Published On
Categories

Suku Sunda dan Peradabannya

Sebelum menuju falsafah Sunda, saya akan menjelaskan sedikit mengenai peradaban suku Sunda. Setidaknya ini membuktikan bahwa pada masa tersebut peradaban Nusantara terutama di Jawa barat dan sekitarnya sudah maju, termasuk secara pemikiran.

Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari pulau Jawa yang mencangkup Jawa Barat, Banten dan sebagian kecil tersebar di Jawa Tengah. Dalam catatan Portugis, Suma Oriental, orang Sunda digambarkan memiliki sifat optimis, ramah, sopan riang dan bersahaja. Kata Sunda berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sund atau sudsha, yang memiliki makna terang, bersinar, putih atau bekilau.

Dikatakan bahwa, orang Sunda berasal dari keturunan Austronesia yang diperkirakan berasal dari Taiwan. Mereka kemudian bermigrasi melalui Filipina lalu sampai di Jawa pada sekitar 1500 SM sampai 1000 SM. Selain itu, ada beberapa pendapat bahwa nenek moyang suku Sunda berasal dari wilayah Sundalandia. Sundalandia ini berada di semenanjung cekung besar yang saat ini membentuk Laut Jawa, Selat Malaka, Selat Sunda dan Pulau sekitarnya.

Pada abad ke-5 ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa di tanah Sunda terdapat kerajaan pertama di Pulau Jawa, yaitu kerajaan Tarumanegara dengan raja yang bernama Purnawarman. Pada masa itu kehidupan pertanian sudah maju dengan bukti adanya saluran untuk keperluan pertanian. Kalau begitu, manusia-manusia pendukung budaya itu merupakan manusia yang sudah maju pada masanya.

Golongan manusia menurut orang Sunda

Ada sejumlah sifat yang khas dalam mengidentifikasi sifat baik dan tidak baik oleh orang Sunda. Semuanya digolongkan kedalam empat golongan katergori besar, taitu akal, budi, semangat dan tingkah laku.

1. Akal

Dalam katergori akal yang dianggap baik dalam diri manusia ada tujuh. Mencakup: pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif berpengalaman luas dan menjungjung tinggi kebenaran. Sedangkan dalam katergori tidak baik, seperti bodoh, bingung, bohong, membenarkan yang bohong, pandai membohongi orang lain dan terlalu benar (tidak surti).

2. Budi

Dalam kategori budi, yang dianggap baik dalam diri manusia ada 31 macam. Di antaranya jujur, suci, punya pendirian, takwa, rendah hati, siger tengah (tidak ekstrem), bageur (orang baik), bijaksana, berjiwa kerakyatan. Serta punya rasa malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya, dan semacamnya. Sedangkan dalam katergori tidak baik. Seperti: pendendam, tidak berperasaan, tidak punya rasa malu, tidak tahu berterima kasih, dan sombong.

3. Semangat

Dalam katergori semangat, yang dianggap baik dalam diri manusia terdapat 18 macam. Di antaranya: punya idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, punya semangat belajar, mau berusaha, rajin, lebih baik mati dari pada hidup hina. Serta berani, bersifat kesatria, ulet, tahan godaan, khusyuk dalam berdoa. Sedangkan dalam katergori tidak baik, di antaranya merasa berdaya, menyiksa diri, pengecut, penakut, serakah dan menyalahgunakan kedudukan.

4. Tingkah laku

Dalam kategori tingkah laku, yang dianggap baik ada 38 macam. Di antaranya: sederhana, matang perhitungan, suka menolong, sopan, waspada, teliti. Serta tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan dan semacamnya. Sedangkan dalam katergori tidak baik ada 39. Yaitu: suka menonjolkan diri, sombong, berpakaian berlebihan, malas, tidak mau berusaha, suka bertengkar, suka mencuri. Serta dengki, menipu, cerewet, bicara sembarangan, usil, suka menceramahi orang lain. Bahkan tidak menghargai orang lain dan selingkuh boros.

