Metode spiritual merupakan sebuah metode filosofis yang digunakan oleh para pemikir Barat dan Muslim untuk mengkaji tema-tema metafisik dalam sistem filsafatnya. Hegel menggunakan pendekatan spiritual untuk membuktikan keberadaan entitas realitas yang memiliki nilai transenden, bersifat becoming menuju roh absolut sebagai bentuk kesempurnaan. Sedangkan, Ibn Sina menggunakan pendekatan spiritual untuk membuktikan keberadaan dan aktualitas jiwa manusia di realitas. 

Penerapan spiritual sebagai metode diskursus filsafat mendeskripsikan urgensinya sebagai suatu pendekatan untuk menjelaskan nilai-nilai transendental dalam pandangan para filsuf Barat dan Muslim. Penerapan spiritual dalam kajian metafisik mendeskripsikan makna spiritual berkaitan dengan nilai-nilai transendental.  

Secara etimologi, kata spiritual berasal dari bahasa Yunani, yaitu pneuma bermakna jiwa, ruh, dan mental. Kata pneuma, kemudian diserap dalam bahasa Latin, spiritus bermakna napas. Secara pemaknaan, kata napas berarti udara yang dihirup melalui alat pernapasan untuk memberikan kehidupan bagi individu. Jika kata napas dikaitkan dengan kata pneuma, maka dapat diketahui bahwa suatu individu tidak dapat memperoleh kehidupan, tanpa keberadaan jiwa di realitas. Jiwa merupakan syarat wajib untuk menghidupkan individu di realitas.

Kata spiritus, kemudian diserap dalam bahasa Inggris, yaitu spirit bermakna jiwa, ruh, dan mental. Andy Tamas dalam paper-nya berjudul Spirituality and Development menjelaskan kata spirit berhubungan dengan term jiwa terstruktur dari immateri, tak berbadan, dan transendental sebagai sebuah substansi eksistensi individu di realitas. Sementara itu, Rudolf Steiner dalam karyanya berjudul The Philosophy of Spiritual Activity bahwa spiritual adalah kekuatan transendental mendorong manusia untuk menyempurnakan dirinya di realitas. 

Proses kesempurnaan eksistensi manusia dapat dicapai melalui cara aktualitas pengetahuan manusia terhadap segala sesuatu di realitas. Aktualitas pengetahuan akan meningkatkan keberadaan manusia menuju eksistensi transendental (beyond materialistic). Berdasarkan ragam definisi, dapat disimpulkan bahwa spiritual ialah sesuatu bersifat kejiwaan memberikan refleksi bagi eksistensi manusia menuju proses kesempurnaan transendental (beyond materialistic).

 Dalam filsafat Mulla, metode spiritual dikaji dalam tema harakah al-jauhariyah bahwa jiwa merupakan substansi inti manusia senantiasa mengalami pergerakan dari potensial menuju aktualitas eksistensi di realitas. Potensialitas jiwa merupakan kesempurnaan utama bagi jasmani, sebab setiap individu tidak dapat berkehendak dan berpikir tanpa pengaruh jiwa di realitas. Meskipun, jiwa merupakan kesempurnaan utama bagi tubuh, perlu diketahui bahwa keberadaan jasmani juga berfungsi sebagai wadah aktualitas bagi jiwa di realitas. 

Aktualitas jiwa dalam pandangan Mulla Sadra ialah proses keterlepasan eksistensi manusia pada entitas materi dengan melibatkan kesempurnaan akal sebagai fakultas tertinggi jiwa untuk mengetahui sesuatu bersifat hakiki dan non-hakiki di realitas. Kesempurnaan akal manusia untuk mengetahui sesuatu bersifat hakiki dan non-hakiki. Ini didasari oleh kemampuan menganalisis dan mengkaji seluruh keberadaan eksternal dengan melibatkan panca indra. 

