-philosophia claritas” (dari filsafat muncul kejernihan).

Ex-Philosophia Claritas

Kata “claritas” dapat diartikan sebagai jernih. Jernih adalah keadaan murni yang tidak tercemari, sebagaimana Sokrates tidak mencemari pemahamannya dengan pra-anggapan yang dangkal perihal realitas. Filsafat sebagai usaha penjernihan pikiran bukanlah sebuah hal yang mudah, diperlukan kesungguhan dalam menelaah apa yang benar di dalam realitas.

Kejernihan akal budi akan membimbing kita kepada inti dari realitas. Secara umum di dalam filsafat maupun logika, terdapat dua metode pendekatan bagi kita mencapai inti kebenaran realitas yaitu metode induksi dan deduksi.

Induksi

Metode induksi diawali dari penelaahan hal-hal partikular kepada kesimpulan umum.Jika filsuf melihat satu angsa berbulu putih, lalu angsa kedua juga berbulu putih, dan seterusnya angsa-angsa berbulu putih maka filsuf menyimpulkan kebenaran fundamental bahwa setiap angsa dalam dunia yang kontingen berbulu putih.

Deduksi

Metode deduksi diawali dari pengajuan hipotesis yang berlaku umum dalam realitas kepada kesimpulan yang partikular atau khusus. Sebagai contoh, apabila sebuah hipotesis yang berlaku umum dikatakan “semua manusia pasti mati” telah teruji sebagai sebagai hipotesis yang benar maka filsuf akan menyimpulkan kebenaran partikular, bahwa “Aristoteles adalah manusia, maka ia pasti mati”.

Penjernihan pemahaman kita atas realitas bisa mencakup topik yang beraneka ragam. Namun Thomas Aquinas seorang filsuf abad pertengahan, mengkategorisasi penjernihan tersebut dalam 4 hal, yaitu:

Verum, penelaahan benar salah.

Bonum, penelaahan baik dan buruk.

Pulchrum, penelaahan bagus dan jelek,

– dan Unum, penelaahan kesatuan utuh yang universal

Pembahasan atas dasar-dasar realitas tersebut kelak akan terpilah dalam beberapa pembahasan umum yang ketat antara lain dalam logika, metafisika, etika, dan estetika. Di artikel Zona Nalar berikutnya kami akan membahas cabang-cabang filsafat ini.

Penulis: Krisna Putra Pratama

Editor: Murteza Asyathri



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + eight =