Mental Inlander adalah istilah kolonial yang ada kaitannya dengan reaksi unik bangsa Indonesia dalam mempersepsi kehidupan sosialnya. Konsep ini paling tidak dikemukakan oleh dua pengkaji kebudayaan Indonesia yakni Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat. Sebagai bekas jajahan, bangsa Indonesia berpotensi mewarisi mental inlanders. Pembahasan tentang keberadaan mental inlander kerap dihindari atau masih dianggap tabu di antara people of colour (ras berwarna) karena dinilai mengindikasikan kelemahan tertentu pada kelompok yang diopresi. (Pyke, 2010)

Kenapa kita mengajak orang bule berfoto? Kenapa kita menggunakan frasa “seperti bule” sebagai pujian? Kenapa kita membanggakan fitur fisik kulit putih? Pertanyaan-pertanyaan ini, menurut pegiat ilmu poskolonialisme, dapat dijawab melalui konsep mental kolonial yang dikategorikan sebagai perasaan inferior yang terinteralisasi dan perasaan ingin menjadi penjajah (Fanon dalam Rangel, 2014). Indonesia memenuhi karakteristik bangsa yang konon memiliki pola internalisasi opresi karena sudah sekian lama dijajah sebagai bentuk mentalitas inlander, dan hal ini sering dibahas namun terbatas pada portal-portal non-ilmiah (e.g Bayuaji, 2021; Juvano, 2021; Komarudin, 2021).

Penelitian-penelitian yang diadakan untuk membangun skala yang secara khusus mengukur internalized racial oppression diantaranya “Colonial Mentality Scale” yang disusun oleh David & Okazaki (2008), “Mochihua Tepehuani” yang disusun oleh Hipolito-Delgado (2007), dan juga Internalized Racial Oppression Scale (Bailey et. al., 2011). Kemudian ada “Nadonalitization Scale” yang disusun oleh Wilson Taylor & Dobbins (1972); “Black Racial Identity Scale” yang disusun oleh Parham & Helms (1981); “PoC Racial Oppression Scale” yang disusun oleh Helms & Cook (1999); “Internalized Oppression Scale” yang disusun oleh Bailey et al. (2008); dan “Appropriated racial Oppression Scale” yang disusun oleh Rangel (2014).

Mentalitas kolonial yang ditandai sebagai perilaku penolakan otomatis terhadap segala hal yang berhubungan dengan Indonesia atau bangsa timur sebagai identitas rasial sendiri, dan juga perilaku penerimaan otomatis terhadap segala hal yang berhubungan dengan negara penjajah (misalnya bangsa barat). Terdapat efek psikologis negatif yang terlihat pada kaum terjajah dalam bentuk rasa inferioritas dan keinginan untuk menjadi lebih mirip dengan penjajah. (Fanon dalam Pyke, 2010)

Salah satu upaya mengukur efek psikologis dari opresi panjang membentuk apa yang disebut sebagai ‘appropriated racial oppression’ yang diajukan oleh Rangel (2014) melalui alat ukur Appropriated Racial Oppression Scale (AROS). Peneliti hendak menguji mentalitas inlander ini dengan skala AROS pada responden dewasa muda. Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 124 orang, berumur 16-24 tahun. Penemuan penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan gambaran keberadaan mentalitas inlander dan juga utilisasi alat ukur AROS di Indonesia.

Adapun dimensi pada AROS antara lain:

  • Respons emosional;

“Saya merasa kritis terhadap warna negara saya”

  • Standar kecantikan Amerika Serikat;

Saya tidak begitu ingin memiliki hidung yang pesek

  • Devaluasi kelompok sendiri;

Karena saya orang Indonesia, saya merasa tidak berguna

  • Apropriasi Streotipe negative kelompok sendiri.

Walaupun penjajahan benar terjadi, dampaknya tetap dilebih-lebihkan oleh bangsa Indonesia

Saat pengujian alta ukur, ditemukan AROS memiliki realibilitas yang baik dan diskriminasi aitem yang baik. Terdapat 124 partisipan datanya diolah melalui analisa statistik. Partisipan berasal dari suku mayoritas serta minoritas, dengan status pendidikan mulai dari SMA hingga S2, dan berumur 16-24 tahun. Hasil penelitian menunjukkan, dimensi pada AROS ditemukan memiliki rata-rata skor yang rendah, terutama pada dimensi ketiga yaitu Devaluasi Kelompok. Dimensi dengan rerata skor paling tinggi adala pada Standar Kecantikan Amerika Serikat (bangsa kulit putih) dan Respons Emosional.

Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mental inlander melalui alat ukur AROS ditemukan ‘rendah’ pada kelompok usia Gen Z. Namun, standar kecantikan Indonesia memang diadaptasi dari pandangan kolonial yang termaktub dalam iklan kosmetik. Adapun gambaran mentalitas kolonial di Indonesia tidak bisa secara eksplisit digambarkan dengan AROS karena Indonesia mengalami opresi dalam bentuk kolonisasi klasik, bukan internal. Struktur budaya Indonesia juga berbeda karena hal ini.

Temuan ini tidak lantas menolak keberadaan mentalitas inlander. Penemuan ini ditujukan sebagai bukti bahwa untuk mendekatkan diri dengan pengetahuan akan identitas Indonesia, diperlukan suatu determinasi untuk melakukannya menggunakan tolak ukur yang memang datang dari alam pikiran manusia Indonesia.

Catatan: Penelitian ini akan dimuat pada Jurnal Mindset.

 

Penulis: Fitria Zahrah

Editor: Wa Ode Zainab ZT

 



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen − eleven =