Mulla Sadra menjelaskan bahwa pengetahuan awal manusia terhadap seluruh entitas diperoleh melalui persepsi panca indra untuk menghasilkan gambaran partikular, contoh: Ain melihat kertas itu putih di sampul bukunya yang menghasilkan pengetahuan partikular. Sebab predikasi putih pada kertas sebagai subjek hanya terjadi pada satu entitas saja. Kemudian, gambaran partikular akan dianalisis oleh akal untuk memproduksi konsep-konsep universal, sehingga pemahaman Ain mengenai putih tidak sekadar berlaku pada kertas, akan tetapi dapat dinisbatkan pada entitas lain, seperti salju, tembok, dan meja dengan memperhatikan korespondensi antara pengetahuan internal dan eksternal di realitas. 

Korespondensi antara pengetahuan internal dan eksternal merupakan cara memperoleh kebenaran dalam paradigma manusia, sehingga ia dapat mengetahui sesuatu sesuai dengan realitas. Mulla Sadra menjelaskan bahwa proses korespondensi antara pengetahuan internal dan eksternal didasari oleh wujud. Sebab, Mulla Sadra meyakini bahwa wujud ialah sesuatu prinsipilitas, sehingga keberadaan dan pengetahuan manusia bergantung pada wujud. 

Wujud dalam pandangan Mulla Sadra bukan sebatas pada materi, sebagaimana pemahaman para filsuf Barat, akan tetapi wujud ialah bersifat universal berlaku pada setiap domain keberadaan manusia, sehingga setiap individu dapat memahami kesempurnaan eksistensi terjadi pada lingkup immateri dan materi. Implikasinya, manusia dapat memperoleh sebuah kesempurnaan bersifat holistik melalui aktualitas jiwa di realitas. 

Kesempurnaan holistik dalam diri manusia menjelaskan bahwa jiwa memiliki ragam perjalanan yang bersifat bertingkat-tingkat untuk mengaktualkan dirinya di realitas. Perjalanan bertingkat-tingkat dialami oleh jiwa untuk mencapai aktualitas mengindikasikan bahwa wujud bersifat gradasi. Mulla Sadra memandang bahwa terjadinya gradasi dalam wujud didasari oleh keunikan wujud untuk menyempurnakan ragam insan di realitas. 

Keunikan wujud untuk menyempurnakan ragam mahiyah berbeda dalam pandangan Ibn Sina menjelaskan bahwa wujud bersifat partikular, sehingga setiap entitas memiliki keberadaan lebih sempurna dan kurang sempurna. Perbedaan antara Ibn Sina dan Mulla Sadra, ialah wujud tidak bersifat plural dalam Hikmah Muta’aliyah, akan tetapi wujud memiliki ragam tingkatan untuk menyempurnakan jiwa sehingga setiap individu memiliki aktualitas jiwa berbeda-beda. 

Perbedaan aktualitas jiwa manusia didasari oleh kesempurnaan manusia untuk menganalisis objek realitas, sehingga ia dapat memperoleh pengetahuan terhadap hakikat realitas. Pengetahuan terhadap hakikat realitas akan mengaktualkan jiwa manusia untuk bergerak secara bebas menuju kesempurnaan melampui ragam materi di realitas.

Pergerakan jiwa melampaui materi mendeskripsikan proses transendental eksistensi manusia menuju wadah yang lebih tinggi untuk menyederhanakan keberadaannya di realitas. Kesederhanaan keberadaan manusia bersifat transendental mengantar setiap individu untuk mengetahui entitas absolut sebagai sumber keberadaan dan kesempurnaan eksistensi di realitas. 

Pengetahuan manusia terhadap entitas absolut mendeskripsikan bahwa konsep insan ilahi dalam pandangan Mulla Sadra memiliki corak spiritual yang senantiasa mengalami kesempurnaan melampaui keberadaan materi dengan melibatkan aktualitas jiwa di realitas.

 

Editor: Wa Ode Zainab ZT



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

2 thoughts on “Melacak Metode Spiritual dalam Wacana Filsafat Barat dan Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + 9 =