Pandangan Hidup dalam Berelasi

1. Berelasi sebagai pribadi

Orang Sunda berpandangan bahwa manusia harus memiliki tujuan hidup yang baik dan senantiasa sadar akan dirinya. Menyadari ia hanya bagian kecil dari alam semesta. Untuk mendapatkan tujuan hidup yang baik, manusia harus memiliki seorang guru yang dapat menuntunnya ke jalan yang benar. Dalam pandangan orang Sunda, guru adalah orang yang harus dihormati. Bahkan Tuhan yang maha esa disebut guru hyang guru syang tunggal. Dianjurkan agar bertanya kepada orang yang ahli dalam bidangnya, meneladani orang yang berkelakukan baik. Juga dapat menerima kritik dengan hati yang terbuka dan mengambil manfaatnya dari teguran serta nasihat orang lain.

2. Berelasi sebagai individu dalam masyarakat

Adapun tujuan hidup yang dianggap baik oleh orang Sunda adalah sebagai berikut:

Sejahtera berarti hidup yang berkecukupan, tenang dan tentram berarti merasa bahagia, mendapatkan kemuliaan berarti disegani dan dihormati oleh banyak orang, terhindar dari hidup yang hina, nista dan sesat. Hidup rukun, akrab dengan tetangga dan lingkungan. Orang yang merdeka artinya terlepas dari ujian dan terbebas dari hidup tanpa tujuan. Kesempurnaan akhirat adalah terhindar dari kemaksiaatan dunia dan ancaman di akhirat

Pandangan tentang hubungan manusia dengan alam

Orang Sunda beranggapan bahwa alam telah memberikan manfaatnya secara maksimal kepada manusia. Manusia harus menjaga kelestariannya dengan baik dan memanfaatkan alam hanya secukupnya saja. Orang Sunda dianjurkan agar siger tengah atau siniger tengah, yaitu tidak kekurangan tetapi tidak berlebihan. Sama sekali bukan untuk kemewahan, melainkan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian tidak menguras atau memeras alam secara berlebihan.

Pandangan hidup tentang hubungan manusia dengan Tuhan

Sebelum masuknya Islam, orang Sunda percaya akan adanya Tuhan dan percaya bahwa Tuhan Itu Esa atau satu. Meskipun pernah memeluk agama Hindu, namun dewa-dewa hindu ditempatkan di bawah Hyang Tunggal, Guriang Tunggal atau Batara Tunggal.

Tuhan itu maha mengetahui; mengetahui apa yang diperbuat oleh makhluknya. Karena manusia wajib berbakti dan mengabdi kepada Tuhan. Tuhan yang telah menghidupi makhluknya, memberinya kesehatan, memberinya rizki dan mematikannaya pada saatnya.

Pandangan hidup tentang manusia dan kepuasan lahir-batin

Orang Sunda itu lebih memilih untuk menghindari persaingan. Mereka lebih mengutamakan kerjasama untuk kepentingan bersama. Lebih menghargai musyawarah, bekerja keras dan pantang menyerah. Mengutamakan mutu hasil kerja, dari pada menyelesaikannya dengan cepat. Tidak menunda pekerjaan yang belum selesai, apalagi menyerahkannya kepada orang yang bukan ahlinya. Mau mengerjakan yang baik meskipun menjadi seorang pekerja kasar.

Kreatif dalam mencari lapangan pekerjaan dan percaya pada kemampuan sendiri. Juga menyesuaikan diri dengan lingkungan, dengan perkembangan zaman dan dengan kebiasaan yang berlaku di tempat hidupnya. Berusaha mencapai hari esok yang lebih baik. Mempelajari ilmu sampai mendasar sehingga dapat diamalkan.

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Sumber:

Ajir Rosidi. Manusia Sunda. Inti Idayu Press, Cet 2. 1985.

Reiza D. Dienaputra. Sunda Sejarah, Budaya dan Politik. Sastra Unpad Press, Cet 1. 2011.

https://www.kompasiana.com/amp/fauzi.irawan/pandangan-hidup-orang-Sunda

https://www.kompas.com/stori/read/2022/02/12/110100779/suku-Sunda-asal-usul-ciri-khas-dan-budaya



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 15 =