Absurditas/absurdisme memandang kehidupan manusia hanya suatu upaya yang akan menemui suatu kegagalan ketika mencari suatu makna kehidupan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencari makna kehidupan hanya berupa sekumpulan gagasan dan tindakan yang absurd. Sehingga tidak memiliki nilai yang begitu penting untuk membawa nilai-nilai tertentu pada kehidupan manusia.

Upaya terbesar manusia untuk mencari makna kehidupan hanya akan mendatangkan alienasi. Kehidupan hanya akan memiliki makna sesuai dengan apa yang manusia perjuangkan. Momentum manusia ketika hidup di dalam dunia tidak mendapatkan penjelasan. Bahkan hanya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang diselimuti oleh lika-liku kehidupan di dunia. Absurditas menciptakan konfrontasi dunia irasional dan perasaan rindu atas kejelasan yang konkret untuk mendapatkan makna kehidupan.

Albert Camus memberikan kita suatu upaya pembebasan untuk mencari makna dengan segala kekurangan manusia untuk memahami dan mencari makna itu sendiri. Kontradiksi ini akhirnya memberikan manusia pilihan untuk hidup dengan berbagai macam risiko yang dapat terjadi dan tidak terduga.

Kematian menjadi salah satu konsekuensi yang dapat terjadi tanpa terduga dan manusia dapat kehilangan kemampuan untuk melanjutkan pencarian makna. Ketika kematian datang untuk mengubur semua pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab. Semua yang dilakukan oleh manusia pada akhirnya menjadi sia-sia. Dan ia terpaksa untuk melanjutkan kehidupan dengan tindakan yang abdsurd agar bertahan pada konflik sosial dan disintegrasi yang semakin parah.

Pembebasan akhirnya membawa manusia untuk melewati jalan yang sebenernya hanya membawa manusia memutari siklus yang sama dan tidak dapat dituntaskan. Konsep-konsep ini akan berbanding terbalik ketika manusia mempelajari suatu teori melalui buku-buku yang akan memberikan kesimpulan. Namun, hasil dari suatu pembacaan tersebut akan memberikan manusia upaya peniruan dan siklus yang berulang.

John Wick sebagai suatu karakter fiksi menggambarkan alegori kehidupan yang berupaya untuk mencari makna, namun dibatasi oleh hegemoni yang menekan dan harus berjalan sesuai dengan ide-ide serta gagasan yang sudah ditentukan. High Table sebagai hegemoni memberikan fenomena yang menarik ketika mereka berupaya menjadi lembaga yang memberikan pembatasan dan aturan yang tidak sesuai dengan hakikat manusia sebagai manusia yang bebas.

Absurditas juga digambarkan oleh manusia sebagai homo faber yang berupaya untuk menciptakan alat-alat dan komoditi, manusia digambarkan sebagai pekerja yang terikat pada konsep-konsep tertentu yang ditetapkan oleh hegemoni sosial/lembaga. John Wick melakukan upaya sebagai manusia untuk mencari keadilan atas suatu komoditi yaitu, mobil dan anjing. Ia melakukan tindakan yang absurd untuk membalaskan dan melampiaskan amarah pada orang-orang yang merenggut kebahagiaan yang sudah ditemukan oleh John Wick.

Manusia sebagai mahluk yang menjalani kehidupan yang absurd rela melakukan konflik antara pikiran dan relitas yang di mana ia memiliki gagasan-gagasan tersendiri. Permasalahan yang berlarut tersebut akhirnya membawa John Wick pada pertentangan dengan hegemoni (High Table). Konflik yang tercerminkan melalui alegori John Wick tersebut sangat kompleks, ia berupaya memberikan manusia pemahaman atas tindakan manusia yang tidak selalu komprehensif dan terbatas pada titik tolak yang kontradiktif.

John Wick mengetahui kebenaran hanya sebatas pembalasan dan perjuangan untuk mendapatkan keadilan atas komoditi yang direbut. Nilai komoditi tersebut tidak sebanding dengan risiko kematian yang akan dihadapi oleh dia, kematian datang dan menghantui John Wick ketika ia melakukan pemberontakan terhadap ketentuan dan batasan yang sudah diciptakan oleh High Table. Pada akhirnya John Wick menemukan bahwa kehidupan yang ia jalani harus terus dijalani.

Absuditas tidak hanya sebatas pada kontradiksi antara pikiran, kenyataan hidup dan idealisme yang dipegang oleh seseorang. John Wick ingin menemukan kebahagiaan yang menurutnya sesuai dengan pikiran dan ego, namun ia melupakan bahwa semaki mencari kebahagiaan yang partikular ia hanya tidak akan bisa menikmati kehidupan yang sudah tersedia. Untuk mendapatkan makna dan pembebasan ala John Wick kita tidak bisa terus menerus untuk mengejar standar tentang suatu idealisme yang sudah ada di masyarakat. Ketika selalu mengejar batasan yang sebenarnya tidak memberikan makna dan hanya berupaya untuk memenuhi tuntutan hegemoni, sebagai manusia kita hanya sebatas menjalani aturan-aturan yang dibuat manusia itu sendiri.

Penyesuaian itu akan membuang energi dan terjebak pada sirkulasi totalitarian masyarakat yang mengikat kebebasan manusia. Kita hanya bisa menjalani kehidupan yang tersedia dan berupaya untuk menjaga diri kita dari tekanan yang memberikan rasa tidak nyaman. Agar dapat menikmati kebahagiaan yang semua. Mitos sisifus akhirnya memberikan kita suatu siklus yang seimbang antara kebahagiaan, kesedihan dan absurditas yang tidak memberikan perkembangan yang tetap sama pada suatu titik.

Kita harus membayangkan bahwa sisifus bahagia dalam menjalani kehidupannya, begitu juga ketika kita menjalani kehidupan yang absurd ini. Tujuan akhir yang pasti akan datang adalah kematian dan John Wick menemukan. Bahwa setiap orang di sekitarnya menemui kematian atas pilihan hidup yang absurd. Juga tidak memberikan pembebasan yang mutlak untuk gairah kehidupan yang penuh kekecewaan. Kehidupan hanya bisa dimaknai dengan kebenaran yang hanya bisa diciptakan oleh manusia walaupun terkadang tidak terhubung dengan realitas yang konkret.

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Sumber:

Camus, Alber. 2018. Pemberontak. Yogyakarta: Narasi;

Bertens, K, Jonahis Ohoitimur, Mikhael Dua. 2018. Pengatar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − one =