Filsafat pikiran (philosophy of mind) adalah cabang filsafat analitis yang mempelajari kodrat pikiran, peristiwa pikiran, properti pikiran, kesadaran, dan relasinya dengan tubuh/ raga fisik [terutama otak]. Adapun masalah pikiran-raga (mind-body problems) dalam philosophy of mind yang paling utama, yaitu “relasi pikiran dengan raga”. Dalam konteks ini, philosophy of mind merupakan cabang filsafat yang mencakup filsafat psikologi, psikologi filosofis, dan metafisika yang berkaitan dengan sifat fenomena mental dan bagaimana mereka masuk ke dalam struktur kausal realitas.

Dua Aliran philosophy of mind

Aliran utama philosophy of mind terdiri dari dua, yaitu monisme dan dualisme. Dalam perkembangannya, berbagai cabang dari kedua aliran tersebut berupaya menyelesaikan mind-body problems. Monisme adalah konsep metafisika dan teologi bahwa hanya ada satu substansi di alam ini. Aliran ini berpandangan bahwa pikiran dan raga bukanlah entitas yang terpisah secara ontologis. Pandangan tersebut diusung pertama kali oleh Parmenides pada abad kelima SM.

Sementara itu, dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi, dalam pandangan tentang hubungan/ relasi antara jiwa dan raga. Dualisme berpandangan bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik. Persoalan mendasar yang harus dianalisis terlebih dahulu dalam philosophy of mind, yakni apakah pikiran (mind) saja yang riil atau hanya raga  (body)  yang riil;  ataukah keduanya sama-sama riil.

Terdapat dua aliran monisme, yaitu monisme fisikalisme dan monisme non-fisikalisme. Adapun aliran monisme fisikalisme adalah sebagai berikut:

(1) Behaviorisme; aliran yang menghapuskan gagasan kehidupan pikiran, serta memusatkan perhatian pada deskripsi perilaku yang dapat diamati;

(2) Kognitivisme; aliran yang menolak behaviorisme;

(3) Fisikalisme Tipe (teori identitas tipe); berpandangan bahwa apabila keadaan pikiran merupakan sesuatu yang material, tetapi tidak behavioral, maka keadaan pikiran mungkin identik dengan keadaan internal otak.

(4) Fungsionalisme; memiliki tesis bahwa keadaan pikiran dicirikan dengan hubungan sebab-akibat dengan keadaan pikiran lain, serta dengan input indera dan output perilaku.

(5) Fisikalisme non-reduktif; menyoroti relasi  pikiran-raga dimana keadaan pikiran adalah keadaan fisik dan keadaan pikiran tidak dapat direduksi   menjadi   perilaku,   keadaan   otak,   atau   keadaan

(6) Emergentisme lemah; properti emergen berinteraksi secara kausal pada tingkatan yang lebih mendasar, sementara yang lain menyatakan bahwa properti tingkatan tinggi bergantung pada properti tingkatan rendah, tanpa interaksi sebab-akibat langsung.

(7) Materialisme eliminatif; berpandangan bahwa semua aspek psikologis pikiran manusia dapat direduksi menjadi neurosains

Sementara itu, aliran dalam monisme non-fisikalisme, yaitu:

(1) Idealisme; menyatakan bahwa dunia terdiri dari pikiran, isi pikiran, dan/atau kesadaran. Pendukung idealisme tidak menjelaskan bagaimana pikiran muncul dari tubuh.

(2) Monisme  netral; pandangan  metafisik  bahwa  pikiran  dan  raga fisik merupakan dua cara untuk mengorganisasi atau mendeskripsikan unsur yang sama yang bersifat netral. Dengan kata lain, aliran monisme ini menerima keberadaan substansi dasar yang bukan fisik maupun pikiran.

Aliran-Aliran Dualisme

Di lain sisi, terdapat pandangan yang meyakini bahwa keduanya riil, disebut dualisme. Aliran-aliran utama dualisme adalah sebagai berikut:

(1) Dualisme interaksionis (interaksionisme); bentuk dualisme pertama kali didukung oleh Descartes dalam tulisannya yang berjudul Meditations [dikenal dengan dualisme cartesian] yang berpandangan bahwa keadaan pikiran, seperti keyakinan dan hasrat, berinteraksi dengan keadaan fisik.

