Antisthenes (445- 365 SM), merupakan salah satu pendiri Filsafat Anjing (Sinisme),  lahir di kota Athena yang dibesarkan secara sederhana oleh kedua orang tuanya. Ayahnya, penduduk asli kota Athena. Sedangkan ibunya berasal dari Turki yang bermukim di Ibu Kota Yunani.

Secara garis besar, Antistheses berguru pada Gorgias dan Socrates. Di masa muda, Antisthenes memperdalam ilmu argumentasi bersama Gorgias, filsuf pra-Socrates. Kemudian di usia tuanya, dia memperdalam arti pengetahuan dan kehidupan bersama Socrates.

Sayyid Abidin Bozorgi dalam makalahnya yang berjudul “Tarikhe Falsafe Garb” menyebutkan Antisthenes memiliki posisi penting dalam mengkritik berbagai pandangan mengenai kematian Socrates; bahwa kematian yang diambil oleh Socrates merupakan langkah besar untuk mempengaruhi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang terlepas dari kemerlap materi. 

Menurut Antisthenes, sebagaimana disebutkan Sayyid Abidin Bozorgi, bahwa para filsuf tidak membutuhkan materi untuk menunjukan kebahagiaan dan kebajikan. Karena kebajikan tercipta dari tindakan dan nurani manusia. 

Diogenes (412-324 SM) lahir di Sinop, salah satu kota di wilayah Turki. Ayahnya bernama Hicesius, seorang bankir yang menujukkan Diogenes lahir dari keluarga yang berkecukupan, apabila dibandingkan dengan Antistheses. 

William Heineman dalam karyanya berjudul “Lives of Eminent Philosopher” jilid kedua menjelaskan kehidupan yang berkecukupan justru mengarahkan Diogenes kepada berbagai masalah, seperti tuduhan pemalsuan logam. Hal tersebut menyebabkan Diogenes pergi dan meninggalkan kota kelahirannya menuju Athena untuk memperoleh arti hidup, meskin tidak diketahui kapan dia meninggalkan Sinop.

Selama di Athena, Diogenes begitu banyak mendalami ilmu moral kepada Antisthenes. Diogenes begitu dipengaruhi oleh Antisthenes dalam masalah moralitas, sebagaimana salah satu anekdot terkenal bahwa suatu hari Diogenes hendak berjemur di tengah sengatan matahari, kemudian Alexander, sang penguasa Athena, menemuinya dan mempertanyakan “Apa yang sebenarnya diinginkan olehnya?”. 

Tentu, kita mengetahui jawab lugas yang diberikan oleh Diogenes bahwa Alexander hanya menghalanginya untuk memperoleh cahaya matahari. Dari cerita sederhana tersebut, beberapa pemikir memiliki ragam pandangan, seperti William Heineman memandang penolakan Diogenes terhadap para penguasa yang dipandang tidak memiliki kebijaksanaan.

Adapun Sayyid Abidin Bozorgi menilai sikap Diogenes merupakan sikap tegasnya untuk tidak berurusan dengan masyarakat setempat yang dipandang telah jatuh dalam kesenangan duniawi. Menurut Diogenes, esensi dari kenikmatan hidup, ialah memahami makna kehidupan dengan melepaskan seluruh urusan duniawi, termasuk para pelakunya. Ia memilih menghabiskan hidup di dalam tong yang dikelilingi oleh anjing hingga akhir hayatnya di tahun 324.

Doktrin utama yang diajarkan oleh para filsuf Sinisme, ialah kemurniaan diri dengan melepaskan penjara duniawi dalam kehidupan manusia. Menurut Diogenes dan Antisthenes, para pejabat, ilmuwan, dan berbagai lingkup masyarakat telah terpengaruhi oleh kenikmatan dunia dengan memandang materi sebagai tujuan utama kehidupan. Sebaliknya, Diogenes memandang bahwa materi telah menyebabkan penyesalan dan tuduhan terhadap dirinya di masa lalu. 

Demi mengatasi ragam permasalahan di atas, Diogenes menawarkan dua solusi bijak. Pertama, manusia harus memaksa dirinya untuk mengabaikan segala kepuasan dan kemerlap materi. Karena sebagian masyarakat di masa Diogenes rela berbohong dan menjatuhkan satu sama lain, demi meraih tujuan dan kepuasan materialis. 

Kedua, manusia harus menjauhkan dirinya dari pengaruh politik. Politik yang tergambar di masa Diogenes lebih mengutamakan keuntungan daripada kemaslahatan. Para pejabat menyewa para pemikir untuk mempengaruhi masyarakat sebagai langkah meningkatkan kekuasaan. 

Selain doktrin memaknai hidup, para filsuf Sinisme juga menawarkan konsep ketakwaan yang teraktual melalui tindakan dan ucapan. Menurut Antisthenes, kebijakan seseorang dilihat dari cara dia memperlakukan dan menjaga ucapannya di hadap orang lain. 

Selaras dengan Antisthenes, Diogenes memandang kebajikan adalah salah satu realisasi dari pemaknaan hidup yang terealisasi melalui perilaku, sebagaimana ungkapan Diogenes dikutip melalui Sayyid Abidin Bozorgi “”فضیلت انسان بر اساس ثروت نبوده ، بلکه بر اساس رفتار انسان بوده. وقتی به فیلسوفان در کوزه ها نگاه می کردم ، رنگ فضیلت را در آنها می دیدم.” yang artinya: Kebajikan tidak dapat dinilai melalui harta, tapi melalui sikap manusia. Saat aku melihat filsuf di dalam tong, aku melihat warna kebajikan dalam diri mereka.”

Berdasarkan ragam penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa doktrin utama Sinisme, ialah mengedepankan sikap baik terhadap kenikmatan dan kepuasan materi sebagai langkah memaknai hidup. Individu yang telah sampai pada pemahaman hidup akan mendeskripsikan kebijaksanaan dalam berperilaku dan berucap sebagai salah satu corak bijaksana di realitas.

 

Penulis: Nurul Khair

Editor: Wa Ode Zainab ZT



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + nineteen =