Dalam catatan sejarah, kita bisa melihat adanya perkembangan pengetahuan dan pemikiran dari masa ke masa. Suatu hal yang menarik ialah pada setiap fase perkembangannya, ilmu pengetahuan memiliki karakteristik sesuai dengan keadaan pada fase tersebut. Perkembangan ilmu pengetahuan itu selalu ditandai dengan istilah periodisasi, seperti periode Yunani kuno, periode Helenistik, atau periode kejayaan Islam. Menurut Abdul Karim, ketika disebutkan suatu periode zaman, maka berkaitan dengan peran sosial-budaya dan politik pada periode tersebut (2014: 273). Artinya, perkembangan pengetahuan pada setiap masanya selalu dipengaruhi oleh lingkungan sosial masyarakat dan keadaan politik.

Demikian juga pada lahirnya filsafat di daratan Yunani, adanya keterkaitan antara filsafat dengan corak politik pada masa itu. Dinamika politik di Yunani yang bercorak demokrasi menuntut masyarakatnya untuk bersuara, yakni suara yang didasarkan atas pemikiran mendalam. Saya kira, keadaan-keadaan tersebut telah membiasakan masyarakat Yunani Raya dalam tradisi berpikir dan berdialektika dengan orang-orang. Tertanam dalam benak saya, apakah setiap tokoh intelektual itu selalu dipengaruhi oleh dinamika politik? Lalu, apa sebenarnya politik itu?

Makna Politik

Perlu diketahui bahwa istilah politik yang kita kenal sekarang ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu polis yang berarti kota. Maksudnya, polis itu menunjukkan negara atau kota-kota kecil di daratan Yunani Raya (Bertens, 2018: 10). Di samping situasi daerah yang terbagi menjadi daerah-daerah kecil, secara umum praktik politik di Yunani juga diserahkan seutuhnya pada rakyat. Hal tersebut memungkinkan adanya sistem politik yang bersifat continue. Artinya rakyat diberi hak sepenuhnya untuk ikut berpartisipasi dalam urusan politik-negara. Jadi, keterlibatan antara masyarakat dengan berlangsungnya kegiatan politik sangat memungkinkan lahirnya pemikiran-pemikiran yang ideal.

Polis selalu menjadi pusat keaktifan dalam berbagai bidang, adanya perkembangan ekonomi, sosial-budaya dan tradisi keagamaan. Bentuk negara berupa polis kecil itu menjadi wadah bagi pertemuan antar polis, khususnya Athena yang menjadi pusat setiap polis. Pertemuan tersebut bisa terjadi karena adanya urusan perdagangan. Meskipun sekedar urusan perdagangan, tapi adanya pertukaran bahasa dan kebudayaan itu yang ikut membentuk tradisi intelektual di Yunani.

Kesadaran kenegaraan itu menjadi gerbang yang dimasuki orang Yunani dalam membangun dasar-dasar pengetahuan yang sistematis. Kebiasaan tersebut menanamkan benih-benih ideologi bagi setiap orang, yang kemudian dibawa ke ranah politik. Dengan demikian, pertemuan-pertemuan antara gagasan ideologi yang berbeda itu menimbulkan sebuah problem yang harus dicari ulang jawabannya.

Hal yang sama akan terus berulang di setiap polis Yunani Raya. Ir. Juniarso Ridwan menilai bahwa perkembangan hukum dan politik kenegaraan merupakan sebab atas lahirnya nuansa intelektualitas (2013: 12). Artinya, pembentukan tradisi filsafat di daratan Yunani Raya bisa dikatakan karena adanya pertemuan ideologi politik antara setiap orang dan polis-polis di alam Yunani.

Pengaruh Politik Terhadap Pemikiran

Bukti dari kesadaran politik itu melahirkan tradisi intelektual yang membentuk tokoh-tokoh besar dalam dunia filsafat Yunani. Kita bisa melihat ada beberapa filsuf yang berpengaruh dari Elea (sebelumnya ada filsuf alam), salah satunya adalah Zeno. Ia dikatakan sebagai filsuf yang menemukan pengetahuan mengenai dialektika yang menjadi tema kajian panjang dalam tradisi filsafat. Bisa jadi, dialektika merupakan media perangkat yang tidak mungkin hilang dalam tradisi kefilsafatan.

