Permasalahan dalam kehidupan merupakan salah satu hal mendasar yang tidak mungkin bisa terhindarkan. Permasalahan itu hadir di mana saja. Bagai sebuah ketidakpastian, permasalahan hidup menjadi sebuah hal yang tidak mampu diprediksi kedatangannya. Siap atau tidak siap, permasalahan hidup selalu menanti untuk muncul begitu saja dalam kehidupan manusia. Ketidakpastian ini menjadi lebih mengerikan tatkala permasalahan hidup yang dihadapi tidak jarang membuat manusia mengalami ketakutan. Berikutnya akan mengulas tips jalan hidup berupa ataraxia dari Yunani Kuno.

Ketakutan – ketakutan yang dialami ketika menghadapi sebuah permasalahan merupakan sebuah respon manusiawi dari manusia yang memiliki dimensi emosional. Ketakutan menjadi alarm alami yang dimiliki manusia untuk memperingatkan jika ia berada dalam situasi yang berbahaya dan tidak baik-baik saja. Akan tetapi, apa yang terjadi dijaman sekarang adalah lebih dari itu. Ketakutan itu berubah menjadi semakin besar dan menyebabkan banyak hal negatif lainnya seperti khawatir berlebihan, kecemasan hingga depresi. Permasalahan hidup tidak jarang membuat manusia menjadi tidak berdaya.

Tips Ataraxia dalam Hidup

Realitas ini lantas memunculkan sebuah pertanyaan reflektif pada diri manusia itu sendiri. Adakah cara untuk mengatasi ketakutan yang berlebihan ini?

Pertanyaan ini telah coba dijawab beribu-ribu tahun yang lalu oleh banyak orang. Salah satunya oleh Epikuros dan Epitektus. Mereka merupakan dua orang filsuf yang hidup di zaman Yunani kuno. Meski keduanya memiliki aliran filsafat yang berbeda, namun tidak jarang pula terdapat kesamaan dalam filsafat yang mereka Yakini. Berbeda dari pemahaman kita tentang filsafat jaman sekarang, filsafat dijaman kedua orang ini memiliki makna yang sungguh berbeda. Alih – alih menganggap filsafat sebagai ilmu yang sangat abstrak yang bermain hanya dalam alam pikir, filsafat dijaman Epikuros dan Epitektus adalah sebuah jalan kehidupan. Filsafat tidak hanya sebuah abstraksi melainkan sebuah hal yang dihidupi. Dalam hal ini, kedua filsuf ini pun menawarkan sebuah pemikiran yang membantu manusia menghadapi permasalahan hidupnya. Sebuah pemikiran yang bernama Ataraxia.

Ataraxia merupakan kata dalam bahasa Yunani yang apabila diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia maka dapat diartikan sebagai “ketiadaan masalah”. Ataraxia menjadi sikap ideal yang ada pada prajurit tempur dijaman Yunani di jaman dahulu. Kata ataraxia pada saat ini juga diartikan sebagai sikap “tranquility” atau sebuah sikap yang tenang terhadap apapun yang terjadi. Ketiadaan atau absennya masalah merupakan jalan yang ditawarkan oleh kedua filsuf untuk membantu manusia keluar dari ketakutannya akan permasalahan hidup yang dialami.

Meniadakan masalah bukanlah berarti menjadi apatis ketika masalah itu datang dalam kehidupan. Bukan pula menekan perasaan emosional yang dialami ketika berhadapkan dengan permasalahan itu. Jalan Ataraxia mengajak manusia untuk lebih jauh menarik diri menuju saat sebelum manusia merespon permasalahan yang dihadapi. Ataraxia menjadi jalan dimana manusia belajar untuk melihat kembali bagaimana pemberian nilai tentang apa yang dialami akan menentukan emosi yang akan dialami manusia.

Menilai Kehidupan Secara Netral

Lewat jalan ataraxia, manusia diajak untuk pertama-tama melihat sebuah kejadian dalam kehidupan pada awalnya adalah tanpa nilai. Baik dan buruk, sebuah keuntungan atau permasalahan adalah bukan terdapat dari peristiwa itu sendiri tetapi justru ditentukan lewat bagaimana manusia membuat penilaian tentang peristiwa itu. Sebuah contoh sederhana adalah ketika kegagalan dalam belajar bisa menjadi sebuah permasalahan ketika manusia menganggap kegagalan itu adalah sebuah tanda bahwa manusia tidak cukup baik untuk mengerti banyak hal. Kegagalan adalah tanda manusia sudah tidak mampu lagi untuk berkembang. Akan tetapi, jika penilaian tentang kegagalan itu diubah maka kegagalan bisa dilihat bukan sebuah permasalahan melainkan kewajaran sebab manusia memang terkadang menemui kegagalan dalam hidupnya dan akan sangat mungkin bisa belajar sesuatu dari kegagalan itu. Ataraxia menawarkan cara pandang yang apa adanya terhadap apa yang dialami manusia. Sebab nyatanya, kerapkali apa yang dialami merupakan hal yang sangat wajar untuk terjadi dalam kehidupan.

Pada akhirnya, manusia dapat menyadari jika Ataraxia menjadi sebuah jalan “meniadakan masalah” dengan cara pertama-tama berpikir secara jernih dalam melihat peristiwa yang kita alami dan menjadi jalan yang membuat manusia belajar lagi untuk memberikan nilai pada setiap peristiwa kehidupan yang ia alami. Keuntungan atau permasalahan bukan terdapat pada peristiwa itu melainkan tergantung bagaimana manusia menilainya.

Editor: Ahmed Zaranggi

Referensi:

Salje, L., 2021. Depression, Ataraxia, and the Pig. Australasian Journal of Philosophy, pp.1-16.

Wibowo, A.S., 2019. Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme. PT Kanisius.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 2 =