Bagi kaum determinisme segala tingkah laku manusia telah ditetapkan oleh Tuhan. Manusia tidak dapat menentukan apa yang akan ia lakukan karena pada hakikatnya setiap tindakan bahkan usaha dari manusia telah diatur oleh dekrit yang Tuhan. Paham yang dipelopori oleh Agustinus dalam agama Kristen pada abad kegelapan tersebut mendapatkan kritik yang tajam oleh para filsuf setelah mulai dari zaman Renaisans sampai post-modern. Kritik tersebut berpuncak pada para pemikir positivisme yang mengganti nilai-nilai ketuhanan dengan nilai humanisme. Namun, bukan berhenti di sana. Pada masa post-modern kemudian selain kritik terhadap nilai-nilai Tuhan ada juga kritik terhadap nilai-nilai humanisme yang telah dibangun oleh pendahulunya untuk menggantikan nilai Tuhan. 

Jean Paul Sartre

Termasuk di antaranya adalah filsuf asal Perancis “Jean Paul Sartre” yang hidup dari tahun 1905-1980 dan merupakan tokoh eksistensialisme yang paling menonjol. Sartre juga terkenal sebagai tokoh indeterminisme ekstrim karena salah satu teorinya yang terkenal tentang kebebasan manusia yang mutlak. Jean Paul Sartre mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya, manusia itu terlempar ke dunia tanpa suatu tujuan atau arah yang pasti, kemudian manusia ber- eksistensi atau mengada untuk dirinya sehingga menemukan arah tujuan yang pasti. 

Prinsip pemikiran Sartre sebenarnya tidak lepas dari ajaran ontologinya, bagi Sartre Ada dua macam being, being in self dan being for self. Manusia adalah jenis yang kedua yaitu ada untuk dirinya, karena manusia memiliki kesadaran pada dirinya dan kesadaran terhadap lingkungan luarnya. Pada hakikatnya manusia adalah terlempar ke dunia menghadapi suatu kenyataan yang tidak dapat dielakkan, namun manusia memiliki kebebasan untuk memilih antara tunduk pada kenyataan atau mengadakan perubahan. Kebebasan ini akan ada jika kita memiliki kesadaran akan kebebasan itu sendiri. 

Indeterminisme

Manusia tidak ditakdirkan oleh Tuhan dalam untuk menjadi apapun, manusia sendirilah yang menciptakan dirinya untuk menjadi apa yang dia inginkan, bukan takdir yang mengatur manusia namun manusialah yang membuat takdir untuk dirinya sendiri. Manusia yang menciptakan nilai-nilai. Manusia terkutuk untuk memilih, diam merupakan suatu pilihan, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang tidak dikutuk untuk itu. Pada hakikatnya perasaan kita akan adanya dekrit Tuhan hanyalah karena kita tidak memiliki kesadaran akan kebebasan memilih tersebut. 

Sebagai seorang Indeterminisme, Sartre tidak membenarkan suatu pilihan yang disebabkan oleh faktor-faktor di luar diri kita, karena menurut Sartre hal tersebut sangat mengancam kebebasan kita. bagi Sartre setiap pilihan haruslah berangkat dari kesadaran pribadi, bukan karena dorongan-dirongan diluar diri kita. Namun kata sartre, bersamaan dengan pilihan tersebut ada sebuah tanggungjawab dalam diri kita terhadap segala hal yang akan terjadi dikarenakan pilihan kita. Kita harus menerima tanggungjawab tersebut dengan penuh kesadaran. Jika kita memilih untuk tidak belajar kita harus siap menerima konsekuensinya yaitu kebodohan, ini harus kita Terima dengan penuh kesadaran tanpa menyalahkan orang lain. Tidak semua pilihan kita berakhir pada kesuksesan, kesuksesan bukan hal yang ditekankan dalam filsafat sartre, namun menyerah pada suatu kenyataan adalah suatu hal yang naif, mengingat kita memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan kita.

Editor: Ahmed Zaranggi

Referensi:

Drs. H. Muzairi, MA. Eksistensialisme Jean Paul Sartre. Pustaka Pelajar. 2002.

Jean Paul Sartre. Eksistensialisme dan Humanisme. Pustaka Pelajar. 2002.

Vincent Martin, O.P. Filsafat Eksistensialisme. Pustaka Pelajar. 2001.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − 3 =