Dalam Filsafat Heidegger, kecemasan diartikan sebagai dalam hubungannya “ketiadaan”. Kecemasan adalah keadaan mencekam, yang disebabkan oleh ancaman dari ketiadaan. Akan tetapi Sartre mengartikan istilah ini dalam artinya yang terbatas dan praktis. Kecemasan olehnya dihubungkan dengan kebebasan dan tanggung jawab. Kalau manusia (baca :”kesadaran”) identik dengan kebebasan maka jaminan keberadaan dan kelangsungan hidup diri dan eksistensinya sepenuhnya tergantung pada kebebasan itu.

Sifat dasar manusia secara alamiah adalah ingin selalu bertahan hidup. Hal ini sudah tertanam alami secara genetika dengan sejarah panjang manusia di muka bumi, dari zaman pemburu pengumpul, zaman bercocok tanam, hingga saat ini. Secara alami sifat yang menjaga eksistensi manusia di muka bumi adalah kecemasan.

Kecemasan dan Sejarah Manusia

Kecemasan manusia terus berkembang, dahulu pada zaman pemburu-berkumpul manusia cemas dengan hewan-hewan buas yang berkeliaran. Sehingga mencari tempat berlindung di gua gua untuk lari sebagai mangsa binatang buas. Zaman bercocok tanam manusia menyiapkan lahan tersembunyi untuk menyimpan hasil panen agar tidak dicuri oleh kelompok lain. Zaman kerajaan manusia saling berperang untuk mempertahankan wilayahnya.

Bahkan di zaman sekarang, dengan pesatnya perkembangan industri dan teknologi menyebabkan kehancuran lingkungan tempat manusia tinggal. Ada segelintir manusia yang mewacanakan untuk mencari alternatif tempat tinggal selain bumi. Sifat cemas manusia yang merupakan kecerdasan emosional sejatinya mampu membawa eksistensi manusia, selama ratusan ribu tahun bertahan hidup di muka bumi. 

Kecerdasan emosional dan rasa cemas membawa manusia menjadi semakin rasional, contoh kecil nyata dapat dilihat dalam kehidupan interaksi dalam suatu kelompok. Misalnya seorang karyawan yang membenci atasannya masih bisa tersenyum ketika bertemu bertegur sapa dengan atasannya dan menahan rasa amarahnya. Karena takut dipecat jika jujur mengungkapkan perasaannya cemas akan dikeluarkan dari pekerjaannya.

Bayangkan jika karyawan tersebut mengungkapkan rasa amarahnya secara gamblang dia akan kehilangan pekerjaan, dan menurunkan kualitas hidupnya karena tidak menghasilkan uang. Semakin rasional semakin bahagia seseorang. Kecerdasan emosional mampu meningkatkan kualitas individu. Akan tetapi kecemasan berlebih dapat menjadikan individu carut-marut dan tidak mendapatkan ketenangan, oleh karena itu diperlukan pengendalian diri.

Falsafah Jawa dalam pengendalian kecemasan telah dipopulerkan oleh Ronggowarsito. Perjalanan hidupnya yang berliku menghasilkan buah pikir menakjubkan. Salah satunya yaitu ialah eling lan waspada. Falsafah moral ini dapat membimbing pengendalian emosi dengan sadar. Ketika menerapkannya, apapun pikiran dan tindakan harus dapat disadari dengan akal. Penerapan falsafah Jawa ini sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.

 

Editor: Ahmed Zaranggi



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − nine =