Published On
Categories

Definisi humor

Humor (humour) adalah perilaku yang dilakukan untuk membangkitkan rasa gembira dan memicu gelak tawa. Secara istilah humor ini berasal dari istilah medis latin kuno humour yang berarti cairan tubuh dimana dalam tubuh manusia, yang dikenal dengan hubungan dengan keseimbangan kesehatan dan emosi manusia.

Humor Menurut Para Filsuf

Plato dalam Republik menyatakan objek dari humor ialah sesuatu yang bodoh dan buruk. Orang yang berlebihan dalam humor, akan kehilangan kontrol atas diri sendiri. Maka dalam negara ideal, harus menghindarkan diri dari humor berlebihan (tofondoflaughter). Menurut Plato, karakter humor cenderung berupa penolakan atas diri (self ignorance). Penolakan tersebut misalnya dalam imajinasi diri sebagai lebih baik dari kenyataannya. Lalu Sosok seperti itu atau berlawanan dari itu menjadi bahan tertawaan

Thomas Hobbes dalam Human Nature menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan menilai orang lain. Manusia menilai dirinya dalam pengertiannya sendiri, lalu bermula dari situ menilai kekurangan orang lain. Oleh karena itu, humor dapat memiliki arti ejekan yang ditujukan kepada kecacatanlian. Akar humor ialah rasa superior atas kelemahan diluar dirinya.

Menurut Kant, kelucuannya bukan dari rasa superior, namun dari sesuatu yang keluar ekspektasi. Setelah Kant menegaskan poin utama dari “perubahan tiba-tiba” tersebut. Kant beranggapan bahwa tertawa muncul ketika ada perubahan mendadak dari ekspektasi yang kuat menuju kekosongan.

Menurut Sartre ketika menertawai seseorang, kita memperlakukan mereka seperti sebuah objek dan menghancurkan solidaritas dengan mereka. Fungsi tertawa ialah untuk menaruh sosok yang menggelikan diluar kelompok atau bagiannya, lalu mengakui usaha itu sebagai jalan untuk menjadi manusia seutuhnya.

Hakikat Manusia sebagai Makhluk Tertawa

Menurut Peter Berger, manusia mengartikan homo ridens adalah makhluk yang bisa tertawa, Ia berada di antara hewan dan manusia. Saat kita tertawa, manusia mengalami transformasi diri menjadi hewan. Artinya menjadi sejatinya manusia yang belum tercemar sebagai makhluk kultural dan juga karena manusia yang isi humor manusia itu sangat rumit dan menyangkut tingkatan intelektualitas tinggi.

Menurut blaise pascal, manusia itu adalah makhluk yang berada di tengah jalan antara ketiadaan dan keabadian, ia berada dalam keterombang-ambing antara ke duanya serentak pula merindukan keduanya untuk menjadi kenyataan. Gelak tawa dalam hal ini menjadi momen dia berada dalam keabadian. Meski sesaat, dia berada dalam khairos. Pengalaman mistis yang mengkategorisasi keidupan sehari-hari yang banal melalui gelak tawa yang banal pula.

Teori Humor

1. Teori Superior (Superiority Theory)

Inti humor ialah rasa lebih baik, lebih tinggi, atau lebih sempurna pada seseorang dalam menghadapi sesuatu keadaan yang mengandung kekurangan atau kelemahan. Seseorang akan tertawa bila mana mendadak memperoleh perasaan unggul karena dihadapkan pada pihak lain yang melakukan kekeliruan atau mengalami hal tak menguntungkan. Teori ini dapat dipakai untuk menerangkan mengapa para penonton tertawa terbahak-bahak melihat badut sirkus yang terbentur tiang ,jatuh tersandung, melakukan aneka kekeliruan, atau perilakunya menunjukkan berbagai kebodohan.

