Biografi Singkat

Hannah Arendt merupakan seorang filsuf, pemikir politik, dan ilmuwan perempuan Barat abad ke-20 yang sangat terkenal. Hannah Arendt lahir pada 14 Oktober 1906, di Hannover, Jerman. Arendt mengambil studi filsafat di Universitas Marburg di mana filsuf eksistensialis menjadi rektor di sana. Selain itu Arendt juga belajar di Universitas Heidelberg pada 1925. Sebelumnya Arendt juga belajar di Universitas Albert Ludwig di Freiburg (Britannica, 10 Mei 2022).

Arendt mendapatkan gelar doktor dalam bidang filsafat di Universitas Heidelberg pada tahun 1928. Arendt menulis tesis doktoralnya tentang konsep cinta St. Augustine di bawah pengasan Jaspers. Yang paling di ingat pada masa-masa ini adalah hubungan asmaranya dengan gurungya, Heidegger, di Universitas Marburg. Hubungan ini berlangsung juga hingga tahun 1928. Pada tahun 1933 ketika Heidegger bergabung dengan Nazi secara tidak langsung hubungan keduanya pecah dan Arendt melarikan diri ke Paris. Sulit untuk mengatakan keretakan hubungan personal antara keduanya, sebab di akhir-akhir hidupnya Arendt kembali berhubungan dengan Heidegger.

Selain itu Arendt pernah melakukan ekspedisi ke ke Jerusalem pada 1961. Di Jerusalem Arendt meliput tentang salah seorang petinggi Nazi, Jerman, Adolf Eichmann. Eichmann merupakan orang yang bertanggung jawab atas perencanaan holocaust Nazi terhadap orang-orang Yahudi. Namun Eichmann tertangkap di Argentina. Eichmann diadili di pengadilan di Yerusalem pada 15 Mei 1961 (Wirayudha, 26 Maret 2020).

Namun dalam laporannya yang berjudul Eichmann in Jerusalem: A Report On the Banality of Evil Arendt membuat penilaian yang berbeda tentang Eichmann. Bagi Arendt, Eichmann tidak sekejam yang disangkakan orang-orang dan apa yang dituduhkan kepadanya. Hal ini juga menjadikan Arendt dimusuhi oleh komunitasnya sendiri, komunitas Yahudi.

Akibat pengalaman hidup yang kelam di era Nazi dan juga diktator Stalinisme di Soviet, hal itu sangat berpengaruh dalam pemikiran Arendt. Hal ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan Arendt. Salah satunya adalah The Origin of Totalitarianism Hannah Arendt meninggal pada 4 Desember 1975 di New York. Arendt meninggal pada usia 69 tahun kerena gagal jantung di apartemennya. Arendt dimakamkan

Karya

Hannah Arendt melahirkan cukup banyak karya, di antaranya, On Revolution (1963), Between Past and Future (1961), Men in Dark Times (1968), Crisis of The Republic (1972), On Violence (1970), eichmann in Jerussalem (1963), Origins of Totalitarianism (1951).

Pemikiran

Sebagai seorang filsuf tidak diragukan lagi Arendt memiliki cakupan pemikiran yang begitu luas. Sama seperti filsuf-filsuf lainnya. Ada dua yang menonjol dari pemikiran Arendt, tentang etika politik dalam bidang politik dan apa yang disebut sebagai vita activa dalam bidang filsafatnya.

1. Etika politik (totalitarianisme)

Dalam bidang politik Hannah Arendt fokus pada persoalan totalitarianisme. Barangkali dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya di mana ia hidup pada masa kekuasaan fasis Nazi Jerman dan diktator Soviet di bawah Lenin. Dalam persoalan totalitarianisme Arendt menulis Origin of Totalitarianism (1950).  Buku ini terdiri atas tiga bagian masing-masing berbicara tentang anti-semitisme, imperialisme, dan totalitarianisms.

Pada bagian totalitarianisme Arendt membahas tentang masyarakat tanpa kelas, pergerakan totaliter, dan totalitarianisme dalam kekuasaan. Arendt dalam memperbincangkan persoalan totalitarianisme merujuk pada Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler dan Komunis Soviet di bawah Stalin. Pemerintahan-pemerintahan totaliter selalu mengandalkan propaganda-propaganda. Arendt menulis (Harianto,  2015: 97):

“Hanya mob dan elite yang dapat tertarik oleh momentum totalitarianisme Itu sendiri. Sedangkan massa harus Dipikat dengan propaganda…. Kapan Pun totalitarianisme memiliki kontrol mutlak, maka propaganda diganti dengan indoktrinasi dan penggunaan kekerasan tidak pertama-tama untuk menakut-nakuti orang, namun lebih-lebih untuk secara terus menerus melaksanakan ajaran-ajaran ideologi yang mengumbar kebohongan-kebohongan praktis.” (Arendt, 1951: )

