Di balik banyak sikap dan argumen skeptis seorang Bernard Williams dalam etika adalah penolakannya secara terang-terangan terhadap “sistem moralitas”. Dalam buku The Limits of Philosophy Williams seakan mendesak kita untuk berpaling dari moralitas. 

Moralitas menurutnya sangat mendistorsi pemikiran tentang bagaimana kita hidup. “Kita harus menolak moralitas demi etika,” katanya. Tujuan hidup yang ia maksud sebenarnya masih untuk menjawab pertanyaan Socrates, juga Nietzsche dan Kierkegaard bagaimana seharusnya seorang hidup dan apa yang harus dilakukan? Terhadap Nietzsche, Williams mendesak untuk menolak “moralitas budak” dan sebagai gantinya mengadopsi sebuah teleologi keseimbangan antara Dionysian dan Apollonian.

Pada Bab, 10 Williams merangkum empat kesalahan filosofis utama dari sistem moralitas.  Pertama adalah Kewajiban (obligation). Kewajiban dipahami sebagai keharusan untuk melakukan X. Contohnya, pemberian bantuan kepada korban kecelakaan ketika seseorang berada dalam posisi untuk melakukannya. Williams mengklaim bahwa moralitas kewajiban semacam itu merupakan distorsi besar dalam asumsi modern. 

Williams mengatakan bahwa reduksionisme atas moralitas kewajiban bekerja dalam dua asumsi. Pertama, Kewajiban Menyiratkan Kapasitas. Artinya, jika seseorang memiliki kewajiban yang tulus untuk melakukan sesuatu maka itu harus berdasarkan kapasitas untuk melakukannya. Kedua, dalam prinsip aglomerasi yakni  jika seseorang memiliki kewajiban untuk melakukan X dan Y maka lakukan keduanya. Dua pandangan seperti itu, menurutnya, tidak sesuai dengan fakta kehidupan. Kehidupan,  khususnya yang berlaku untuk manusia pada dasarnya adalah tentang konflik dan pilihan tragis. 

Williams menolak klaim tentang tindakan yang benar secara moral harus ditentukan oleh pemikiran tentang kewajiban. Menurutnya, justru tindakan yang secara etis mengagumkan ditentukan oleh emosi tertentu yang sesuai daripada alasan tentang kewajiban. Williams juga menolak klaim tentang kewajiban moral yang sah adalah sesuatu yang mengesampingkan pertimbangan lainnya. Ia menolak skema jika kewajiban tidak dapat dihindari. 

Kedua, (practical necessity) keharusan praktis sebagai kesalahan filosofis ke-2 dari sistem moralitas. Bagi Williams, keharusan praktis sama sekali tidak khas dalam etika. Lebih lanjut, dalam kehidupan nyata, pertimbangan praktis seseorang tentang apa yang harus mereka lakukan mungkin tidak menghasilkan kesimpulan untuk melaksanakan kewajiban moral sama sekali bahkan dalam pertanyaan spesifik, “secara etis, apa yang harus saya lakukan di sini?” itu sendiri termasuk dalam proses deliberatif. Dalam kata lain, kebutuhan praktis ditentukan oleh proyek-proyek yang penting bagi seseorang itu.

Ketiga, Kebutuhan Praktis yang Etis. Kesalahan filosofis ke-3 yaitu situasi deliberatif yang dipandu oleh pertimbangan etis untuk menentukan kesimpulan tentang apa yang harus kita lakukan, tetapi hasilnya, bukan sebuah kewajiban moral. Karena sistem moralitas cenderung mengurangi situasi deliberatif dan menjadikannya perburuan obsesif untuk kewajiban moralitas.  

Kesalahan keempat adalah soal kecenderungan, kesukarelaan, dan kemurnian. Menurut Williams, kewajiban tidak bertentangan dengan kecenderungan melainkan tumbuh darinya. Dengan kata lain, seseorang hanya akan berada dalam posisi untuk memutuskan bahwa dia harus melakukan X jika dia memiliki keinginan yang sudah ada sebelumnya untuk melakukan X. 

Williams menolak sistem moralitas karena membuat orang berpikir bahwa tanpa “kesukarelaan”, hanya ada paksaan. Williams berpegang teguh bahwa seseorang “secara sukarela” memilih produk dari determinasi psikologis atau sosial. Pilihan seseorang selalu dikelilingi dan tertahan atau dibentuk oleh kekuatan di luar kendalinya bahkan dalam kasus tindakan sukarela. 

Menurut Williams, sistem moralitas berpura-pura bahwa satu-satunya pilihan yang tersedia untuk memengaruhi perilaku manusia adalah alasan dan paksaan. Kemurnian yang dimaksud adalah rasa yang mengungkapkan cita-cita. Kemurnian menurut Williams harus dihapus karena  memberi harapan bahwa seseorang dapat melalui upaya mereka sendiri untuk menciptakan dan mempertahankan dunia moral, melampaui keberuntungan. Sementara dalam kehidupan nyata, manusia dilahirkan dalam komunitas dengan sumber daya yang berbeda-beda.

 

Referensi:

Williams, Bernard. 1985. Ethics and the Limits of Philosophy. Harvard University Press.

 

Penulis: Aryo Wasisto

Editor: Murteza Asyathri



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

One thought on “Bernard Williams: Empat Argumen Menolak Sistem Moralitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen − seven =