2. Teori Ketidakcocokan (Incongruity Theory)

Humor timbul karena perubahan yang sekonyong-konyong dari sesuatu situasi yang sangat diharapkan mejadi suatu hal yang sama sekali tidak diduga atau tidak pada tempatnya. Tertawa terjadi karena harapan yang dikacaukan (frustatedexpectation) sehingga seseorang dari suatu sikap mental dilontarkan ke dalam sikap mental yang sama sekali berlainan.

3. Teori Pelepasan (Relife Theory)

Inti dari humor ialah pembebasan atau pelepasan dari kekangan yang terdapat pada diri seseorang. Karena berbagai pembatasan dan larangan yang ditentukan oleh masyarakat, dorongan-dorongan batin alamiah dalam diri seseorang mendapat kekangan atau tekanan. Ketika kekangan/tekanan itu dapat dilepaskan atau dikendorkan oleh misalnya lelucon sex, sindiran jenaka, atau ucapan non sense, maka pecahlah perasaan orang dalam bentuk tawa.

4. Teori Simulasi (Simulation Theory)

Bagi manusia, masadepan bukanlah sesuatu yang bisa diterima begitu saja, malinkan perlu dibentuk, sesuai dengan aspirasinya. Dalam rangka mengantisipasi masa depan, maka anak-anak biasanya suka melakukan simulasi (berpura-pura menjadi polisi, dokter, orang tua dan semacamnya). Di dunia orang dewasa, humor merupakan bagian dari permainan simulasi, dimana setiap ekspetasi itu dikecoh atau dipatahkan, aka reaksinya tertawa. Teori ini memang mirip dengan teori incongruity theory, hanya saja berbeda penekanannya.

Ontologi Humor

Hanya apa yang secara asalnya manusia mengandung kelucuan Manusia tidak hanya satu-satunya menjadi hewan yang dapat tertawa, tetapi satu-satunya hewan yang dapat menjadi tertawaan (laughable). Tertawa muncul bukan berasal dari hati, tetapi dari pikiran. Untuk menampilkannya, perlu momen-momen insensibilitas, atau dapat dikatakan mematikan perasaan dengan  sejenak. Dalam melihat kelucuan seseorang, kita harus menghindarkan diri dari perasaan menilai dan membayangkan posisi seseorang itu berada di posisi kita. Melihat kelucuan seseorang membutuhkan emosi yang bebas dari kepentingan tertentu dan sebuah ketertarikan intelektual. Tertawa bukan pada keanehan subjek, namun sebuah penyimpangan dari fenomena yang telah ada, termasuk norma sosial.

Fungsi Humor

Adapun fungsi humor yang paling menonjol, yaitu sebagai sarana penyalur perasaan yang menekankan pada diri seseorang. Perasaan tersebut bisa dari berbagai macam hal, seperti ketidak adilan sosial, persaingan politik, ekonomi, etnis, sex, dan kekangan.jika ada ketidakadilan biasanya timbul humor yang berupa protes sosial.

Di samping sebagai sarana kritik sosial, adakalanya humor dibuat sebagai alat untuk mengaktualisasikan diri. Dalam lingkungan tertentu,segolongan orang yang tidak berdaya untuk melemparkan kritik secara langsung, mencoba melakukannya dengan menciptakan humor tentang yang bersangkutan.

Selain sebagai cara untuk menyampaikan kritik, humor juga merupakan bagian dari proses dalam menjalin komunikasi sosial. Untuk komunikasi yang sifatnya serius, pesan-pesan yang disampaikan bisanya tidak akan mudah terjalin, jika pertemuan tersebut merupakan pertemuan baru, maka mediumnya dalam tahap komunikasi akan mempercepat terbukanya pintu keakraban.

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Sumber:

Jurnal, Didiek Rahmanadji, Sejarah Teori Jenis dan Fungsi Humor, 2:35 (Agustus 2007)

Artikel, Bambang Sugiharto, Humor dan Dunia Manusia, 2014.

https://www.kompasiana.com/abukapota/5d35f3e0097f367d4337b192/homo-ridens

 



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − seventeen =