Biografi Plato

Sebagai guru.

Lahir: 427 SM

Konsep terkenal: Dunia ide dan recolection knowledge

Asal: Athena, Yunani

Biografi Aristoteles

Sebagai murid.

Lahir: 384 SM

Konsep terkenal: Pembedaan subtansi, aksidensi dan kajian empiris dalam taksonomi

Asal: Stagira, Yunani

Akademia

Pada sekitar 380-an SM setelah kematian Sokrates (guru dari Plato) didirikanlah pusat pembelajaran filsafat bernama “akademia”. Sebagai respons Plato terhadap persekusi dan hukuman mati terhadap gurunya, Plato bercita-cita mewujudkan polis yang rasional dengan memajukan pendidikan.

Nama akademia terinspirasi dari rimbun belukar akademus yang memayungi sekitar sekolah Plato. Akademia tidak mengajarkan kurikulum yang formal. Sistem ajar di sana lebih mengutamakan diskusi kelompok dan penyelesaian masalah bersama.

Di akademia, Plato bertemu dengan salah satu murid terbaiknya; Aristoteles. Aristoteles belajar di akademia selama kurang lebih dua dekade sebelum mendirikan sekolahnya sendiri; Lyceum. Semenjak belajar di akademia, Aristoteles dan murid lain telah terbiasa melakukan diskusi dan mengkaji sebuah masalah.

Inti Perdebatan

Dalam kajian mengenai realitas, Plato meyakini realitas sejati berada di dunia seberang. Dunia yang kita alami sekarang hanya tiruan dari semesta ide yang meletak dalam keabadian dan kepastian. Realitas atas bangku, meja, bunga selalu berubah-ubah, tetapi forma idea atas bangku, idea meja, idea bunga bersifat tetap dan abadi.

Aristoteles menyanggah gurunya mengenai prioritas idea. Baginya forma belum cukup bagi keutuhan realitas. Realitas membutuhkan kategori lain. Forma diartikan Aristoteles sebagai subtansi benda (inti idealistik dari benda). Misalnya subtansi gulungan tembakau adalah “rokok”. Namun rokok memiliki kategori lain yang Aristoteles sebut sebagai aksidensi rokok; meliputi kuantitas rokok, kualitas rokok, habitus rokok, rokok dalam waktu, dan seterusnya.

Recollection Knowledge

Mengenai pengetahuan, Plato meyakini sebuah proses yang ia sebut sebagai anamnesis. Anamnesis membuat kita mengingat kembali pengetahuan yang sebenarnya sudah kita ketahui sebelum dilahirkan. Misalnya pengetahuan mengenai operasi hitung telah secara inheren berada dalam diri kita. Demikian juga pengetahuan atas yang benar dan salah sudah terkandung dalam diri kita.

Aristoteles tidak sependapat dengan gurunya mengenai asal pengetahuan. Bagi Aristoteles, pengetahuan berasal dari berbagai proses antara lain; τεχνική (tekhne) diartikan sebagai teknik tertentu. Misalnya dalam aktivitas sederhana, dialog untuk ilmu-ilmu etis, kontemplatif untuk ilmu matematika, fisika dan seterusnya. Aristoteles juga mengembangkan draft kelas pengada/being bagi kajian realitas; pengada dibedakan berdasarkan kelas, ordo, familia dan seterusnya.

Corak Platonisme dan Aristotelian akan menjadi kiblat utama aliran-aliran filsafat di masa selanjutnya. Recollection knowledge dari Plato yang cenderung memusatkan kepada daya inheren pikiran akan dilanjutkan oleh Descartes dan para rasionalis. Sedangkan pengutamaan observasi empiris dari Aristoteles akan dilanjutkan oleh para filsuf empirisisme.

Perdebatan dalam filsafat merupakan hal yang wajar dilakukan bahkan perlu dilakukan sebagai inti dari aktivitas filsafat. Perdebatan guru terhadap murid dalam filsafat tidak dimaksudkan menyerang personal. Namun murid harus memberikan sanggahan bernas atas teori terdahulu dari gurunya.

 

Editor: Ahmed Zaranggi



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − three =