Memasuki abad 17 dan 18, Eropa mengalami gejolak pengetahuan yang luar biasa. Revolusi Copernican menempatkan matahari sebagai pusat tata surya (Heliosentrisme), Johannes Kepler mempostulatkan 3 hukum gerak benda langit, serta Isaac Newton yang menemukan hukum gravitasi. Mengakibatkan munculnya corak sekuler dalam pengetahuan masyarakat, menggugat dogma penciptaan. Dari sini lahirlah filsafat modern.

Namun Newton di waktu itu masih mengkonservasi dogma penciptaan dengan mengatakan, “gerak abadi dari planet-planet secara rasional melanjutkan kepercayaan akan eksistensi Tuhan”. Newton turut meyakini gagasan analogis Tuhan sebagai “pencipta jam”, yaitu alam semesta diciptakan oleh Tuhan dalam tatanan yang pasti dan ia bertugas mengawasi tatanan tersebut. René Descartes turut berspekulasi bahwa kosmos adalah mesin mekanis yang beroperasi dalam hukum-hukum pasti, tentu mesin mekanis tersebut memiliki pencipta.

Meragukan Pengetahuan

Namun Rene Descartes juga mengkritisi Filsafat Skolastik yang terlalu mengutamakan ketuhanan. Descartes yakin bahwa hampir semua Metafisika Skolastik dapat “diragukan”. Di dalam karya besarnya Meditation on First Philosophy. Descartes mempostulatkan kritik di dalam enam esai singkat.

Ia sebisa mungkin memposisikan diri berlawanan dengan segala yang bisa ia percaya, untuk mendaku determinan yang pasti dari pengetahuan. Descartes menemukan bahwa hampir segala hal dapat diragukan antara lain; realitas dari objek-objek fisik, Tuhan, ingatan, sejarah, sains, bahkan matematika. Namun terdapat satu hal yang pasti, yaitu “keragu-raguannya”.

Ragu artinya, kita bisa mengetahui apa yang kita pikirkan, walaupun hal itu bisa salah, dan kita tahu “terdapat pikiran” atas hal itu. Dari basis inilah Descartes membangun Filsafat Modern Epistemologinya. Kemudian “daya meragukan” dari pikiran itu, Descartes yakini tidak berasal dari dirinya namun bercahaya dari pusat rasio semesta yang ia sebut sebagai lumen naturale. Hal ini bisa diterjemahkan sebagai Tuhan ataupun pusat rasio yang secara sistematis akan menghindarkan kita dari kesesatan berpikir.

  • Rasionalisme

Kelak, Filsafat Modern Decart ini akan disebut sebagai Rasionalisme. Rasionalisme meyakini sumber segala pengetahuan adalah nalar. Justifikasi kita atas dunia selalu memerlukan daya-daya rasional yang inheren di dalam diri kita.

Nalar kita atas daya lumen naturale dapat mendaku kebenaran yang sifatnya tautologis (benar pada dirinya sendiri secara rasional). Misalnya dalam pengetahuan “nilai sebaliknya dari negasi A adalah A”, kita telah mengetahui nilai kebenaran pengetahuan ini secara inheren di dalam pikiran kita. Di kemudian hari bentuk penalaran seperti ini disebut sebagai penalaran deduktif.

Pengetahuan Dari Yang Nyata

Jika Descartes meyakini terdapat pengetahuan bawaan, pada poros berlawanan John Locke meyakini pikiran kita mula-mula kosong tanpa pengetahuan. Seiring kehidupan kita menuju dewasa, sense-sense indrawi berupa pendengaran, penglihatan, serta perasa memberikan data-data pengetahuan bagi pikiran kita.

Di dalam karya besar Locke “Essay Concerning Human Understanding”, Locke mengibaratkan pikiran kita seperti kertas putih. Tanpa sistem aturan bagi pengolahan data. Namun bersamaan dengan data yang diimpuls dalam sense indrawi kita. Data-data tersebut membentuk konstruksi pengetahuan.

  • Nalar Induktif

Kelak teori asal pengetahuan dari Locke akan disebut sebagai Empirisisme, artinya segala hal yang kita ketahui selalu berasal dari sumber empiris di luar diri kita. Misalnya dalam pengetahuan “ular adalah hewan melata”, kita tidak bisa mendaku tersebut secara inheren telah terpahami dalam pikiran kita. Pengetahuan “ular adalah hewan melata” dikonstruksi dari berbagai data empiris; jika ular 1 melata, ular 2 melata, ular 3 melata, maka kemungkinan besar “kebanyakan ular adalah hewan melata”. Metode penalaran seperti ini, kelak akan disebut sebagai metode induktif.

 

 

Sumber :

https://en.wikipedia.org/wiki/Modern_philosophy_

https://en.wikipedia.org/wiki/Rationalism_

https://en.wikipedia.org/wiki/Tabula_rasa_



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

One thought on “Filsafat Modern

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + nineteen =