Rene Descartes (1596-1650)

Rene Descartes yang kelak dikenal sebagai Bapak filsafat modern, telah membuka diskusi filosofis. Diskusi itu berkisar pada topik asal pengetahuan, skeptisisme, dan usaha justifikasi kebenaran. Di dalam traktat meditation on first philosophy milik Descartes, ia mempostulatkan bahwa semua keyakinan kita dapat diragukan.

Misalnya di dalam bermimpi, kita begitu yakin hal tersebut nyata namun sebenarnya hanya representasi pikiran. Artinya sense indrawi pun dapat mengelabui kita. Kendati semua keyakinan dapat diragukan, selalu terdapat satu hal yang pasti, yaitu diri kita yang meragukan.

Kelak analisis ini menghasilkan diktum terkenal dalam filsafat Cogito Ergo Sumatau “I think therefore I am”. Artinya aku berpikir maka aku ada, yang mana inti dari diktum ini adalah cogito dari The I atau pikiran/kesadaran dari “sang aku”. Sang aku atau diri atau The self menyadari keberadaannya. The self berpikir, the self menyangsikan.

Hume (1717-1776)

Hume mempertanyakan asumsi Descartes mengenai “diri” yang exist. Dalam kajiannya Treatise of Human Nature, Hume mengembangkan kritik terhadap gagasan mengenai “diri” yang menjadi aparatus utama pengetahuan. Seperti yang diyakini Descartes dalam usaha Descartes menemukan dasar bagi pengetahuan saintifik yang pasti.

Hume membalik diktum terkenal Descartes dengan pengutamaan atas “diri” atau cogito atas diri yang mula mula eksis. Menjadi persepsi-persepsi yang terlebih dahulu eksis, lalu membentuk impresi atas diri. Tidak ada “the self” yang mendahului__ seperti dipostulatkan Descartes, impresi atas the self hanya diturunkan dari berbagai persepsi luaran. Maka Hume lebih mengutamakan persepsi.

Pengada yang berpikir (kita manusia) harus memahami bahwa kita tak lain adalah kumpulan dari persepsi yang bermacam-macam. Yang berkelindanan satu sama lain dalam gerak perceptual. Teori Hume ini kelak dikenal sebagai “bundle theory of self”.

Lebih lanjut Hume meyakini bahwa ide apapun harus bisa diasalkan pada aktivitas indera. Bagi Hume pikiran kita bekerja atas tiga prinsip. Pertama, prinsip kemiripan (antara yang di benak kita dan yang di luar). Kedua, prinsip kedekatan misalnya mengenai ide rumah terdapat kedekatan dengan persepsi atas jendela, genting, dsb. Ketiga, prinsip sebab-akibat yang didasarkan pada keadaan di realitas. Misalnya sebab luka menimbulkan akibat sakit, dan seterusnya.

Berkeley (1685-1753)

Sebuah pandangan alternatif muncul dari Berkeley. Kendati posisi filosofis Berkeley mengarah pada empirisme. Namun ia tidak serta-merta menelan prinsip empirisme dari John Locke dan Hume. Berkeley memperjelas definisi mengenai bagaimana persepsi terberikan kepada diri kita.

Bermula dari keyakinan Plato bahwa terdapat semesta pengetahuan yang independen dari diri kita. Meletak di dunia seberang sebagai kumpulan idea-idea. Berkeley membalik keyakinan ini, bahwa tidak ada semesta pengetahuan seberang. Yang ada adalah pengetahuan sesuai terpersepsi kepada diri kita. Apabila dalam teori Plato dikenal sebagai realisme, maka teori pengetahuan Berkeley disebut anti-realisme.

Berkeley bertanya, “apakah benda bangku hadir independen (lepas) dari persepsi kita?” Kita bisa menjawabnya, “mungkin saja bangku independen”. Mungkin saja kendati tidak ada subjek yang mengetahui bangku akan tetap eksis.

Lalu Berkeley menyanggah lagi, “bagaimana Anda tahu hal itu adalah bangku?” Tentu dari proses memegang bentuk dan melihat bentuknya. “Bagaimana Anda tahu posisi bangku?” Tentu kita mengukur letaknya berdasarkan posisi diri kita dan bangku.

Kesimpulan dari berbagai pertanyaan itu adalah apa yang Anda tangkap semata-mata adalah persepsi indrawi, bukan benda itu sendiri. Kualitas-kualitas pada benda berbeda dengan kualitas yang dipersepsi. Dari berbagai sudut pandang, kita dapat mempersepsi benda dengan hasil kualitas yang berbeda dengan kualitas permanen pada objek tersebut.

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Sumber :

-Adian, Donny Gahral, dan Lubis, Akhyar Yusuf (2011), Pengantar Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Penerbit Koekoesan

-Duppen, Van (2016) Schizophrenia: A Disorder Of Intersubjectivity A Phenomenological Analysis, Jerman: Disertasi Dr. Van Duppen



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + 17 =