Citayam Fashion Week (CFW) menjadi topik perbincangan utama di sosial media beberapa waktu belakangan ini. Kegiatan yang dilakukan di area SCBD Jakarta ini diinisiasi oleh sekelompok remaja; yang kebanyakan berasal dari kota satelit DKI Jakarta seperti Depok dan Bekasi. Fenomena ini menjadi viral pasca beberapa konten sosial media, utamanya di Tiktok. Mereka meliput kegiatan ini dengan memunculkan beberapa “tokoh” seperti Roy, Jeje, Bonge dan Kurma. Para tokoh CFW ini pun kemudian semakin sering diundang ke beberapa program baik di sosial media maupun televisi.

Namun, fenomena CFW yang merupakan wujud kebebasan berekspresi ini mendapatkan rintangannya ketika CFW “diakuisisi” oleh kelas masyarakat yang berbeda dari mereka. Dalam beberapa hari terakhir, CFW justru didominasi oleh kelompok masyarakat kelas atas sebagai sarana untuk modelling, content creator. Bahkan tajuk “Citayam Fashion Week” diajukan hak patennya ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM oleh influencer Baim Wong dan Paula Verhoeven.

Hal ini menimbulkan kontroversi karena CFW yang diinisiasi oleh remaja yang kebanyakan berasal dari kelas masyarakat menengah ke bawah justru direbut oleh kelas masyarakat atas. Fenomena fashion ini dapat kita analisis melalui pemikiran Karl Marx tentang pertentangan antar kelas sosial di dalam masyarakat.

Gagasan Karl Marx

Salah satu gagasan utama dalam pemikiran Marx adalah bahwa sejarah manusia merupakan sejarah pertentangan antar kelas. Dimana dalam pertentangan ini terdapat dua kubu, yaitu kubu kelas masyarakat borjuis (pemilik modal) dengan kubu kelas masyarakat proletar. Gagasan ini kemudian dipertegas oleh Marx dalam sebuah teori konflik sosial.

Konflik adalah satu kepastian dalam kehidupan sosial di dalam masyarakat. Konflik merupakan gejala sosial yang bersifat inheren sehingga akan selalu ada kapanpun dan dimanapun dalam bentuk apa saja. Dalam pandangan Marx, konflik sosial yang ada di dalam masyarakat terjadi akibat perebutan aset bernilai sosial-ekonomis maupun sosial-politis oleh kelas-kelas sosial.

Dalam pemikiran Marx, secara ekonomi, manusia terbagi dan dikelompokkan berdasarkan hak milik atau kepemilikan properti pribadi. Mereka yang memiliki properti pribadi lebih banyak dapat digolongkan ke dalam kelas masyarakat atas, sementara yang tidak dapat digolongkan ke dalam kelas masyarakat bawah.

Marx kemudian menegaskan pemikirannya tentang pertentangan antar kelas sosial dengan menyebutkan bahwa masyarakat sejatinya adalah arena pertentangan akibat tak terelakannya konflik antar kelas-kelas masyarakat. Dalam hal ini, negara dan hukum dipandang sebagai alat pemaksaan kehendak kelas penguasa untuk mempertahakan hak milik pribadi. (Poloma, 2010)

Pertarungan Kelas Sosial

Namun, karena kelas masyarakat borjuis memiliki sumber daya baik sosial, ekonomi, maupun politik, maka kelas proletar adalah pihak yang “kalah” dalam konflik. Kelas proletar cenderung tidak memiliki aset bernilai. Hamersma (1990) menyebutkan bahwa dalam analisis Marx tentang konflik sosial ditemukan hubungan erat antara kebahagiaan, kekayaan, milik pribadi, dan kerja. Kerja itu segi subjektif dan hak milik itu segi objektif. Namun, banyak orang yang tidak memiliki hasil kerjanya sendiri. Dalam masyarakat ada perbedaan besar antara mereka yang bekerja namun tidak memiliki dengan mereka yang tidak bekerja namun memiliki. Hal ini disebut sebagai dialektika alienasi.

Lebih lanjut, Marx dalam Budi Hardiman (2018) menyebutkan bahwa manusia menjadi teralienasi ketika kehilangan kebebasannya akibat institusi hak milik pribadi atas alat produksi. Dengan kehilangan kebebasannya, maka di situlah terjadi penindasan yang dilakukan antara pemilik modal dan alat produksi kepada kelas proletar.

