Published On
Categories

Istilah Peripatetik

Secara etimologi, peripatetisme kata peripatetik berasal dari bahasa Yunani, peripatein. Kata ini bermakna berjalan-jalan, berkeliling, dan berputar-putar; yang mendeskripsikan tempat dan berada, peripatos. Majid Fakhri dalam “Al-Masya’iyyah al-Qadimah” menjelaskan bahwa kata peripatos mendeskripsikan bangunan atau kelas yang digunakan Aristoteles untuk mengajar sambil berjalan-jalan.

Hasan Bakti Nasution dalam artikel jurnalnya berjudul “Mazhab Peripatesis (Masy-sya’iy) dalam Filsafat Islam” menyebutkan bahwa kata peripatetik memiliki pemaknaan kata yang sepadan dengan masya’i; masya, yamsy, masyyan wa timsya’an. Kata ini juga berarti berkeliling dari satu tempat ke tempat lain yang diterapkan Ibn Sina dalam mempraktikan metode ajar Aristoteles. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah peripatetik memiliki dua pemaknaan dalam dua peradaban filsafat; dunia barat maupun Islam. Dua pemaknaan peripatetik dalam peradaban filsafat memiliki makna yang selaras atau istirak ma’nawi.

Metode Diskusi Peripatetisme Islam

Muhammad Rawiyin dalam “Dirāsat fī Falsafaha ba’da Thabi’ah” menjelaskan bahwa metode diskusi yang diterapkan filsafat Peripatetisme Islam adalah burhan atau rasional. Sebuah metode yang mendudukan setiap perkara dalam rangka mendapatkan kesimpulan universal.

P1: Setiap manusia pasti mati

P2: Ibn Sina adalah manusia.

K: Ibn Sina pasti mati.

Dalam menguji metode burhan, para pemikir Peripatetisme Islam menggunakan beberapa pendekatan, seperti; Pertama, qiyās yang menempatkan masalah dalam dua proposisi mayor dan minor untuk memperoleh suatu hasil yang benar dan tanpa keraguan. Kedua, metode induktif sebagai pendekatan lain untuk menguji kebenaran suatu burhan atau argumentasi dari satu fenomena untuk dihukum secara universal, seperti konsep setiap api panas. Maka misdaq atau realitas api yang ada di kompor, korek, dan tungku itu panas. Berdasarkan dua metode diskusi Peripatetisme Islam, dapat disimpulkan bahwa filsafat Masya’i berusaha untuk mengurangikan suatu problematikan secara konseptual dalam rangka memperoleh kebenaran tashdiq di realitas.

Karakteristik Peripatetisme Islam

Osman Bakar dalam karyanya “Hierarki Ilmi” menjelaskan dua karakter utama Peripatetisme Islam, antara lain: rasional-demonstratif dan rasional-objektif.

1. Rasional-Demonstratif: suatu perkataan, pandangan dan kalimat sempurna yang menjelaskan fakta yang terjadi di realitas. Sehingga pembuktiannya dapat diterima oleh pikiran manusia secara pasti, seperti setiap manusia mati. Ibn Sina adalah manusia. Ibn Sina pasti mati.

2. Rasional-objektif: suatu pandangan, perkataan dan kalimat dapat diterima secara rasional. Akan tetapi, proses pembuktiannya membutuhkan analisis dari berbagai pemikiran untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang objektif. Seperti pembuktiaan kesatuan jiwa dalam eksistensi manusia, pembuktiaan wacana ma’ad jasmani wa ruhani, dan sebagainya.

Dasar Pemikiran Peripatetisme Islam

Sayyed Abidin Bozorgi menyebutkan sedikitnya Empat dasar pemikiran aliran Peripatetisme Islam, meliputi:

1. Kosmologi

Para Peripatetisme Islam memandang bahwa alam semesta terdiri dari berbagai tingkatan yang menjelaskan eksistensi Tuhan sebagai awal, yang tunggal, dari berbagai rentetan kosmologi. Rentetan alam dalam wacana kosmologi tercipta dari proses emanasi untuk menjelaskan konsep penciptaan semesta. Tuhan memancarkan wujud-Nya kepada alam atau langit pertama untuk mendeskripsikan sebab yang menggantungi keberadaan akibat.

