Membincang ‘cinta’ tak akan pernah tamat. Begitu kompleks, menembus sekat. Cinta tak dapat didefinisikan secara utuh; upaya kita mendefinisikannya sama saja membatasi cinta itu sendiri. Sejumlah pakar, filsuf, psikolog, dan sufi memaknai cinta secara beragam dalam karya-karya mereka. Kita bisa merefleksikannya dalam pengalaman cinta dalam kehidupan kita. Apa itu cinta? 

Secara filosofis, ada daya tarik dan daya tolak [atraksi dan repulsi]. Alam semesta ini bekerja dengan prinsip tersebut, termasuk atom dan quark.  Daya tarik dan daya tolak bekerja juga pada manusia, antara satu individu dengan lainnya. Daya Tarik inilah yang mendasari cinta, sedangkan daya tolak sebaliknya. 

Cinta manusia terhadap yang lain menjadi landasan baginya untuk menjalin kasih sayang, kerja sama, persahabatan, bahkan pernikahan. Cinta manusia pun tak terbatas pada sesama, tetapi juga pada lainnya; seperti cinta pada kebenaran, ilmu, bahkan terhadap Tuhan. 

Menurut sejumlah filsuf Yunani kuno, sebagaimana dilansir “Lonerwolf”, cinta memiliki makna yang berbeda-beda. Cinta dimaknai sebagai berikut:

Eros: Cinta Erotis-Hasrat Seksual

Philia: Cinta Afeksi-Koneksi Jiwa 

Storge: Cinta Setia-Cinta Keluarga

Ludus: Cinta yang Menyenangkan

Mania: Cinta Obsesif

Pragma: Cinta Abadi-Cinta Dewasa

Philautia: Cinta Diri

Agape: Cinta Tanpa Pamrih-Cinta Tanpa Syarat

Sedangkan menurut penyair Persia, yang terkenal di dunia dengan karya-karya cinta, cinta adalah sesuatu yang memiliki daya transformasi dan mengubah substansi. Mereka menamai cinta dengan “elixir”. Elixir adalah suatu substansi yang mencairkan, memadukan, dan menyempurnakan menjadi kekuatan transformatif. Hal ini diungkapkan Murtadha Muthahhari dalam karyanya “Elixir Cinta”. 

Manusia adalah tambang, cintalah yang membuat hati itu menjadi “hati”. Jika tiada cinta, maka hati hanya lempung dan air. Setiap hati yang tidak berkobar, bukanlah hati; hati yang beku bak segenggam lempung. 

Sementara itu, menurut Erich Fromm dalam “The Art of Loving”, cinta adalah  jawaban atas masalah keterpisahan manusia. Filsuf yang juga psikolog ini berupaya menelaah problem dalam kehidupan manusia yang penuh dengan ketidakpastian, termasuk problem eksistensial.

Dalam konteks ini, manusia akhirnya menyadari bahwa ia butuh manusia lain di luar dirinya untuk saling berelasi.  Lebih lanjut, relasi penyatuan ini mendasarkan pada integritas, tanpa menafikkan individualitas masing-masing. 

Bagi Gabriel Marcel, dalam karyanya “Being and Having”, penyatuan manusia di dalam cinta tidak mungkin dipisahkan. Di dalam cinta senantiasa ada kehadiran yang terwujud dalam kesatuan “kita”. Filsuf Prancis itu bermaksud menekankan bahwa dalam kesatuan, manusia yang saling mencintai akan selalu merasakan kehadiran masing-masing. 

Kebersamaan di dalam cinta akan berlangsung terus, Marcel menyebutnya dengan ‘kesetiaan kreatif’. Lebih lanjut, cinta menurut Marcel adalah ‘datum ontologis esensial’ yang datang lebih awal dari ilmu apapun.

Merujuk pada ibnarabi.society.org disebutkan bahwa cinta lahir dari ketidakhadiran. Ketika ketidakhadiran menjadi kehadiran, cinta menjadi pengetahuan. Adapun Derajat Cinta menurut Ibn ‘Arabi:

  1. Hawa (Suka)—Cinta pertama yang terbetik;
  2. Hubb (Mahabbah)— Cinta yang tumbuh di dalam diri manusia;
  3. Isyq (Asyiq) — Cinta kuat yang membelit, sehingga membutakan mata;
  4. Gharam (Cinta Gila)— Cinta sampai kehilangan akal;
  5. Haymanah (Cinta Mati)—Cinta yang tidak lagi memikirkan dirinya sendiri.

Dalam buku “Ngaji Rumi: Kitab Cinta dan Ayat-ayat Sufistik”, Afifah Ahmad memetakan karakteristik cinta sejati menurut Rumi:

  1. a) Cinta sebagai anugerah Tuhan
  2. b) Cinta harus terus dirawat
  3. c) Cinta sejati tidak mengharap balasan
  4. d) Cinta sejati itu menggerakkan
  5. e) Cinta sejati membahagiakan

Sebab cinta bersatulah semesta, tanpa cinta dunia menjadi gulita” (Rumi, Divan-e Kabir, puisi kedua, bait 14) 

Cinta menyempurnakan jiwa, serta menampakkan kemampuan dahsyat yang terpendam. Dari sudut pandang daya persepsi, cinta itu mengilhami; dari sudut pandang emosi, cinta membulatkan tekad dan kemauan; cinta pun bisa mengantarkan pada keajaiban. Perjalanan sejarah menunjukkan kehadiran orang-orang besar yang bisa mengubah dunia berlandaskan “cinta”.

 

Penulis: Wa Ode Zainab ZT

Editor: Murteza Asyathri



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

2 thoughts on “Filosofi Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 11 =