Penulis: Weliya Alfin Robeth K.

Editor: Wa Ode Zainab Zilullah T

Sastra merupakan salah satu karya seni yang berbasis bahasa. Dengan kata lain, sastra adalah seni bahasa yang biasanya melahirkan karya. Sebagai karya seni, sastra lebih dikenal dalam masyarakat sebagai karya rekaan, hasil dari pemikiran seorang penulis, pengarang, atau sastrawan. Sastra biasanya digunakan untuk media pengungkapan hasil penghayatan hidup seorang pengarang atau sastrawan.

Sejarah sastra sendiri amatlah panjang; bahkan, sejak Yunani Kuno, sastra telah masyhur dalam pandangan beberapa filsuf, salah satunya ialah Plato.  Sapardi Djoko Damono menyatakan, dalam karyanya Sastra dan Pendidikan, bahwa Plato berpandangan segala sesuatu yang ada ini sebenarnya hanyalah tiruan dari kenyataan tertinggi yang ada di alam Idea.[1]

Plato dan Sastra

Prof. Dr. K. Bertens dalam Sejarah Filsafat Yunani menyebutkan bahwa Plato lahir pada tahun 428/7 dalam seuatu keluarga terkemuka di Athena. Ayahnya bernama Ariston dan ibunya Periktione.[2] Sejak masa mudanya ia telah banyak bergaul dengan tokoh-tokoh politik di Athena. Ia diyakini sebagai filsuf yang berperan besar dalam filsafat Yunani Kuno dan filsafat Barat secara umum.

Bapak Idea—sebutan lain Plato– sendiri merupakan murid dari Sokrates. Pengaruh Sokrates terhadap dirinya dapat dilihat dari beberapa karyanya yang dipengaruhi pemikiran sang guru. Bahkan, analogi goa yang diberikan oleh Plato untuk memperkenalkan teori Idenya disinyalir merupakan kisah hidup Sokrates dan Kaum Sofis.

Selain bersifat Sokratik, karyanya memiliki khas yang bersifat dialog. Hampir semua karya yang ditulis oleh Plato merupakan dialog. Bahkan, Plato diketahui merupakan filsuf pertama yang memilih “dialog” sebagai bentuk sastra sebagai media pengejawantahkan pikiran-pikirannya.

Tak syak, selain dikenal sebagai filsuf, Plato pun dikenal sebagai sastrawan. Karya-karya Plato memiliki nilai unggul dalam kesusastraan dunia. Salah satu karya yang terkenal dari Plato diantaranya adalah Republik. Dalam karyanya tersebut, Plato mencoba mengulas mengenai hubungan-hubungan yang ada antara sastra dan masyarakat.

Mimesis Plato

Pandangan Plato di sini tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan filsafatnya, mengenai kenyataan yang bersifat hirarki. Dalam pandangannya, kenyataan alam semesta ini masih menggantung terhadap kenyataan yang derajatnya lebih tinggi yang ada di dunia Ide.

Seperti halnya suatu benda yang ada di depan kita—Handphone—merupakan tiruan dari benda yang ada di dunia Ide.  Jadi, realitas empiris tidak benar-benar mewakili kenyataan yang sesungguhnya, hanya saja hal ini dapat didekati melalui “mimesis”.

Menurut A.Teeuw, mimesis merupakan peneladanan, pembayangan ataupun peniruan,[3] misalnya seorang sastrawan yang membuat gambaran mengenai kertas, tidak dapat langsung membuat tiruan kertas yang ada di dunia Ide. Ia hanya meniru kertas yang ada di dunia nyata. Dengan kata lain, sastra dapat dikataan semakin menjauhkan dari dunia Ide yang merupakan realitas tertinggi.

Bagi Plato, mimesis terikat pada ide pendekatan, tidak menghasilkan yang sesungguhnya. Jadi, lewat mimesis tataran yang lebih tinggi tidak dapat mengacu langsung pada nilai-nilai Ideal.  Dengan kata lain, merujuk pada pemikiran Plato, dunia Ide lebih bernilai daripada sastra itu sendiri.

Seperti halnya pengrajin kertas (atau benda lain) yang lebih tinggi kedudukannya dalam masyarakat—sebab lebih dekat pada dunia Ide—daripada sastrawan yang gagasannya ia dapat dari benda-benda dalam dunianya.

Dalam hal ini, bukan berarti seni atau karya seni telah kehilangan nilainya. Meskipun di sini tampak bahwa seni berada pada tataran lebih rendah dari kenyataan, akan tetapi seni yang sesungguhnya mencoba mendekati kenyataan sehari-hari.

Bagi Plato, seni telah memiliki aspek ganda: dalam perwujudan yang tampak seni adalah benda yang sangat rendah nilainya [bayangan]; namun, seni memiliki pula hubungan tak langsung dengan sifat hakiki benda-benda.[4]

Walaupun pandangan Plato cenderung merendahkan nilai karya seni yang hanya dianggap sebagai tiruan dari dunia Ide, tetapi ada sesuatu yang tersembunyi, yaitu hubungan antara karya seni dan masyarakat atau kenyataan. Jadi, bagi Plato, nilai yang ada pada karya sastra atau karya seni lainnya telah memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di masyarakat atau kenyataan.

Referensi:

Sapardi Djoko Damono, Sastra dan Pendidikan, Yogyakarta: Pabrik Tulisan, 2021.

Prof. Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Penerbit PT Kanusius, 2018.

A.Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra, Bandung: Dunia Pustaka Jaya, 2012.


[1] Sastra Dan Pendidikan, Sapardi Djoko Damono. Hal.110

[2] Sejarah Filsafat Yunani, Prof.Dr.K.Bertens. Hal.115

[3] Sastra dan Ilmu Sastra, A.Teeuw. Hal.168.

[4] Ibid.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 5 =