Selanjutnya, langit pertama memancarkan wujudnya kepada langit kedua, hingga langit kesepuluh sebagai tingkatkan paling rendah. Berbagai macam tingkatan alam atau langit dalam wacana kosmologi menjelaskan kemendasaran wujud sebagai kebenaran yang pasti. Juga sebagai sebab dan sumber efek dari berbagai proses penciptaan, yang juga menjelaskan pembahasa ontologi Peripatetik di realitas.

2. Jiwa

Para pemikir Peripatetisme Islam menyakini bahwa jiwa merupakan kesempurnaan pertama manusia yang bersifat potensial. Potensialitas jiwa membutuhkan keberadaan tubuh untuk mengaktualkan ragam daya yang hadir dalam fakultas jiwa, antara lain: tumbuhan, hewan, dan rasional. Fakultas tumbuhan terdiri dari 3 daya utama; generatif, berkembang, dan nutrisi. Sedangkan, fakultas hewan memiliki 5 daya utama; 3 daya tumbuhan, gerak, dan persepsi partikular yang terdiri dari pancaindra. Sedangkan, jiwa rasional terdiri dari 6 daya utama; 3 daya tumbuhan, 2 daya hewan dan daya pikir untuk mempersepi dan menganalisis objek secara universal.

3. Akal

Akal dalam pandangan Peripatetisme Islam terdiri dari beberapa bagian. Sebagaimana pembacaan Ibn Sina, Bahmanyar dan Khajah Thusi, yaitu akal teoritis dan praktis dalam wacana filsafat jiwa. Akal teoritis terdiri dari beberapa tingkatan, seperti ‘aql hayūla, ‘aql bi malakah, ‘aql bi fi’il, dan ‘aql qudsī. Tingkatan akal teoritis berusaha memantik cara berpikir manusia untuk membangun berbagai macam argumentasi burhani untuk menguji kebenaran pengetahuannya di realitas.

Sedangkan, akal praktis adalah aktualitas kebenaran pengetahuan manusia untuk diterapkan dan diaktualkan dalam berperilaku. Akal praktis juga memantik etika individu, agar selaras dengan pengetahuannya. Artinya, manusia bertindak berdasarkan pengetahuannya, bukan hasratnya. Sedangkan, pengetahuan teoritis dipengaruhi oleh kemampuan jiwa untuk menganalisis ragam wujud misdaq untuk menguji pengetahuan individu. Dengan demikian, rentetan dasar pemikiran Peripatetisme Islam kembali pada ruang pembahasan wujud atau ontologi.

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Referensi:

  1. Haidar Bagir. Buku Saku Filsafat Islam. Mizan: Bandung, 2006.
  2. Hasan Bakti Nasution, “Mazhab Peripatesis (Masy-sya’iy) dalam Filsafat Islam”. Jurnal Analytica Islamica, 1, No.2 (2012)
  3. Lailatu Rohmah. “Pemikiran Ibnu Sina tentang Epistemologi: Landasan Filosofis Keilmuan dalam Islam”. Jurnal an-Nur, Vol. 5, No. 2 (2013).
  4. Majid Fakhry, al-Masya’iyyah al-Qadaimah.1998.
  5. Muhammad Rawiyin. Dirāsat fī Falsafaha ba’da Thabi’ah. Taghazi: Dar Libiya.
  6. Osman Bakar. Hierarki Ilmu: Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu. Bandung: Mizan, 1997.
  7. Seyyed Abidin Bozorgi. Ilm-e Nafs az Nazar-e Ibn Sina, Suhravardi wa Mulla Sadra. Tehran: ABU Press, 1397.


This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 5 =