Judul Buku      : Sains Religius, Agama Saintifik: Dua Jalan Mencari Kebenaran

Penulis             : Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla

Penyunting      : Ahmad Baiquni dan Azam Bahtiar

Penerbit           : Mizan

Cetakan           : Cetakan ke-1, Agustus 2020

Tebal               : 169 halaman

Harga              : Rp. 50.150- Rp. 59.000

Buku yang diterbitkan pada Agustus 2020 ini terkait erat dengan konteks kekinian. Sebagai karya non-fiksi, karya HB dan UAA tersebut berhasil membuat pembaca asyik-masyuk di dalamnya. Buku ini berhasil membumikan bahasa akademis mengenai isu “sains dan agama” agar mudah dipahami oleh khalayak. Sehingga, tulisannya bisa dipahami oleh siapa pun, meskipun bukan seorang saintis atau agamawan.

Kumpulan tulisan HB dan UAA dalam buku ini menggunakan diksi yang erat dengan keseharian. Meskipun tema yang diangkat merupakan diskursus akademis, tetapi buku ini jauh dari kesan berat. Tulisan keduanya menyentuh persoalan mendasar dalam diskursus sains dan agama, yakni pembahasan Filsafat Sains dan Filsafat Agama. Namun, HB dan UAA mengemas tulisannya secara populer, ringkas, dan renyah dibaca.

Buku ini tampak mengambil posisi “moderat” dalam memotret relasi sains dan agama. Tulisan HB dan UAA berupaya mengurai peran keduanya sebagai dua jalan mencari kebenaran. Terdapat apresiasi terhadap sains, terutama perannya dalam mengungkap fakta empiris alam semesta yang dibutuhkan oleh agama. Selain itu, ada juga pengakuan bahwa agama memberikan kontribusi pada sains, misalnya terkait inspirasi, nilai, dan tujuan.

HB dan UAA tak menafikkan kontribusi sains dalam kemajuan peradaban manusia. Namun, bukan berarti manusia modern serta-merta melupakan peran entitas lainnya, termasuk agama. Berdasarkan buku ini, seyogyanya sains merespons agama secara positif, begitu pun sebaliknya. Baik sains maupun agama mencakup domain yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Keduanya memiliki peran signifikan sesuai dengan metodenya masing-masing.

Kefanatikan dalam Sains dan Agama

Bigotri dalam sains ternyata ada, sama halnya pada agama. Dalam tulisan pembuka “Ekstremis Agama, Sudah Lumrah. Ekstremis Sains, waduh!” HB mengatakan: “…alam kehidupan manusia bukan alang kepalang jauh lebih luas ketimbang hanya alam empiris dan kebutuhan pragmatis. Maka dari itu, kita butuh filsafat, termasuk agama, juga seni dan sastra. Tidak ada yang lebih mulia, satu di atas lainnya.” (hlm.28)

Senada, UAA menulis “’Qutbisme’ dan Kepongahan Saintifik”. ‘Qutbisme’ muncul karena seseorang merasa telah berkiblat pada kebenaran mutlak dan perasaan paling saleh, sedangkan orang lain sesat dan perlu diselamatkan. Ini bukan semata gejala keagamaan, tapi juga sains. “Setiap bentuk kepongahan, baik religius maupun sains-sekuler, langsung menimbulkan refleks penolakan pada diri saya.” (hlm.109)

Menurut William James dalam The Varieties of Religious Experience, agama dan sains sama-sama mengaktifkan daya imajinasi. Pada konteks ini, kita perlu menundukkan context of discovery dan context of justification dalam ilmu pengetahuan. Sebagaimana dipaparkan HB dalam tulisannya. “Bisa saja sains mengambil dari mitos atau sumber-sumber mistis dan hermetik, tapi sains berhasil menjustifikasi kebenaran teori itu secara ilmiah.” (hlm.34)

Penemuan teori ilmiah acap kali tidak dapat diverifikasi secara logis atau empiris. Adapun yang memerlukan verifikasi ialah ilmu pengetahuan dalam konteks justifikasi. Tak bisa dinafikkan, penelitian sains sebenarnya tak sepenuhnya objektif. “Rasionalisme membuktikan bahwa hasil observasi bersifat relatif terhadap pengamat…soal relativitas ini terkait dengan teori ketidakpastian Heisenberg: bahwa keberadaan pengamat ternyata bisa memengaruhi hasil pengamatan.” (hlm. 40)

HB berpandangan bahwa aspek saintifik sangat mungkin dalam pemikiran keagamaan. “Representasi objek pada daya berpikir dalam observasi empiris berfungsi-antara, yakni untuk menjadikan wujud mental menjadi aksesibel bagi pikiran.” (hlm.65) Lebih lanjut UAA menegaskan: “Baik sains dan agama, secara ontologis atau wujudiah, masuk dalam wilayah yang sama: keduanya adalah bagian dari aktivitas mental manusia, meskipun dasar-dasar legitimasinya beda.” (hlm.100)

Pandangan mengenai adanya relasi antara sains dan agama, tidak serta-merta membuat HB setuju dengan Islamisasi Sains. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri adanya jejak-jejak Saintis Muslim dalam perkembangan sains modern. Sebagaimana diungkapkan oleh Desmond Stewart dalam Early Islam dan Robert Stephen Briffault dalam The Making of Humanity. Serta pengakuan sarjana Barat lainnya, seperti Herbert A. Davies, Thomas Arnold, Alfred Guillaume, George Sarton, Maurice Lombard, Desmond Stewart, serta Max Mayerhof.

Sementara itu, UAA mengetengahkan kritik terhadap Ateisme Baru yang beranggapan agama sudah tidak relevan. Sebagaimana disuarakan oleh Richard Dawkins, Sam Harris, Daniel Dannett, dan Christopher Hitchens. Menurut UAA, masyarakat agama sudah sejak dahulu mengalami proses ‘outgrowing’. Misalnya, perwakilan agama-agama berpartisipasi dalam forum Parlemen Agama-agama Dunia. “Di Indonesia, rintisan ke arah dialog ini dimulai oleh Gus Dur sejak akhir dekade 1970-an”. (hlm. 122)

Saya memberi poin 9,5 untuk buku ini karena tidak hanya konten yang berkualitas, tetapi juga kesalahan teknis nyaris tidak ada. Buku ini hanya butuh dipromosikan secara lebih luas agar bisa mengubah paradigma masyarakat terkait relasi sains dan agama. HB dan UAA menunjukkan sikap kritis-apresiatif terhadap sains dan agama. Kedua intelektual tersebut menyadari bahwa yang dibutuhkan untuk menjawab problem kemanusiaan modern ialah reintegrasi sains dan agama, bahkan filsafat. Sehingga, mempertentangkan sains dan agama bukanlah langkah bijak.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 2 =