Jerman merupakan negara yang tidak boleh dilewatkan dalam kajian filsafat. Mengingat banyaknya filsuf dan aliran filsafat besar yang lahir dan berkembang di Jerman. Dari iklim kefilsafatan Jerman, muncul aliran-aliran filsafat yang penting, khususnya berkaitan dengan filsafat kehendak. Di antaranya Idealisme, Fenomenologi, Politik Mahzab Frankfurt, dan masih banyak lagi.

Dari Jerman muncul juga banyak filsuf besar. Sebut saja nama-nama yang telah masyur seperti Hegel, Schopenhauer, Marx, ataupun Nietzsche. Mereka bisa disebut sebagai filsuf-filsuf raksasa Jerman mengacu pada signifikansi pemikiran mereka. Masing-masing filsuf ini mengarahkan kita pada semesta filsafat yang seolah berbeda.

Untuk mengkaji pemikiran mereka lebih lanjut, tulisan ini akan memfokuskan pada tema kehendak. Bagaimana para filsuf Jerman ini melihat kehendak secara filosofis. Berikut pemikiran mereka yang berkaitan dengan filsafat kehendak.

Hegel

Di dalam filsafat Hegel, kita akan melihat usahanya mensistematisasi sejarah. Sejarah umat manusia tampak begitu abstrak. Bergerak seolah tanpa keteraturan. Namun Hegel menemukan inti dari kesejarahan.

Di dalam peristiwa demi peristiwa kesejarahan, Hegel meyakini sebuah penggerak tunggal. Ia menyebutnya sebagai roh atau spirit yang bergerak menuju kesempurnaan. Roh tersebut tidak didefinisikan dalam artian umum misalnya berhubungan dengan hal supranatural.

Roh atau spirit di dalam Hegel merupakan hal yang dapat kita temui dalam realitas. Zoners bisa mengingat kembali bentuk pemerintahan di masa lalu. Mula-mula pemerintahan didominasi monarki. Kemudian digantikan oleh oligarki dan akhirnya menjadi demokrasi seperti yang kita kenal sekarang.

Apa makna dibalik hal-hal itu? Sejarah ternyata bergerak dalam alur perkembangan. Dalam bentuknya yang mula-mula lemah menjadi makin sempurna. Inilah yang Hegel maksud sebagai roh. Dan secara lebih radikal, rasio manusia terikutkan dalam pergerakan roh ini.

Rasio manusia tidak pernah diam. Rasio kita selalu berkembang dalam proses  pembalikan demi pembalikan. Jika satu individu meyakini kebenaran, pada saat yang sama akan muncul juga negasi dari kebenaran itu. Demikian seterusnya, kebenaran berkembang dan representasinya dapat kita temukan dalam sejarah yang terus menyempurnakan diri.

Schopenhauer

Di dalam Schopenhauer, rasio yang dipostulatkan oleh Hegel dikesampingkan. Schopenhauer tidak melihat rasio sebagai penggerak utama sejarah. Schopenhauer mengalihkan perhatian filosofisnya terhadap faktor naluriah manusia.

Naluri merupakan esensi dari diri manusia. Melalui esensi manusia, kita akan mendaku esensi dari dunia. Naluri mewujudkan dirinya dalam berbagai kehendak. Antara lain kehendak makan, minum, bereproduksi, bermukim, dan sebagainya.

Dorongan-dorongan ini begitu impulsif dan secara pesimistik Schopenhauer memandangnya sebagai dorongan tanpa rasio. Manusia seolah tidak pernah lepas dari berbagai kebutuhan pemenuhan kehendak. Berbagai kehendak ini akhirnya menyebabkan pertikaian tiada akhir dalam sejarah.

Karl Marx

Kita mengenal pemikiran Marx dengan dominasi pengaruh dari Hegel. Namun ternyata juga terdapat unsur pemikiran Schopenhauer di dalam Marx. Kehendak yang dipostulatkan oleh Schopenhauer, diradikalkan oleh Marx menjadi kehendak material.

Bagi Marx, kehendak manusia dipengaruhi secara kuat oleh kebutuhan material makan, minum, reproduksi, dan papan dalam konteks sosial. Maka kebutuhan ini mendorong manusia untuk melakukan aktivitas produksi. Dari aktivitas produksi lah sejarah peradaban bergerak.

Iklim produksi menciptakan institusi di berbagai kelas. Kelas pekerja bertugas menjalankan alat produksi sedangkan alat produksi dan segala alur distribusi dikendalikan oleh kaum borjuis (kaum pemilik modal). Marx melihat di dalam aktivitas produksi, para pekerja sebenarnya terlainkan atau ter-alieniasi dari produk yang mereka ciptakan sendiri.

Alienisasi kelas pekerja di sepanjang peradaban menyebabkan pertentangan antar kelas. Dan di poin ini, gerak roh yang Hegel postulatkan dalam ranah idealistik diubah Marx menjadi gerak material dalam sejarah. Marx menyebut sejarah peradaban kita sebagai sejarah materialisme atau matrealism historic.

Nietzsche

Apabila di dalam Marx, kita melihat ketidakadilan dalam sejarah disebabkan kebutuhan material. Maka Nietzsche kembali lagi dalam kajian individualitik manusia seperti Schopenhauer. Bagi Nietzsche, manusia pada dirinya sendiri memang memiliki kehendak untuk berkuasa.

Secara fundamental, mula-mula dunia kita adalah dunia yang hampa atas makna. Kemudian hadirnya manusia, membuat pemaknaan atas dunia bersifat subjektif. Dari kuasa manusialah dunia didefinisikan. Kemampuan manusia untuk menafsir (interpreted) lambat laun membuat mereka menciptakan klaim tirani.

Kesejarahan kita dibentuk oleh skema yang demikian. Subjek yang lebih superior, akan menentukan pemaknaan bagi hal di bawah konstitusinya. Fragmen pemikiran Nietzsche juga mengkritisi moralitas tradisional kita yang diilhami dari hubungan tuan-budak.

Melali penjelasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan. Hegel membincang roh absolut. Sedangkan Schopenhauer membincang representasi kehendak. Lain lagi Marx membincang kapitalisme produksi. Ataupun Nietzsche yang membincang kehendak kuasa.

Namun, jika kita cermat mendalami filsafat mereka. Terdapat sebuah topik bahasan tunggal dalam filsafat Hegel, Schopenhauer, Marx, dan Nietzsche. Keempat filsuf ini, sama-sama membincang sejarah peradaban manusia.

 

Editor: Ahmed Zaranggi Ar Ridho



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

One thought on “Filsafat Kehendak: Dari Hegel Sampai Nietzsche

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + 15 =