Melihat CFW dengan Teori Marx

Jika pemikiran Marx ini kita kontekstualisasikan dalam fenomena CFW maka kita dapat melihat bahwa baik secara langsung maupun tidak, terjadi pertarungan antar kelas sosial. Kelas masyarakat menengah ke bawah yang menjadi inisiator dari CFW itu sendiri hanya berupaya mengeskpresikan kebebasannya di ruang publik yang disediakan oleh pemerintah. Namun, upaya kebebasan tersebut direbut oleh kelas masyarakat atas dengan melakukan akuisisi terhadap CFW.

Masyarakat kelas atas yang memiliki sumber daya yang lebih banyak dan mapan seperti modal sosial dan ekonomi dibandingkan masyarakat kelas menengah ke bawah ini kemudian mendapatkan exposure dari kegiatan CFW untuk kepentingan pribadi ataupun kelompoknya. Hal ini menyebabkan para remaja “asli” CFW teralienasi dari kebebasannya akibat tidak memiliki sumber daya yang sama dengan masyarakat kelas atas tersebut.

CFW yang dapat dipandang sebagai aset yang memiliki nilai sosial-ekonomis dan sosial-politis menjadi target yang diperebutkan oleh dua kelompok kelas masyarakat tersebut. Padahal, Roy, Jeje, dkk hanya ingin mengekspresikan kebebasan fashion di dalam CFW. Tidak seperti para influencer dan content creator yang memanfaatkan CFW untuk kepentingan pribadi yang pastinya bernilai sosial-ekonomis. Atau bahkan para politisi dan pejabat publik yang memanfaatkan CFW guna mendapatkan nilai sosial-politis.

CFW sebagai aset bernilai sosial-politis pun menjadi semakin tervalidasi melalui beberapa respon politisi dan pejabat publik yang turut serta dalam dinamika CFW seperti Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang menyeberangi zebra cross yang biasanya digunakan untuk jalur fashion show CFW bersama pejabat publik dari negara lain.

Alienasi Kelas Proletar

Ataupun Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang ingin memberikan beasiswa kepada Roy hingga Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat yang merespon tindakan Baim dan Paula yang ingin mendaftarkan CFW sebagai hak kekayaan intelektual. Para remaja CFW ini pun semakin teralienasi kebebasannya sehingga kabarnya mereka berniat untuk berpindah tempat “nongkrong” karena area CFW sudah terlalu ramai.

Seperti yang disebutkan Marx, bahwa terdapat perbedaan yang besar dan mendasar antara mereka yang bekerja namun tidak memiliki dengan mereka yang tidak bekerja namun memiliki. Para remaja CFW ini adalah mereka yang “bekerja” menginisiasi CFW namun kini justru mereka terkesan tidak memiliki hasil kerja mereka sendiri karena adanya intervensi dari kelas masyarakat atas yang dapat kita sebut sebagai mereka yang tidak bekerja namun memiliki.

Fenomena ini terjadi karena para remaja CFW ini tidak memiliki “modal” dan “alat produksi” seperti exposure sosial media, logistik untuk operasional pembuatan konten, dan lain sebagainya seperti yang dimiliki oleh kelas masyarakat atas. Pada akhirnya, remaja CFW direduksi dari yang awalnya adalah “mereka yang bebas” menjadi “mereka yang ditindas”.

Dinamika inilah yang kemudian menyebabkan CFW terlihat sebagai pertarungan antar kelas sosial di dalam masyarakat akibat adanya pertentangan baik secara langsung maupun tidak langsung. Menarik untuk melihat akan seperti apa perkembangan CFW ke depannya terlebih dengan adanya dinamika yang cukup kompleks belakangan ini. Tetapi yang utama, para remaja CFW ini haruslah mendapatkan apa yang menjadi hak milik mereka karena sejatinya kebebasan adalah hak fundamental manusia.

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Daftar Pustaka:

 Hamersma, H. (1990). Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: PT Gramedia.

Hardiman, B. (2019). Pemikiran Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche. Yogyakarta: PT Kanisius.

Poloma, M. (2010). Sosiologi Kontemporer. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =