Krisis berpikir merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia di era modern. Permasalahan ini hadir didasari oleh ketidakmampuan individu menganalisis dan memisahkan setiap informasi yang didapatkan di luar dirinya tanpa memandang informasi ini baik atau buruk. Ketidakmampuan ini menyebabkan munculnya paradigma partikularis atau bersifat sempit dalam sisi teoritis manusia. Tulisan ini akan menganalisisnya dengan semiotika Barthes.

Paradigma Partikularis

Paradigma partikularis ini akan memengaruhi cara pandangan manusia untuk mengetahui sesuatu yang ia dapatkan melalui sebuah informasi yang terus diulang-ulang secara bertahap di realitas. Pengulangan informasi yang dilakukan akan memengaruhi persepsi individu untuk menyakini kebenaran dari informasi tersebut, tanpa adanya proses mencaritahu terlebih dahulu.

Permasalahan ini, selaras dengan pandangan Roland Barthes dalam teori semiotikanya untuk mengkaji tanda-tanda yang menggejolak dalam kehidupan manusia. Tanda dalam pandangan Roland Barthes dimaknai sebagai suatu informasi yang menyentuh perasaan hati manusia, seperti; permasalahan patah hati, keindahan Tuhan dan kerinduan terhadap kehidupan yang damai di tengah kesengsaraan.

Memahami Konotasi

Semua ini dibangun untuk mengangkat kondisi emosional manusia daripada memengaruhi cara menganalisis sesuatu yang bersifat indah dan Tuhan sebagai dua konsep berbeda. Roland Barthes menggunakan tanda-tanda yang bergejolak dalam diri manusia dengan istilah “konotasi”. Konotasi sendiri secara pemaknaan ialah suatu perkataan yang memmengaruhi kondisi perasaan manusia untuk melihat suatu permasalahan di luar dirinya.

Roland Barthes benar-benar memahami, bahwa konotasi yang hadir sebagai tanda dalam kehidupan manusia yang tidak didasari oleh pendekatan literasi, yang didapatkan secara penalaran mendalam. Konotasi sendiri pertama dikaji oleh Roland Barthes melalui kehidupan masyarakat dahulu dengan melihat ragam mitos yang berkembang dalam kehidupan mereka.

Contoh persoalan di atas ialah mitos masyarakat Jawa tentang makan sambil tiduran, akan menjadi ular. Atau mitos dari masyarakat sunda dan beberapa masyarakat sulawesi, bahwa menabrak kucing hitam akan menimbulkan kesialan dalam kehidupannya. Semua mitos tersebut dibangun tanpa adanya basis literasi ilmu pengetahuan atau denotasi. Akan tetapi, lebih mengarah pada problematika perasaan yang terus diulangi hingga menjadi sebuah tanda yang menggejolak dalam diri manusia.

Konotasi dan Radikalisme

Relevansi teori konotasi dalam semiotika Roland Barthes dengan pertumbuhan radikalisme dapat diketahui melalui minimnya berpikir logis dalam kehidupan manusia. Manusia cenderung memahami sebuah informasi melalui perasaan yang menggejolak dalam dirinya tanpa mencaritahu kebenaran informasi tersebut. Pengetahuan yang didasari oleh perasaan yang menggejolak mendeskripsikan kekuatan emosional dalam dirinya.

Akibatnya, informasi yang berbeda dengan pengetahuannya akan ditutup dan dibatasi dengan memandang pengetahuan tersebut merupakan sesuatu yang keliru.  Dalam konteks modern, masalah agama merupakan salah satu isu yang selalu digumamkan dengan berbagai aksi penolakan terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh satu kelompok terhadap kelompok yang lain.

Ketika suatu kelompok menolak ajaran yang berbeda dengan pengetahuan yang diyakini dan dipercayainya, mereka cenderung bergerak berdasarkan arahan yang emosional.
Mulai dari menyalahkan ajaran tersebut hingga meniscayakan kekerasan dalam konteks sosial. Kenicayaan kekerasan dalam konteks sosial mendeskripsikan praktik yang ekstrem sebagai karakteristik dari radikalisme.

Implikasi Sosial

Tentunya, praktik kekerasan dan menolak seluruh pengetahuan di luar dirinya merupakan sebuah sikap radikalisme yang berusaha dirajut dalam konstruksi sosial. Semua permasalahan yang terjadi dalam kontruksi sosial didasari oleh krisis berpikir yang semakin menggiring individu untuk berperilaku secara bebas tanpa memandang nilai baik dan buruk dalam pengetahuannya.

Misalnya saja seperti menerima informasi tanpa data yang valid dan ikut menyebarkannya tanpa basis pengetahuan yang dimiliki, sehingga berakhir dengan aktualitas praktik kekerasan terhadap individu yang berbeda pengetahuan dengannya tanpa memandang nilai baik dan buruk dalam praktik kekerasan tersebut.

Tentu, praktik kekerasan dan menerima informasi tanpa dasar mencari tahu mendeskripsikan keberadaan masyarakat modern tidak jauh berbeda dengan masyarakat dahulu yang juga menyakini mitos tanpa dasar pengetahuan yang jelas, sebagaimana penjelasan Roland Barthes. Ragam praktik kekerasan dan sikap menutup diri dalam kehidupan manusia, merupakan dua dari banyaknya indikasi radikalisme yang terjadi di dunia.

Langkah dan Solusi Praktis

Sebuah permasalahan tersebut, didasari oleh malas berpikir. Malas berpikir memengaruhi persepsi manusia untuk berpikir secara sempit yang berindikasi pada penolakan segala pengetahuan di luar keyakinan dan kepercayaannya, sebagai penolakan teoritis. Penolakan segala pengetahuan di luar keyakinan dan kepercayaannya akan mempengaruhi perilaku individu untuk melakukan kekerasan sebagai penolakan dalam sisi praktis di realitas.

Penolakan praktis dan teoritis merupakan karakteristik dari pertumbuhan radikalisme di eksternal. Semua permasalahan ini didasari oleh kemalasan berpikir dalam konteks kehidupan manusia. Maka, ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk memperbaiki diri dengan memulai membuka diri dengan berbagai informasi tanpa harus membatasinya. Tak lupa sembari menganalisis informasi yang kita peroleh di eksternal.

 

Editor: Ahmed Zaranggi



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − seven =