Asal Mula Tumbuhnya Cinta

Berbagai macam karya sastra pada masa pergerakan nasional mengangkat tema “cinta pada pandangan pertama”. Sebagai contoh, Swan Pen dalam novelnya yang berjudul Melati Van Agam membuka ceritanya dengan sebuah pantun yang dapat menerangkan bahwa alasan cinta bisa lahir hanya dari tatapan mata.

“Dari mana datangnja linta

Dari sawah toeroen kepadi

Dari mana datangnja tjinta

Dari mata toeroen dihati” (Pen, 1941:5).

Kemudian, seorang penulis peranakan Tionghoa bernama Thio Tjin Boen (2001:7-9) dalam novel Cerita Nyai Soemirah atau Peruntungan Manusia Jilid 1 menggambarkan proses terlahirnya cinta pada pandangan pertama. Thio Tjin Boen dalam novelnya itu mengatakan, “Kalau dibilang orang punya mata ada punya kekuatan penarik”. Kalimat tersebut merupakan pengantar dari cerita tokoh Soemirah dan Bi Liang yang tidak sengaja bertemu di sebuah hajatan seorang kopral oppas di Sumedang. Sejak kedatangan Soemirah yang turut bergabung ke tengah-tengah para tamu, Bi Liang tidak mau melepaskan pandangannya pada Soemirah yang dinilainya sangat cantik. Soemirah merasa gelisah karena sejak lama dia merasakan ada yang memperhatikan dirinya. Lalu, gadis itu melayangkan pandangan ke sekitar. Dari situlah Soemirah dan Bi Liang beradu tatap. Pertemuan pertama tersebut menjadi awal kisah percintaan mereka.

Faktor Pendidikan

Sekolah merupakan tempat mutasi pola pikir dan perilaku menuju modernitas bagi orang-orang pribumi yang berusaha menyelami cara berpikir Barat, terutama golongan priyayi dan kalangan atas karena merekalah yang pertama kali mendapat kesempatan belajar di sekolah-sekolah modern dan kemudian menyebar ke semua kalangan pribumi (Lombard, 2005:110). Dengan dibukanya sekolah-sekolah bagi pribumi, maka antara perempuan dan lelaki mulai bisa bercampur gaul secara akrab dan bebas. Kesempatan untuk menemukan pasangan tanpa otoritas orang tua ataupun keluarga menjadi lebih terbuka.

Tokoh Pergerakan

Salah satu tokoh pergerakan nasional yang menemukan cintanya melalui proses pertemanan adalah Soetomo dengan Everdina Broering. Semua bermula ketika Everdina menjadi suster rumah sakit zending di Blora pada tahun 1917. Soetomo, sebagai seorang dokter yang melakukan praktik di sana, sering melihat Everdina menampakkan wajah murung. Benih-benih cinta tumbuh dalam persahabatan mereka karena Soetomo mampu menghibur kesedihan Everdina.

Sikap Everdina yang melarang suaminya melakukan gelijkstelling dengan bangsa Eropa memiliki makna bahwa Everdina tidak mau suaminya melanggar cita-cita perjuangan bumiputra untuk melawan kolonialisme. Apabila Soetomo sampai mempersamakan hak-haknya dengan bangsa Eropa, artinya sama saja dengan melanggengkan praktik rasialisme di Hindia Belanda.

Alasan-Alasan Filosofis Mencintai

Proses mencintai serta alasan mencintai bagi para pemuda masa pergerakan tidak hanya muncul karena ketertarikan secara fisik dan emosional antar-pasangan. Alasan mencintai muncul pula dalam bingkai politik. Salah satunya adalah menjalin percintaan dengan bangsa kulit putih dengan alasan untuk mengimbangi keunggulan bangsa kulit putih. Menaklukkan hati seorang kulit putih dimaknai sebagai sebuah kemenangan sebab bangsa yang dijajah mampu berdiri sejajar dengan bangsa penjajah.

Cinta tidak lagi dilihat dari segi calon pasangan atas pertimbangan asal-usul keturunan, melainkan kecocokan dari segi kepribadian dan pola pikir.

Semaoen memperjelas salah satu alasan manusia mencintai manusia lainnya, yaitu karena kecocokan tabiat dan menganalogikan cinta sejati dengan “bercermin”, melalui ungkapan berikut:

“Seorang lelaki hanya akan betul-betul mencintai seorang perempuan jika watak, jiwa, dan pikiran si perempuan memiliki kecocokan dengan si lelaki. Begitu pula sebaliknya seorang perempuan terhadap seorang lelaki. Cinta sejati adalah jika ia melihat dirinya sendiri dalam diri orang lain.” (Semaoen, 2000:62).

 

Editor: Luthfi Baihaqi Riziq

Sumber:

Indriani, Ismi. 2021. Mencari Cinta Pada Masa Pergerakan Nasional. Jurnal Sejarah Vol.4(I), 2021. https://jurnalsejarah.org/index.php/js/article/view/4.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + 18 =