Agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman tanpa roh. Agama adalah candu rakyat.” Kutipan di atas merupakan kritik Marx terhadap agama yang tertuang dalam bukunya, Critique of Hegel’s Philosophy Right (1943). Kritikan ini menjelaskan posisi Marx terhadap agama. Namun terlepas dari ateis—atau tidaknya (?)—Marx, penting untuk memahami apa yang ingin disampaikan Marx di balik kritikannya tersebut.

Asal Kritik Agama Marx

Selain Hegel, Marx juga terpengaruh oleh Ludwig Feuerbach. Feuerbach merupakan seorang teolog yang kemudian berbalik menjadi ateis. Sama seperti Marx, Feuerbach juga terpengaruh oleh filsafat Hegel. Namun, Feuerbach—sekali lagi, sama seperti Marx—membalikkan filsafat Hegel tentang hubungan roh absolut—dalam bahasa Hegel—dan manusia. Bagi Feuerbach roh absolut dalam filsafat Hegel adalah Tuhan.

Menurut Feuerbach, Hegel hanya berupaya untuk merasionalisasi agama. Berbeda dengan Hegel yang menyatakan bahwa pergerakan roh absolut itulah yang merupakan realitas dan mempengaruhi sejarah, bagi Feuerbach manusialah realitas sejati dan menentukan sejarahnya sendiri. Bagi Feuerbach agama beserta atribut-atributnya; Tuhan, malaikat, surga, neraka, merupakan proyeksi dari keinginan manusia itu sendiri tetapi tidak dapat direalisasikan.

Dengan menyatakan Allah itu Maha Kuasa, manusia merealisasi keinginannya untuk berbuat apa pun yang ia kehendaki.” (Dikutip dari tulisan L.P. Tjahjadi, 2019, hal. 98).

Feuerbach menulis sebuah buku berjudul Das Wesen des Christentums (Hakikat Agama Kristen) pada tahun 1841, sebagai kritikan tajam terhadap agama Kristen. Bagi Feuerbach manusia adalah Homo homini deus— manusia adalah Allah bagi sesamanya.

Marx mengamini bahwa Feuerbach telah merobek persoalan ketuhanan yang bersarang pada filsafat Hegel. “Manusia membuat agama, agama tidak membuat agama”. Ia mengambil logika Feuerbach ini sebagai landasan filsafatnya yang kemudian dikembangkan menjadi kritik masyarakat. Namun, Marx melihat ada kekurangan pada kritik Feuerbach; kenapa Feuerbach berhenti pada konsepsi tersebut dan tidak menguraikan penyebab proyeksi manusia tersebut? Para filsuf dahulu telah menafsirkan dunia secara berbeda-beda, namun yang terpenting adalah mengubah dunia itu. 

Tujuan Marx Meng-kritik Agama

Setelah Marx tidak berurusan dan memberikan perhatian lagi pada agama. Agama dalam kritiknya hanya berposisi sebagai ephiphenonenon; sebagai batu loncatan untuk mengkritik negara—kapitalisme—yang eksploitatif bagi Marx. Ini dapat dilihat pada tulisan-tulisannya setelah itu seperti yang terdapat dalam Communist Manifesto (1848), Capital (1867) Economic and Philosophical Manuscript (1844).

Marx tidak menyibukkan dirinya pada persoalan apakah agama dengan segala atributnya itu adalah ilusi (opium) atau sesuatu yang benar-benar real—karena posisinya dalam hal ini juga sudah sangat jelas. Tapi, setelah Marx memahami bahwa agama adalah tempat pengasingan diri bagi masyarakat yang tertindas, Marx memfokuskan perhatiannya pada persoalan kenapa manusia melarikan dirinya kepada agama.

Kerangka berpikir ini kemudian menjadi pijakan Marx tentang konsepsinya tentang bangunan atas dan basis. Bangunan atas adalah di mana agama, norma, ideologi, negara berada. Sedangkan basis merupakan struktur kekuasaan ekonomi, di mana terdapat hubungan-hubungan produksi material yang saling bertentangan. Bagi Marx, basis (relasi ekonomi) yang mempengaruhi bangunan atas (agama). Jadi jika relasi ekonominya diubah, maka agama akan hilang dengan sendirinya.

Yang menjadi fokus Marx—terutama pada fase yang dikatakan sebagai Marx tua—adalah kondisi objektif masyarakat, di mana sistem kapitalisme telah melahirkan penindasan struktural.

Apa yang Dikritik Marx dari Agama?

Segala sesuatu itu bersifat dialektis, tidak terkecuali agama. Agama memiliki dua sisi yang berlainan; sebagai promotor transformatif atau sebagai benteng dan pembenaran untuk orang-orang yang mudah berputus asa terhadap realitas. Sisi negatif dari agama inilah yang menjadi sasaran kritiknya.

Laksana sebuah “opium”, agama dapat memanipulasi kesadaran orang dan membuat penganutnya hanya berpasrah dengan keadaan daripada mengusahakan sesuatu yang dapat memperbaiki kondisi hidup. Agama mengajarkan orang untuk menerima apa adanya, kendati sedang hidup menderita. Sebab, yang utama itu adalah akhirat, surga.

Penderitaan, kemiskinan dan kesengsaraan yang dialami manusia-manusia individual dari kalangan tertindas merupakan kenyataan yang harus diselesaikan di dunia ini. Ketika seseorang lapar maka yang dibutuhkan adalah nasi untuk makan bukan nasehat untuk sabar. Ketika sistem terasa menindas seharusnya individu-individu yang tertindas ini bergerak merubah sistem, bukan malah menunggu dan menangguhkan pembalasan Tuhan di akhirat.

Maghfur M Ramin (2017) menulis,

“Ketika masyarakat cenderung melarikan diri ke langit dan tidak menyelesaikan persoalan yang dihadapi, maka pada saat itulah agama menjadi candu, menjadi obat penenang, atau hiburan yang melenakan seolah-olah penderitaan itu tidak ada.”

Jadi, alih-alih penganut agama sibuk memperlihatkan penentangan keras terhadap ajaran Marx yang ateistik, lebih baik penganut agama berhati-hati akan penyalahgunaan nama agama untuk meninabobokkan orang dengan membawanya ke dunia gaib ketimbang berupaya mengembangkan dirinya dan membangun masyarakat.

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Daftar Rujukan

Budi Hadirman (ed), 2019, Filsafat Untuk Para Profesional

Franz Magnis Suseno, 2019, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme vs

Maghfur M. Ramin, 2017, Teori Kritis Filsafat Lintas Mazhab

Peter Singer, 2021, Karl Marx Sebuah Pengantar Singkat



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + eleven =