Kemudian, dari filsuf pra-Sokratik yang menjadi jembatan perpindahan fokus kajian dari kosmosentris ke logosentris adalah Demokritos. Ia mulai menaruh perhatian kajiannya mengenai etika manusia. Ajaran etika Demokritos ini seakan-akan mengantarkan objek kajian filsafat dari alam semesta ke arah hal-hal yang bersifat manusiawi. Mengapa demikian? Karena setelah itu ada sebuah aliran besar yang disebut kaum Sofis dan Sokrates. Bertens mengatakan bahwa Socrates dan kaum Sofis seperti sedang memindahkan filsafat dari langit ke bumi.

Kaum Sofis memiliki peranan penting di tengah kehidupan masyarakat Yunani Raya. Mereka, khususnya para guru akan terus berkeliling di sekitar kota-kota Yunani untuk mengajarkan kebijaksanaan. Hal yang mencolok adalah kaum Sofis sangat berperan bagi kemajuan politik di Yunani. Perlu kiranya untuk diperhatikan, salah satu faktor yang menjadi sebab lahirnya kaum Sofis adalah terjadinya peperangan Persia (499 SM). Kemudian, adanya perkembangan dalam sistem politik dan ekonomi sehingga Athena menjadi pusat di antara kota-kota. Akhirnya, masyarakat Athena memiliki minat yang tinggi terhadap tradisi keilmuan akibat dari kemajuan-kemajuan tersebut.

Protagoras

Kita akan coba ambil salah satu tokoh kaum Sofis, yakni Protagoras. Dalam catatan Prof. Bertens, Protagoras memiliki kedekatan dengan tokoh ternama di Athena, yaitu Pericles (Bertens, 2018). Dikatakan bahwa Pericles meminta Protagoras untuk ikut andil dalam mendirikan kota Thurioi di daerah Italia Selatan pada tahun 444 SM. Kemudian, Protagoras juga diminta untuk membuat undang-undang dasar bagi kota Thurioi itu. Saya kira ini merupakan kepentingan politik Pericles yang dititipkan kepada Protagoras, terlepas nilainya negatif atau positif. Dapat kita amati bahwa ketika Protagoras berperan, ada kemungkinan besar bahwa kota tersebut menjadi wadah perkembangan tradisi kefilsafatan.

Dari kaum Sofis itu, Prof. Bertens mencatat ada beberapa pengaruh yang diwariskan ke masyarakat Yunani, khususnya Athena (Bertens, 2018). Meskipun kaum Sofis memiliki peranan penting bagi situasi politik dan perkembangan filsafat, tapi kita dapat melihatnya dari sisi negatif positif. Kemahiran berpidato kaum Sofis itu nampaknya berakibat buruk pada keadaan politik di Athena, karena timbulnya kepentingan-kepentingan negatif dengan gaya berpidato. Singkatnya, jalan kejahatan semakin terbuka ketika kaum Sofis menawarkan ajaran berdebat dan berpidato. Di lain pihak, kaum Sofis juga mewariskan nilai positif berupa adanya perkembangan budaya intelektual di kota Athena. Banyak dari tokoh-tokoh di Athena yang kental atas pengaruh kaum Sofis.

Simpulan

Dari uraian diatas, kita coba ambil poin pentingnya bahwa suatu corak pemikiran tidak lepas dari pengaruh lingkungannya, khususnya keadaan politik. Terlepas dari pengaruh baik atau buruk, pada dasarnya situasi politik erat kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Demikian dengan Socrates, ia dihukum dan memilih minum racun karena kuasa politik yang menganggap Socrates bertentangan. Artinya, keadaan politik bisa menjadikan pengetahuan itu berkembang dan berhenti.

Namun, seorang intelektual juga harus memiliki karakter yang kuat dari sebuah pengaruh negatif. Bukan berarti ketika situasi politik yang buruk lantas seorang intelektual mewariskan pengetahuan yang buruk juga. Banyak dari filosof Yunani yang belum disebut, mereka bertahan dengan pemahaman individunya dari pengaruh-pengaruh politik.

 

Editor: Saipul Haq

Referensi :

Bertens, Kees. 2018. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.

Karim, Abdul. 2014. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jurnal Fikrah.

Ridwan dan Ahmad Sodik, Juniarso. 2013. Tokoh-Tokoh Ahli Pikir dan Hukum Dari Zaman Yunani Kuno Sampai Abad Ke-20. Bandung: Nuansa Cendekia.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 3 =