Published On
Categories

Sebuah pertanyaan yang sangat fundamental bagi sesiapa yang berkeyakinan (red:beragama) dan juga hendak mempelajari filsafat. Sebab banyak orang yang berpikir bahwa mempelajari filsafat hanya akan melemahkan iman dan hanya menghabiskan waktu. Beberapa juga berpendapat bahwa belajar filsafat akan membuat kita menjadi gila. Pertanyaan ini saya dapatkan pada buku perkuliahan mahasiswa tingkat dua Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar yang berjudul “tayarat fikriyah mu’ashiroh”. Hal ini tentunya akan menjadi dasar untuk mempelajari filsafat dan menghubungkannya dengan agama, bukan malah menjadikan pertentangan diantara keduanya.

Apa itu Agama dan Filsafat?

Sebelum menuju pada pembahasan, ada baiknya kita perlu memahami apa itu agama dan juga filsafat. Agama secara terminologis dapat diartikan sebagai satu sistem kepercayaan dan perilaku praktis yang sakral dan supernatural (Johnstone, 1992: 14). Sedangkan filsafat berasal dari Bahasa Yunani “philosophia”, terdiri dari dua kata yaitu “philein” yang berarti cinta, mencintai dan juga “sophia” yang berarti kebijaksanaan. Dengan begitu filsafat adalah cinta akan kebijaksanaan. Secara garis besar perbedaan keduanya terletak pada sumber, jika agama bersumber pada wahyu illahi sedang filsafat bersumber pada akal manusia. Secara garis besar pula, kesamaan diantara keduanya terletak pada objek yang diteliti yang meliputi alam, manusia, dan kebenaran atau Tuhan.

Pertentangan antara agama dan filsafat sudah dimulai sejak zaman Yunani Kuno ketika Socrates dituduh meracuni kepercayaan para pemuda terhadap dewa-dewa dan kemudian dihukum mati dengan meminum racun. Sebenarnya Socrates hanya ingin mengajak untuk menguji kembali apakah benar dewa-dewa Polis yang selama ini mereka sembah adalah benar-benar pantas untuk disembah? Kemudian pada abad pertengahan peran agama menjadi sangat kuat, khusunya dibagian Eropa. Pada saat itu agama diatas segalanya. Hal-hal yang ada harus sejalan dengan agama. Orang-orang yang berjalan tidak dengan agama akan dianggap orang yang murtad dan bahkan tak sedikit yang akan diberi hukuman. Seperti halnya Galileo Galilei yang diangggap melakukan bidah karena meyakini matahari tidak bergerak dan menjadi pusat alam semesta sedangkan bumi yang bergerak dan bukan menjadi pusat dari alam semesta.

Membaca Kembali Sejarah

Selanjutnya pada masa kebangkitan (renaissance) dan setelahnya agama sudah tidak lagi mengekang, orang-orang mulai lebih berani untuk menyatakan bahwa agama bukan lagi sebagai hal yang penting. Seperti halnya gagasan Karl Marx “agama adalah candu bagi masyarakat”. Kemudian ada Nietzche yang terang-terangan membunuh Tuhan. Kemudian ada juga gagasan dari bapak psikoanalisis Sigmund Freud yang berangggapan agama adalah ilusi infantil dan neuorosis kolektif. Juga ada Feurbach yang menganggap agama adalah hasil proyeksi manusia. Lalu eksistensialisme Sartre yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dan hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, maka dari itu agama dan Tuhan haruslah tidak ada.

Barangkali ini juga merupakan alasan bahwa filsafat akan membawa pada ateisme dan meniadakan seluruh hal-hal yang berbau spirituil. Namun akankah hal itu demikian? Francis Bacon seorang filosof dari Inggris mengungkapkan “a little philosophy inclineth man’s mind to atheism, but depth in philosophy bringeth men’s minds about to religion.” Tentunya gagasan para filosof ini tidak serta merta menjadikan filsafat menuju kepada tidak percaya Tuhan, akan tetapi jika kita telisik lebih jauh mengenai gagasan ini akan menimbulkan sebuah refleksi yang panjang tentang kita dan Tuhan atau agama yang kita percayai, alih-alih menjadikan kita sebagai seseorang yang ateis atau agnostik.

Menguji Premis Keharaman Filsafat

Mari kembali lagi pada pertanyaan fundamental, “apakah benar filsafat itu haram dan memusuhi agama?” Didalam kitab “tayarat fikriyah mu’ashirah” setidaknya ada dua alasan yang paling mendasar untuk kita menjawab bahwa filsafat tidak haram dan tidak pula memusuhi agama. (1) Bahwa filsafat (akal) dan agama (wahyu) adalah dua nikmat terbesar dari Tuhan. (2) Jika ada pertentangan diantara agama dan juga filsafat itu merupakan kesalahan tafsir yyang salah dari filsafat dan agama atau dari keduanya. “Filsafat berpegang pada akal, dan agama berpegang pada wahyu. Sesungguhnya agama dan akal merupakan nikmat yang besar yang diberikan oleh Allah atas manusia. Lalu bagaimanakah mungkin berpegang kepada nikmat Allah mengantarkan pada kemurkaan Allah?” (Tayarat Fikriyah Mu’ashirah: 83)

Jika filsafat tidak haram, apakah fungsi filsafat bagi umat beragama? Filsafat akan membebaskan kita dari taqlid dan dogma melalui akal. Saya akan meminjam sebuah ungkapan dari Romo Magnis dalam buku yang berjudul menalar Tuhan, bahwa iman yang tidak disertai nalar masih belum utuh. Iman hanya utuh apabila seluruh manusia terlibat, dan itu berarti bahwa nalar harus ikut beriman. Begitu pula dalam agama islam, bahwa iman adalah pembenaran hati, pengakuan lisan, dan aman dengan anggota badan. Pembenaran melalui hati juga melalui nalar, untuk menemukan keteguhan hati pikiran kita dituntut untuk yakin bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan cinta dengan kita, dengan berpikir kita bisa menemukanNya dalam hati kita.

Hakikat Filsafat

Terakhir, filsafat sama hakikatnya dengan yang lainnya. Ia sebagai jalan untuk menemukan Tuhan. Melalui ajaran-ajarannya yang membimbing kita untuk menemukan Tuhan dan segala bentuk ketenangan melalui akal. Berefleksi, meditasi, dan menguji hidup menurut ajaran dari Socrates. Menjadi manusia ideal menurut Plato dan Aristoteles. Menjadi manusia yang berbudi luhur menurut Stoa. Selalu mengingat mati menurut ajaran Senecca. Dan menjadi bijaksana yang lain-lain seperti menurut para filosof lainnya. Sebab menjadi penting untuk selalu terkoneksi dengan Tuhan. Seperti halnya saya beberapa saat lalu, sangat berputus asa. Kemudian mencari cara bagaimana bisa bangkit, melalui jalan baik apapun. Tuhan itu baik, sangat baik. Tuhan itu indah, sangat indah. Dan Tuhan itu dekat dengan kita, benar. Sangat dekat.

 

Editor: Ahmed Zaranggi



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − 5 =