Emile Durkheim dalam karyanya “The Elementary Forms of the Religious Life”, menjelaskan tiga fase perkembangan profan dalam sejarah pemikiran manusia terhadap simbol-simbol agama, yaitu animisme, abstrak, dan modern. Ketiga fase ini merupakan proyeksi pemikiran Durkheim terkait ‘sosiologi’ yang dipengaruhi oleh Auguste Comte. Durkheim menolak berbagai penafsiran Comte terkait diskursus agama yang dikaji melalui pendekatan ilmiah. Dalam pandangan Durkheim, diskursus agama memiliki kaitan dengan nilai-nilai sosiologi. Sehingga, menurutnya, agama harus dikaji melalui pendekatan sosial, sebab sistem dan aturan agama terbentuk melalui tatanan sosial.

Tatanan sosial merupakan sesuatu fundamen dalam diskursus keagamaan. Oleh karena itu, mengkaji agama tanpa pendekatan sosial merupakan sebuah kesalahan. Teori tiga fase yang ditawarkan oleh Comte tidak ditolak secara utuh dalam pandangan Durkheim. Sosiolog Prancis tersebut melakukan modifikasi terhadap teori Comte melalui pendekatan sosial dengan tujuan mengetahui perkembangan yang profan dalam sejarah pemikiran masyarakat dahulu hingga sekarang. Durkheim menyadari perkembangan profan dalam paradigma masyarakat beragama dapat dikaji melalui teori ini, sehingga dapat diketahui perbedaan antara yang sakral dan profan melalui pendekatan tiga fase tersebut. Berikut ini tiga fase perkembangan profan, yakni fase animisme, fase abstrak, dan fase modern. 

Fase Animisme, tahap animisme merupakan perkembangan awal paradigma masyarakat beragama. Pada tahap ini, manusia meyakini dan mengetahui adanya entitas riil/nyata bersifat adikodrati di balik dirinya yang mengatur berbagai sistem kehidupan manusia. Masyarakat beragama mengetahui adanya entitas riil melalui interaksi antara dirinya dengan alam. Proses interaksi tersebut, mengkonstruksi pemikiran masyarakat dahulu bahwa alam memiliki jiwa-jiwa yang mengatur sistem kehidupannya di realitas. Adanya pandangan tersebut, dilandasi pada tinggi daya imajinasi manusia dalam mempersepsi segala sesuatu pada realitas eksternal. Dahulu, alam merupakan sesuatu yang diagungkan, sebab alam dapat memberikan kesengsaraan luar biasa [kematian] bagi kehidupan manusia, seperti adanya penyembahan pada batu-batuan, pepohonan, dan beberapa benda lainnya yang dipandang sakral. 

Manusia menjaga alam dengan membentuk berbagai sistem dengan tujuan menghindari kesengsaraan tersebut. Pengetahuan manusia terhadap sesuatu yang sakral telah merefleksikan pemikirannya bahwa ada banyak entitas -pemikiran politheisme- yang mengatur benda-benda di alam. Substansi yang mengatur segala sesuatu bersifat immateri. Manusia menyembah dan memandang sakral suatu benda berdasarkan substansi immateri yang bersemayam pada benda-benda tersebut. Contohnya, manusia memuja pegunungan, dikarenakan mereka meminta pertolongan kepada substansi immateri mengenai keberkahan dan keselamatan di dunia. Dengan demikian fase animisme terbentuk melalui daya persepsi manusia terhadap alam, akibat tingginya daya imajinasi yang mempengaruhi setiap sikap, pemikiran, dan rasa masyarakat beragama dalam bingkai sosial. 

Fase Abstrak, fase ini merupakan masa transisi dari fase animisme dalam pandangan Emile Durkheim. Pada fase ini kekuasaan adikodrati digantikan dengan konsep-konsep abstrak yang mempersatukan berbagai entitas di realitas- dari politeisme menuju monoteisme. Masyarakat beragama memahami bahwa ada satu sumber entitas nyata di realitas. Pengetahuan terhadap sumber entitas didapatkan melalui pendekatan filosofis -berlandaskan aqliyah- dengan meragukan segala entitas-entitas materi di realitas. 

Sikap ragu terhadap entitas-entitas tersebut, mendorong masyarakat beragama untuk mencari sumber entitas realitas. Proses pencarian sumber entitas ini merefleksikan pemikiran masyarakat beragama untuk memaknai hidup melalui pendekatan filosofis. Semakin berfilosofis manusia, maka semakin pengetahuannya untuk mengetahui sumber entitas secara objektif. Durkheim menjelaskan bahwa fase abstrak merupakan tahap keemasaan, sebab setiap manusia dapat mencapai nilai kebenaran secara objektif. Pencapaian kebenaran secara objektif memperkuat paradigma masyarakat beragama untuk bertindak dalam bingkai sosial. 

Fase Modern, fase ini merupakan perkembangan terakhir dari dua fase sebelumnya, yaitu fase animisme dan abstrak. Pada fase ini, paradigma masyarakat beragama dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan sains sehingga segala bentuk pengetahuan terhadap agama diukur secara ilmiah. Pendekatan ilmiah menekankan daya persepsi manusia yang melibatkan kekuatan sensoris dan kekuatan alam bawah sadar. Kedua kekuatan ini menciptakan pengetahuan partikular dalam diri manusia, sehingga tidak ada kebenaran yang ditemukan. Implikasinya, manusia tidak dapat mencapai sumber entitas di realitas. Akibatnya, manusia tidak dapat menyempurnakan dirinya. 

Di samping mempengaruhi paradigma masyarakat beragama, daya persepsi juga mempengaruhi sikap masyarakat beragama di realitas, seperti bersikap inklusif dan membatasi diri terhadap keyakinan di luarnya. Sikap inklusif dan membatasi diri mengimplikasikan adanya tindak fanatik menyebabkan tingginya kasus kekerasan, diskriminasi, dan membenci satu kepercayaan dengan kepercayaan lainnya di era modernitas. 

Segala sikap dan tindak masyarakat beragama dipengaruhi oleh daya persepsinya dengan melibatkan kekuatan imajinasinya. Semakin tinggi daya persepsi manusia, maka semakin tinggi tingkat imajinasinya. Daya imajinasi mempengaruhi ketidaktahuan manusia terhadap realitas, disebabkan tidak adanya kesadaran dalam bereksistensi. Dengan demikian, fase modern telah mempengaruhi paradigma masyarakat beragama dalam bersikap, khususnya meningkatkan sikap profan di realitas. 

Teori tiga fase dalam pandangan Durkheim ini menjelaskan perkembangan profan dalam paradigma masyarakat beragama telah ada dalam kehidupan masyarakat primitif. Pada fase animisme, Durkheim sependapat dengan Comte bahwa animisme merupakan masa kekanak-kanakkan dalam perkembangan keagamaan masyarakat primitif, sebab pada fase ini merupakan titik awal bersatunya pemikiran masyarakat dengan realitas. 

 

Referensi:

Emile Durkheim. The Elementary Forms of the Religious Life.

Carl Gustav Jung. Memories, Dream, and Reflection.

Pandanwangi. Humanisme dan Sains dalam Strategi Kebudayaan.

Budi Hardiman. Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern.

 

Penulis: Nurul Khair

Editor: Wa Ode Zainab ZT



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × one =