Dalam konteks ini, untuk melacak awal mula perkembangan pemikiran modern, kita bisa mundur kembali ke abad 14 hingga 17. Di waktu itu Eropa memasuki babak baru dalam bidang kebudayaan, politik, dan pendidikan. Era itu disebut sebagai Renaissance di Perancis, Enlightenment di Inggris, dan Aufklarung di Jerman dengan satu definisi “kelahiran kembali” bagi kemanusiaan Eropa.

Setelah sekitar 1000 tahunan Eropa diperintah oleh dogmatisme gereja, riak-riak revolusi pencerahan mulai muncul dalam politik, humanisme, dan kosmologi. Tiga hal itu terepresentasi dalam revolusi Perancis sebagai puncak pencerahan di bidang politik, kemunculan slogan terkenal “sapere aude” (berani berpikir sendiri) dalam humanisme, dan revolusi Galilean serta Copernican dalam kosmologi.

Politik

Perubahan geopolitik Eropa bisa dilacak semenjak kejatuhan Konstantinopel ke tangan Turki Usmani tahun 1450 an (abad ke 15). Menyebabkan kemunduran konstitusi gerejawi dan memicu ekspansi besar-besaran ahli teks Yunani klasik ke seluruh Eropa. Pembacaan ulang teks Yunani tersebut menyebabkan diskursus baru bagi humanisme.

Langsung maupun tidak langsung, ide-ide kebebasan dalam humanisme lahir pasca kemunduran konstitusi gerejawi. Seperti dalam riak revolusi Lutheran abad 15 menolak pengakuan dosa berbayar bagi umat. Atau jauh dari masa itu di abad 18, Voltaire terang-terangan mengkritik dogmatisme gerejawi. Ia mempromosikan advokasi kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, serta pemisahan agama dan negara dalam pemerintahan.

Puncak ide-ide kebebasan tersebut terdapat dalam revolusi Perancis dengan semboyan liberte, egalite dan fraternite (kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan). Revolusi ini merombak absolutisme gereja dan monarki serta mendorong terciptanya Deklarasi HAM pertama di Perancis abad 18.

Manusia Renaisans

Manusia Renaisans adalah manusia yang baru. Dalam konteks ini, manusia yang kini mengutamakan rasio daripada dogma ilahiah. Representasinya dapat anda lihat dalam lukisan Leonardo Da Vinci berjudul Vitruvian Man di abad 15. Pria Vitruvian digambarkan dengan sangat sempurna.

Proporsi 2 tubuh manusia Vitruvian digambar secara bertumpuk dalam bidak persegi dan lingkaran sempurna. Kombinasi antara seni gambar yang simetris dan matematika menciptakan figur manusia yang proporsional. Hal ini merupakan kritik terhadap dogma penciptaan, bahwa manusia pada dirinya sendiri sebenarnya telah diciptakan sempurna.

Descartes di abad 16 menemukan inti kesempurnaan manusia itu adalah cogito. Cogito berarti “kesadaran”. Bagi Descartes, persepsi kita atas dunia bisa salah disebabkan berbagai prasangka misalnya prasangka dogmatis. Solusinya ialah meragukan segala prasangka, namun ketika semuanya diragukan terdapat satu hal yang tetap yaitu kesadaran kita akan diri.

Ilmu ukur dan Kosmologi Heliosentrisme

Diri atau the self atau ego menurut Descartes terbagi dalam dua bentuk yaitu res cogitans (diri dalam bentuk kesadaran) dan res extensa (diri dalam keluasan material). Bagi Descartes, keluasan material realitas selalu dapat diukur dengan menggunakan teori bilangan dan geometri.

Langsung maupun tidak langsung, perkembangan ilmu ukur akan selaras dengan perkembangan rasionalitas. Ruh Renaissance juga ditandai dengan perkembangan ilmu ukur yang berimbas pada Kosmologi. Perkembangan teori bilangan dan pembacaan kembali geometri Euclidean memicu eksplorasi antariksa dari para ahli astronomi Renaissance.

Diawali dengan Galileo yang menyempurnakan teleskop langit serta Copernicus yang menggunakan metode geometri dan bilangan untuk mengobservasi konstelasi bintang. Mereka sampai pada kesimpulan, bumi kita bukanlah pusat dari alam semesta. Hal itu berlawanan dengan dogma penciptaan, karena observasi ilmiah membuktikan bahwa bumilah yang bergerak mengelilingi matahari (Heliosentrisme).

Kesimpulan Immanuel Kant

Untuk menjawab pertanyaan, apakah renaisans itu. Immanuel Kant di abad 18 mengklaim semboyan “sapare aude” menjadi representasi utama situasi Renaissance atau era pencerahan. Kata sapare aude berasal dari bahasa latin yang berarti “berani berpikir sendiri”. Pasca situasi keterkurungan pikiran masyarakat oleh dogmatisme, renaisans membuka jaman baru, yaitu jaman rasio yang memungkinkan tiap manusia berani menggunakan akalnya sendiri.

 

Editor: Ahmed Zaranggi



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + 11 =