Pada awal kemunculan virus COVID-19, pro dan kontra pun merebak, apakah virus ini berasal dari Tuhan atau buatan manusia. Agama dan sains pun seolah-olah dipertentangkan. Di Indonesia, sejumlah pemuka agama bahkan ada yang berpandangan bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan ini merupakan takdir Tuhan, tanpa ada campur tangan manusia. Sehingga, dalam menghadapi virus corona pun, mereka berpandangan fatalistik. 

Kita tidak bisa menafikkan bahwa alam semesta bergerak berdasarkan hukum alam yang bisa diuji melalui proses sebab-akibat (kausalitas). Walau pun ada juga yang beragama kita meyakini bahwa do’a adalah salah satu ikhtiar. Namun, kita tak bisa hanya memberikan pemahaman melalui agama saja, tetapi juga menyodorkan sudut pandang saintifik dalam memotret pandemi ini. Meskipun dalam perjalanan sejarah, pandangan dunia saintifik kerap mengkritik umat beragama terkait dengan pemahamannya terhadap alam, manusia, dan Tuhan. 

Menurut A.Peacocke dalam Paths Form Science Towards God, kredibilitas agama tengah dipertaruhkan di bawah pengaruh pemahaman baru tentang dunia alamiah. Materialisme ilmiah kerap disebut juga dengan ‘saintisme’, yakni paham yang berpandangan bahwa sains memiliki otoritas di atas semua interpretasi. Dalam merespons COVID-19 pun, sejumlah saintis [penganut saintisme] memandang bahwa pandemi ini hanya dapat diselesaikan melalui sains. Mereka pun menggugat eksistensi Tuhan; virus lah yang dianggap penentu nyawa manusia, bukanlah Tuhan. 

Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind, menulis sebuah sub-tema yaitu, “The End of Homo Sapiens Afterword: The Animal that Became a God Notes”. Menurut Harari, ketergantungan manusia dengan agama karena belum mampu menaklukkan alam. Namun, sekarang manusia dianggap sebagai ‘tuhan’ itu sendiri karena memiliki kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di lain sisi muncul pesimisme terhadap sains karena dianggap tidak mampu menyelesaikan pandemi COVID-19. Filsuf Prancis Paul Virilio juga menjelaskan bagaimana pemikiran ilmiah berusaha untuk mengontrol dan mengendalikan dunia. Namun, menurutnya, tantangan terhadap janji besar kemajuan teknologi dan sains dapat mengarah pada ‘integral accident’, bahkan menggagalkan “modern project”. 

Dalam konteks relasi sains-agama sebagai respons terhadap pandemi COVID-19, kami merujuk pada tipologi yang ditawarkan oleh Ian G.Barbour dalam karyanya When Science Meets Religion. Bagi Barbour, visi integrasi adalah pilihan yang tepat dan konstruktif untuk hubungan antara sains dan agama. Integrasi keduanya dinilai mampu merampungkan serangkaian masalah terkait relasi antara keduanya. Dalam pendekatan integrasi ini, Barbour mengajukan sebuah teologi alam (theology of nature), yaitu gagasan ketuhanan yang membuka diri terhadap teori-teori ilmiah sebagai landasan untuk membangun pandangan dunia yang koheren melalui proses interpretasi. 

Dalam tipologi integrasi, fokusnya adalah pada peran manusia sebagai subjek yang mengkonstruksi pandangan dunia dan pemahaman tentang Tuhan, alam semesta, dan dirinya sendiri (baca: manusia). Untuk mendukung visi integrasi ini, Barbour mengacu pada filsafat proses Alfred North Whitehead. Selain Barbour, terdapat sejumlah pemikir yang peduli tentang hubungan antara sains dan agama, seperti Keith Ward dan Arthur Peacocke yang berpandangan bahwa filsafat proses dapat mengintegrasikan sains dan agama.

Whitehead mengembangkan sistemnya bahwa dunia itu dinamis, terus berubah, dan senantiasa ‘menjadi’, termasuk di dalamnya adalah Tuhan.  Filsafat proses menekankan bahwa realitas tidak statis, melainkan bergerak dan berubah dalam proses evolusioner yang  berkesinambungan. Menurutnya, Tuhan harus dilihat dari dua sisi; ‘sifat primordial-Nya’ yang berhubungan dengan objek-objek internal dan ‘sifat imanensi-Nya’ yang berhubungan dengan dunia. Baginya, Tuhan adalah penyebab segala sesuatu yang mana keberadaan setiap entitas berasal dari eksistensi-Nya dan bergantung pada-Nya secara eksistensial. Tetapi, Dia memberikan kebebasan kepada segala sesuatu untuk menjadi sebab bagi peristiwa yang terjadi di alam semesta.

Pada perkembangannya, beberapa pemikir yakin bahwa sains tidak bisa berdiri sendiri. Paul Davies dalam The Mind of God. Science and the Search for Ultimate Meaning mengungkapkan bahwa sains sebenarnya tidak dapat menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi di dunia ini. Dalam konteks ini, ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh sains. ”Saya selalu ingin percaya bahwa sains dapat menjelaskan apa pun, setidaknya secara prinsip, bahkan jika kita mengesampingkan peristiwa adikodrati, sama sekali tidak serta-merta membuat sains bisa menjelaskan seluruh alam semesta.”

Dalam hal ini, ‘sains’ dapat berperan sebagai pintu gerbang untuk memahami ‘agama’, dan sebaliknya relung-relung ‘sains’ bisa diselami sepenuhnya melalui pintu ‘agama’. Keberhasilan integrasi sains dan agama tercermin pada karya Fritjof Capra, The Tao of Physics dan karya Garv Zukav, The Dancing Wuli Masters. Selain itu, ada John F. Haught dan Mehdi Golshani yang juga merumuskan tipologi antara sains dan agama yang menekankan pada integrasi atau konfirmasi. Berdasarkan paradigma integralistik, kita tidak perlu menempatkan sains dan agama dalam hubungan kompetitif. Kini dan mendatang, manusia hidup dalam ‘era baru’ yang mengharuskan dirinya beradaptasi dengan perubahan. 

 

Referensi:

Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama (terjemahan dari When Science Meets 

Religion oleh E.R. Muhammad), Bandung: Mizan, 2002.

Davies, Paul, The Mind of God. Science and the Search for Ultimate Meaning, London: Simon 

& Schuster, 1992.

Harari, Yuval Noah Sapiens: A Brief History of Humankind, Kanada: Signal Books, 

McClelland & Stewart, 2014.

Peacocke, A, Paths Form Science Towards God, Oneworld: Oxford, 2002.

Toresano, Wa Ode Zainab Zilullah, “Integrasi Sains dan Agama: Meruntuhkan Arogansi di 

Masa Pandemi Covid-19.” Maarif 15.1 (2020): 231-245.

 

Penulis: Wa Ode Zainab Zilullah T

Editor: Murteza Asyathri



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − seven =