Big Mouth dan Absurditas

Big Mouth merupakan salah satu serial drama Korea yang banyak ditonton, sejak awal penayangannya di bulan Juli 2022. CNN Indonesia melaporkan bahwa drama bergenre thriller dan misteri ini, telah mendapatkan rating 11,2 persen. Kemudian di bulan September, rating drama yang dibintangi Lee Jong-Suk ini, mengalami peningkatan sebesar 13,7 persen. Meroketnya, rating Big Mounth tidak lepas dari jalan cerita yang menarik dan penuh misteri. Sehingga penonton dipaksa untuk mengikuti alur cerita yang dipandang memiliki pandangan filosofi. Tulisan ini, berusaha membaca beberapa scene serial drama Korea Big Mouth melalui tinjauan filsafat Albert Camus dan Ali Syariati.

Di beberapa scene, khusus episode dua serial Big Mouth, Park Chang-ho sebagai pemeran utama ingin mengakhiri hidupnya sebagai sikap untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dialaminya. Dalam tinjauan filsafat barat, pandangan Park Chang-ho selaras dengan pemikiran Albert Camus yang menilai bahwa kematian adalah jalan terakhir untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia sebagai bentuk ketidakmampuannya mengatasi berbagai problematika hidup. Albert Camus dalam “Le Mythe de Sysiphe” menjelaskan bahwa ketidakmampuan individu terhadap problematika didasari oleh keterasingannya untuk memaknai hidup yang membawanya pada keadaan yang membatasi antara dirinya dan realitas. Implikasinya, individu tidak dapat menjalani hidup secara normal dan memilih untuk menjemput kematian sebagai cara memaknai hidupnya di realitas. Hal ini juga dipilih Park Chang-ho untuk menjemput kematian dengan cara memancing keributan di penjara Gucheon.

3 Pemaknaan Hidup

Lebih lanjut, Albert Camus menilai bahwa kematian sebagai jalan terakhir memaknai hidup dapat didasari oleh berberapa hal, keputusasaan (1) dan kesendirian (2). Keterputusasaan dalam pandangan Albert Camus, ialah ketidakmampuan individu untuk berorientasi yang disebabkan oleh tekanan fenomena yang menggejolak. Park Chang-ho menilai bahwa berbagai masalah yang dihadapi tidak dapat terselesaikan, karena adanya keterlibatan para elit yang mengakibatkan hilangnya orientasi. Adapun kesendirian, ialah tidak adanya dukungan dari masyarakat terhadap berbagai masalah yang dijalani individu, sehingga kematian adalah cara untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa seseorang tidak mampu menjalani hidup yang tidak bermakna.

Namun, perlu dipahami bahwa Albert Camus juga membenarkan teori kematian sebagai jalan terakhir memaknai hidup. Albert Camus menilai bahwa individu harus melawan berbagai kebijakan yang dipandang telah menghilangkan orientasinya untuk menentukan cara ia berada di realitas. Kehidupan Sisifus yang membawa batu secara berulang-ulang, meskipun dia tahu bahwa batu akan kembali jatuh. Akan tetapi, jatuhnya batu merupakan kesadaran bagi Sisifus untuk memahami bahwa kehidupan bersifat mekanis yang mengimplikasikan manusia harus melawan. Hal ini guna memperoleh kebebasan sebagai sikap menentukan cara ia berada di esok hari. Park Chang-ho sebagai pemeran utama, pada akhirnya memilih untuk menghindari kematian dengan mengakui dirinya sebagai Big Mouse yang dipandang sikap sadar untuk membangun orientasi di kehidupan yang bersifat mekanis.

Pemaknaan Hidup dalam Perlawanan Albert Camus

Albert Camus menawarkan beberapa landasan pemaknaan hidup sebagai sikap keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi di realitas. Kesadaran terhadap kebutuhan hidup dan keyakinan untuk terus hidup. Kesadaran terhadap kebutuhan hidup merupakan tawaran awal dalam pandangan Albert Camus bahwa manusia harus berpikir secara rasional dan tidak melibatkan emosional untuk memilih jalan hidup. Rasional berarti menganalisis berbagai akar perkara yang dihadapi untuk memperoleh orientasi dan alasan melakukan perlawanan. Sedangakn keyakinan untuk terus hidup merupakan sebuah hasil dari berpikir rasional bahwa manusia telah memperoleh orientasi atau alasan hidup. Park Chang-ho setelah membawa batu memutuskan untuk membersihkan nama baik sebagai orientasi hidup. Proses untuk mencapai orientasi dilakukan dengan cara melibatkan Big Mouse asli dari berbagai masalah yang dihadapi sebagai kebutuhan hidup di realitas.

Kesadaran terhadap kebutuhan hidup dan keyakinan untuk terus hidup akan meniscayakan kebebasan . Pemertahanan eksistensi kebebasan berarti kemampuan individu untuk mengambil langkah merealisasikan orientasinya. Manusia harus bebas untuk merancang berbagai strategi dalam rangka memperjuangkan hidupnya di tengah berbagai permasalahan. Akibatnya, nilai baik dan buruk bersifat relatif yang berdasarkan pada orientasi yang ingin dituju. Adapun, pemertahanan eksistensi, ialah mengabaikan kematian untuk berfokus untuk membangun makna hidup yang baru berdasarkan kebutuhan dan orientasi individu.

Menurut Albert Camus, eksistensi manusia didasari oleh kebebasannya untuk berada di realitas. Bahkan, manusia tetap ada, jika mengalami keterasingan. Keberadaan manusia dalam keterasingan dalam dianalisis melalui berbagai perlawanan untuk membebaskan diri dari berbagai macam keterasingan di realitas. Dalam kasus ini, Park Chang-ho berusaha untuk berbagai problematika yang dipandang telah memenjarakan eksistensinya, sehingga tidak mampu untuk membuka diri di realitas.

Kesimpulan

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pandangan filosofi Albert Camus berusaha menyadarkan manusia untuk melawan berbagai permasalahan hidup daripada memilih kematian sebagai cara seorang pengecut. Manusia memiliki kebebasan untuk memikirkan orientasi dan kebutuhan makna hidup sebagai perlawanan yang dipandang cara individu memaknai hidup di tengah keterasingan serta berbagai masalah yang bergejolak dalam dirinya.

 

Editor: Ahmed Zaranggi



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 4 =