Published On
Categories

Sinisme merupakan salah satu aliran pemikiran filsafat Barat yang dipopulerkan oleh dua filsuf besar Yunani klasik, Antisthenes (445- 365 SM) dan Diogenes (412-324 SM). Mereka mengajarkan metode kesucian hidup yang terlepas dari pengaruh materi atau kemelekatan duniawi. 

Para pegiat filsafat Barat, seperti Piet Meijer dalam salah satu karyanya yang berjudul “A New Perspective on Antisthene: Logos, Predicate, and Ethics” menjelaskan penamaan Sinisme didasari oleh tindakan para filsuf Sinisme (Antisthenes dan Diogenes) mengabaikan pola hidup materialis yang mendeskripsikan keindahan hidup manusia.

Menurut Diogenes, sebagaimana dikutip dalam salah satu buku Murtadha Muthahhari berjudul “Mukadime Ilm-e Kalām Falsafeh va Irfān” menyebutkan kehadiran atau keadaan manusia di alam semesta berusaha mencapai tujuan yang mulia sebagai ruang aktualitas keberadaannya. 

Tujuan eksistensi manusia, terdiri dari 2 hal, yaitu kemuliaan dan kebahagiaan yang bersifat hakiki. Ragam kehidupan dunia bersifat dinamis dan mekanis yang mengarahkan individu pada kebahagiaan dan kemuliaan yang berubah-ubah (sementara). Sedangkan, individu mengharapkan kemuliaan dan kebahagiaan yang bersifat tetap. 

Berdasarkan ragam penjelasan di atas, para filsuf Sinisme memandang manusia harus melepaskan diri dari berbagai tindakan dan paradigma materialis untuk mencapai tujuan eksistensinya di realitas. Ragam sikap abai terhadap kehidupan materi mengindikasikan hadirnya penamaan Sinisme dalam wacana filsafat Barat.

Lebih lanjut, beberapa pemikir kontemporer menjelaskan berbagai alasan penamaan sinisme untuk menyikapi pemikiran para filsuf Yunani Klasik, seperti Sayyid Abidin Bozorgi dalam makalah yang berjudul “Tārikhe Falsafe Garb” menjelaskan aliran sinisme dalam peradaban filsafat Islam dinamai Maktab-e Kalbiyūn atau Calbion School

Secara leksikal, kata kalbiyun dalam literatur bahasa Arab dan Farsi diartikan “anjing”, sedangkan kata maktab dipahami sebagai sekolah, bangunan pemikiran, dan aliran. Sedangkan secara etimologi, Maktab-e Kalbiyūn didefinisikan sebagai bangunan pemikiran yang menjelaskan metode, pola, dan cara hidup sederhana, seperti anjing.

Demi mempertegas ragam pemaknaan di atas, penulis mengutip pandangan Sayyid Abidin Bozorgi yang menyebutkan 3 argumentasi penamaan Maktab-e Kalbiyūn, antara lain;

  1. Diogenes, salah satu pendiri aliran Sinisisme, menghabiskan seluruh hidup di dalam tong yang di kelilingi anjing.
  2. Diogenes menghindari berbagai kehidupan sosial dan politik. Menurutnya, kehidupan sosial senantiasa mengarahkan manusia pada perdebatan materi. Adapun kehidupan politik, Diogenes memandang bahwa para pejabat telah mengambil hak-hak masyarakat kecil untuk memenuhi kepuasannya. Akibatnya, masyarakat kecil saling menjatuhkan satu sama lain sebagai sikap memenuhi kebutuhan dan hak yang diambil oleh para pejabat.
  3. Kehidupan sederhana mengantarkan Diogenes dan Antistheses untuk memahami arti kemuliaan dan kebahagiaan yang hakiki. 

Berdasarkan argumentasi di atas, dapat diketahui bahwa aliran Sinisisme dalam peradaban Barat berusaha mengarahkan manusia untuk memahami arti kemuliaan dan kebahagiaan. Adapun caranya adalah dengan mengabaikan kepuasan duniawi yang senantiasa mempengaruhi individu untuk mengambil hak dan menjatuhkan martabat orang lain, guna mencapai kebutuhan materi yang bersifat sementara. 

Dalam peradaban filsafat Islam, metode kesucian hidup dalam penawaran Antisthenes dan Diogenes memiliki keselarasan dengan pandangan Suhrawardi, pendiri aliran Iluminasi atau Israqiyah yang juga menawarkan kebahagiaan dan kemuliaan hidup melalui penyucian hati.

Suhrawardi dalam struktur filsafat Iluminasi memulai penjelasan penyucian hati melalui salah satu hadis yang bunyi “ أَلْعِلْمُ نُورٌ یقْذِفُهُ اللّه فِی قَلْبِ مَنْ یشآء” yang berarti Allah memberikan cahaya pengetahuan ke hati siapapun yang Dia kehendaki. Hadis tersebut, tidak bisa dipahami bahwa Allah swt. memiliki hak prioritas untuk memberikan cahaya pengetahuan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. 

Namun, Suhrawardi menjelaskan hadis di atas melalui pemaknaan QS. Al-Isra: 84 (17) yang artinya: “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu siapa yang lebih benar jalannya.”. Suhrawardi menjelaskan kata شَاكِلَتِهِ dipahami usaha mengembangkan atau membangun eksistensi untuk menyucikan hati yang bertujuan memperoleh cahaya pengetahuan-Nya sebagai jalan memahami hakikat kemuliaan dan kebahagiaan dirinya di realitas.

Dengan demikian, dapat dipahami bersama bahwa kemuliaan dan kebahagiaan sebagai tujuan eksistensi manusia memiliki urgensi dalam peradaban filsafat Barat dan filsafat Islam yang dicapai melalui usaha mengembangkan dan membangun eksistensi di realitas.  

Anjing dan Filsuf mengerjakan segala sesuatu dengan bijak, tapi mendapatkan imbalan paling sedikit”- Diogenes 

 

Editor: Wa Ode Zainab ZT



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =