Mengunjungi Mega Kuningan City di Jakarta Selatan mengingatkan kita pada nuansa Silicon Valley di Amerika ataupun Shenzhen Valley di Tiongkok. Terdapat nuansa kemajuan di kota modern seperti gedung-gedung pencakar langit, orang-orang dengan pakaian yang fashionable, banyaknya pusat perbelanjaan dan hiburan.

Namun, terdapat satu hal yang khas dari Selatan Jakarta. Sejak beberapa tahun terakhir daerah Jakarta Selatan dicirikan dengan kebahasaan anak muda yang unik menggunakan perpaduan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan dialek Betawi.

Bayangkan Zoners adalah seorang rural yang datang dari tempat jauh dan harus menemukan alamat di wilayah Jakarta Selatan. Kemungkinan dramatisnya seorang muda akan memberi tahu Zoners arah jalan dengan gaya bahasa demikian.

“IMO (in my opinion) literally mas staycation aja jalan lurus, saya nggak bisa nganter karena saya lagi multitasking. Then saya prefer mas nanya ke Police yang emang udah tugasnya cause kalau kita terlalu banyak spill the tea, kita akan jadi friend with benefit.”

*Disclaimer; ilustrasi di atas dibuat dengan efek hiperbola

Terdengar sangat kreatif sekali bukan Zoners? Terdapat banyak kosakata baru yang belum kita ketahui artinya dalam kebahasaan gaul anak muda Jaksel. Namun munculnya kosakata baru dalam bahasa bukanlah hal yang mengejutkan. Pada beberapa tahun terakhir saja, KBBI telah diisi oleh banyak kosa kata baru seperti kata “pemengaruh”, “tetikus”, “pranala”, “senandika”, dan masih banyak lagi.

Hal ini menunjukkan bahwa peradaban manusia secara simultan selalu menciptakan kebaruan di dalam bahasa. Tanpa disadari, muncul berbagai kata baru dan pergeseran beberapa arti kata maupun pelafalan dalam kesejarahan. Dan hal ini telah dikaji jauh-jauh hari oleh seorang filsuf bahasa dari Amerika bernama Noam Chomsky.

Ia meyakini bahwa bahasa tidak hanya tercipta dari kategorisasi hal-hal empiris yang jumlahnya amat banyak dan tak berkesudahan namun bahasa sesungguhnya juga diciptakan dari daya kreativitas manusia. Kreativitas tersebut merupakan kemampuan bawaan yang dimiliki manusia. Chomsky menyebutnya sebagai “struktur dalam” yang ideal. Struktur tersebut membuat kita mengetahui cara kerja gramatika bahasa yang Chomsky sebut sebagai gramatika universal (berlaku bagi semua orang). 

Hal ini dapat dilihat pada anak-anak yang selalu akan mempelajari bahasa dari urutan yang sama mulai dari mempelajari bunyi, mempelajari kata, dan terakhir mempelajari kalimat. Dengan perkembangan kognitif manusia dari masa ke masa, maka urutan eksplorasi bahasa yang kreatif juga akan terus berkembang. Hal inilah yang menyebabkan kosa kata baru muncul di orang-orang muda, karena orang muda menciptakan eksplorasi kognitif yang baru. Artinya, konvensi bahasa tidak akan berhenti selagi kreativitas manusia masih terus berkembang.

Perkembangan bahasa juga ditengarai oleh kondisi sosial dan budaya. Roland Barthes, seorang filsuf bahasa terkenal dari Prancis meyakini bahwa kata dan kebahasaan tidak semata-mata tercipta dari pembacaan ujaran, namun sesungguhnya tercipta dari proses budaya dan sosial/kemasyarakatan.

Tanda bahasa bagi Barthes memiliki dua sifat, yang pertama tanda bahasa yang sesuai atau diturunkan dari tanda empirisnya di dunia nyata (dalam hal ini konteks sosial). Dan kedua tanda bahasa yang diturunkan dari interpretasi subjek (dalam hal ini proses membudaya dari seorang penutur bahasa).

Maka fenomena bahasa Jaksel merupakan fenomena sosial dan budaya yang biasa. Apabila seorang muda disana mengatakan ujaran “literally” yang sepadan dengan kata “maksud” dalam bahasa Indonesia baku, sesungguhnya hal ini sesuai dengan konteks sosial Jakarta Selatan yang lekat dengan kondisi sosial bilingual dan didominasi masyarakat menengah ke atas.

Apabila seorang muda di Jaksel mengatakan ujaran “trust issue” yang sepadan dengan kata “keyakinan” dalam bahasa Indonesia baku, sebenarnya hal ini diilhami dari interpretasi subjektif orang-orang muda di sana untuk mendaku makna “keyakinan” dalam ujaran dalam kebudayaan sehari-hari.

Lebih lanjut mengenai kemunculan budaya Jaksel juga dipengaruhi oleh perkembangan peradaban diantaranya pengaruh era industri 4.0 menjelang era industri 5.0. Di era ini kemudahan penyebaran informasi dan koneksi komunikasi membuat batas teritorial menjadi kabur. Interaksi budaya masyarakat melampaui batas-batas wilayah, dan budaya bertransformasi menjadi satu kesatuan yang masif.

Dalam keadaan seperti itu Francis Fukuyama seorang filsuf politik kenamaan Amerika Serikat mempostulatkan sebuah tegangan yang ia yakini akan menjadi ujung dari kesejarahan. Fukuyama, menyebut tegangan tersebut sebagai tegangan Megalothymia melawan Isothymia.

Kebersatuan budaya mempersyaratkan tiap orang untuk menjadi sama dengan dalih persamaan akan membuat kita dihargai. Eskalasi kultural masyarakat industri 4.0 mengharuskan orang menggunakan lebih dari satu bahasa, presentase jumlah like yang banyak dalam akun media sosial, dan penguasaan alat-alat teknologi.

Inilah yang Fukuyama maksud sebagai Megalothymia; yaitu terdapat standar agung di balik kemasyarakatan yang membuat kita harus memiliki martabat kawanan. Daya Megalothymia terepresentasi juga dalam budaya konsumerisme yang membuat orang-orang metropolis terus menerus mengkonsumsi segala produk yang Fukuyama sebut sebagai “mundaene consumtion“(konsumsi yang itu-itu saja) berkisar pada produk-produk barat dengan segala nuansa kemajuannya; karya seni yang berkiblat ke Hollywood, bahasa yang didominasi bahasa barat, dan mentalitas barat pula.

Kemudian ketika orang telah merasa sama, justru akan timbul sebuah penegasan identitas diri pribadi yang Fukuyama sebut sebagai Isothymia. Ketika segala nilai martabat diatur oleh keumuman megalothymia, tiap individu akan berusaha menemukan nilai identitas nya sendiri.

Kita tidak bisa mengkritisi budaya Jaksel sebagai krisis budaya, karena secara demografis kota Jakarta memang berisikan masyarakat multi etnis. Dan dalam tegangan seperti itulah orang-orang Jaksel akan menegaskan identitas diri mereka yang khas dan tidak ditemukan di wilayah lain.

Apakah budaya Jaksel merupakan bentuk krisis identitas ataukah secara paradoksal budaya Jaksel merupakan bentuk evolusi budaya baru? Yang jelas, kita tidak bisa mencegah akulturasi budaya dan peleburannya. Jika Fukuyama melihat tegangan tadi sebagai sebuah akhir, kita bisa membaliknya menjadi sebuah awal bagi evolusi budaya.

 

Editor: Wa Ode Zainab Z.T.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

One thought on “Analisis Filsafat Dalam Bahasa Gaul Jaksel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 2 =