(2) Paralelisme psikofisik; pandangan bahwa pikiran dan raga tidak memengaruhi satu sama lain meski memunyai status ontologis yang berbeda. Properti-properti tersebut berjalan dalam jalur paralel [peristiwa pikiran berinteraksi dengan peristiwa pikiran, sedangkan peristiwa otak berinteraksi dengan peristiwa otak], serta interaksi yang tampak antara pikiran dan raga hanya ilusi.

(3) Okasionalisme; hubungan sebab-akibat antara peristiwa-peristiwa fisik, atau antara peristiwa fisik dengan pikiran, tidak sungguh merupakan sebab-akibat. Meskipun raga dan pikiran merupakan substansi yang berbeda, sebab (baik raga fisik maupun pikiran) berkaitan dengan akibat karena intervensi Tuhan di setiap peristiwa.

(4) Dualisme properti; pandangan  yang   berpandangan bahwa dunia ini hanya terdiri dari satu substansi fisik saja dan ada dua macam properti yang berbeda, yaitu properti fisik dan pikiran. Dengan kata lain, berdasarkan pandangan ini, properti pikiran yang non-fisik (seperti kepercayaan, hasrat dan emosi) menjadi bagian dari substansi fisik tertentu (misalnya otak). Ada beberapa varian dualisme properti, seperti emergentisme kuat, epifenomenalisme, fisikalisme non- reduktif, dan panpsikisme.

Tujuan Utama philosophy of mind

Dalam konteks ini, setiap aliran philosophy of mind menekankan pada mind-body problems, serta berupaya menyelesaikan persoalan tersebut dengan sudut pandang masing-masing. Mind- body problems terkait dengan penjelasan relasi antara pikiran [atau proses pikiran] dan raga [atau proses raga]. Tujuan utama para filsuf yang bergelut dalam bidang ini adalah menentukan kodrat pikiran dan keadaan/ proses pikiran, serta bagaimana pikiran dipengaruhi oleh raga, serta pikiran dapat mempengaruhi raga.

Mind-body relation juga terkait dengan dunia eksternal. Dalam artian, pengalaman persepsi [manusia] bergantung pada stimulus yang muncul dari dunia luar/eksternal ke sistem indera. Stimuli tersebut mengakibatkan perubahan pada keadaan pikiran kita, bahkan akhirnya menimbulkan sensasi pada diri kita. Bagaimana mungkin pengalaman di alam sadar muncul dari gumpalan materi abu-abu yang disertai oleh properti-properti elektrokimia? Masalah lain, misalnya, bagaimana sikap proporsional, misalnya kepercayaan dan keinginan, mengakibatkan neuron seseorang mengirimkan pesan (impuls) dan ototnya berkontraksi?

Terkait dengan hal ini, “qualia (pengalaman subjektif)” merupakan salah satu konsep penting dalam philosophy of mind yang mana terkait erat dengan kesadaran  subjektif.  Setiap  manusia  senantiasa menyadari dirinya sendiri saat mengalami suatu pengalaman‘. Studi tentang keadaan ini merupakan pembahasan mind-body problems yang mana merupakan prioritas utama dalam philosophy of mind modern; sebagaimana dipopulerkan oleh David Chalmers. Dalam konteks ini, Chalmers melanjutkan diskursus tersebut dalam subjek explanatory gap pada hard problem of consciousness.

Senada, Dalam sudut pandang filsafat, Antti Revonsuo dalam Consciousness mengungkapkan bahwa akar atau inti terdalam dari mind-body problem terkait erat dengan explanatory gap dan hard problem of consciousness. Jadi, persoalan pikiran-raga masih menjadi misteri, bahkan hingga era kontemporer ini. Hingga kini, para filsuf yang bergelut dalam philosophy of mind masih berupaya memecahkan problem tersebut, misalnya tercermin dalam diskursus dalam sejumlah jurnal internasional yang fokus pada pembahasan Philosophy of Mind. []

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Daftar Pustaka

Chalmers, David J., Philosophy of Mind: Classical and Contemporary Readings, New York: OxfordUP,

2002.

Jaegwon, Kim, Ted Honderich, dkk, Problems in the Philosophy of Mind, Oxford Companion to

Philosophy, Oxford: Oxford University Press, 1995.

Revonsuo, Antti, Consciousness: The Science of Subjectivity, Hove and New York: Psychology Press

Taylor & Francis Group.

 



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 − three =