Selain itu ideologi juga memainkan peranan penting dalam pemerintahan yang absolut-diktator. Sering kali ideologi memisahkan dirinya dari realitas. Sebab ideologi menampilkan dirinya sebagai nilai-nilai yang mengandung kebenaran. Atau dengan kata lain realitas lah yang harus dokonstruksi demikian rupa demi mencapai kebenaran ideologi. Nazi di bawah Adolf Hitler menyebarkan nilainsulerioritas bangsa Arya atas bangsa lainnya. Stalin mendaku diri bahwa Soviet dijalankan di atas gerak sejarajnya teoritikus-teoritikus Marxis.

2. Vita Activa (Kehidupan Aktif)

Vita activa menjadi semacam antitesa dari vita contemplativa. Antitesa di sini maksudnya bukanlah sebagai sebuah bentuk negasi, tapi adalah suatu keadaan di mana manusia belum selesai pada tahap tersebut (contemplativa). Vita activa menjadi semacam pisau analisis bagi Arendt terhadap permasalahan masyarakat modern. Dalam karyanya The Human Condition Hannah Arendt turut berbicara persoalan alienasi.

Arendt menulis “dengan term vita activa, saya bermaksud untuk merujuk kepada tiga kegiatan fundamental manusia: kerja, karya, dan tindakan. Ketiganya fundamental sebab masing-masing sesuai dengan suatu kondisi dasar di mana kehidupan di dunia diberikan kepada manudia” (Arendt, 1998: 7).

Kerja bagi Arendt adalah aktivitas—keharusan— alam dari kehidupan manusia itu sendiri. Kerja berarti aktivitas biologis yang dipenuhi oleh manusia yang membuatnya terikat pada kebutuhan vital, yaitu kebutuhan akan konsumsi. Kerja adalah kegiatan yang berkaitan dan terikat dengan produksi. Dalam kerja manusia dikenal dengan animal laborans. Dalam kerja manusia kehilangan eksistensi diri akibat dari keterikatan terhadap produksi dan konsumsi tadi. Seperti yang dikatakan Marx bahwa dalam kerja (produksi) manusia menemukan hakikat dari keberadaannya.

Karya bagi Arendt adalah ketika manusia telah mampu menaklukkan alam dan manusia dapat mengelola alam untuk kepentingan mereka. Dalam karya (work ) manusia mampu menciptakan sesuatu yang lain dari apa yang disediakan oleh alam. Dengan akal pikiran yang dimiliki proses ‘mencipta’ bagi manusia bukan lagi sekadar sebagai urusan perut. Sederhananya dapat dilihat dari evolusi manusia dalam sejarah ketika sebelumnya manusia berburu untuk bertahan hidup sekarang manusia mencipta untuk sebuah, sebut saja kebanggaan.

Sedangkan tindakan diartikan oleh Arendt sebagai adalah tindakan manusia yang paling substansial sebab tidak lagi mengandaikan keterpaksaan. Baik keterpaksaan dengan produksi dan konsumsi pada kerja (labor ) sebagai suatu kondisin yang memaksa. Maupun

Ketiga hal ini bagi Arendt berkaitan dengan kondisi paling mendasar dari keberadaan manusia: lahir dan mati.

Editor: Ahmed Zaranggi

 

Referensi:

Arendt, Hannah. 1962. The Origin of Totalitarianism. Edisi II, York: World Publishing Company

Arendt, Hannah. 1998. The Human Condition. Chicago: University Chicago Press

Britannica.com. Hannah Arendt: American Political Scientits (ed). Diakses pada 10 Mei 2022,

Matias, Daven. 2015. Politik Pemusnahan dan Pemusnahan Politik: Telaah Kritis atas Konsep Hannah Arendt temtang Totalitarianisme. Dalam Jurnal Ledalero, Vol 14, No. 1, Juni 2015

Haryanto, Ignatius.2015. Propaganda, Hannah Arendt, Joseph Goebels, dan Totalitarianisme. Dalam Volume VII, Nomor 1, Juni 2015

Indah, Veranita Astrid. 2015. Jati Diri Manusia Berdasarkan Filsafat Tindakan Hannah Arendt Perspektif Filsafat Manusia: Relevansi dengan Pelanggaran HAM Tahun 1965-1966 di Indonesia. Dalam Jurnal Filsafat, Vol. 25, No. 2, Agustus 2015



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 + five =