Filsafat dan Agama dalam Perspektif Imam Khomeini

Stats: 58 Views | Words: 648

4 minutes Read








Oleh: Mhd Yasir

Judul : Antara Filsafat dan Penafsiran Teks-Teks Agama: Pengaruh dan Relasinya dalam Pemikiran Imam Khomeini

Penulis : Dr. Muhammad Reza Irsyadi Nia

Penerbit : Sadra Press

Tahun Terbit : 2012

ISBN : 978-602-9261-37-0

Tebal : 171 halaman

 

Imam Khomeini adalah ulama besar Syiah, filsuf, arif, dan sang revolusioner yang berhasil menyatukan fikih, filsafat, irfan, dan praksis sosial dalam satu proyek peradaban Islam modern. Ia bukan sekadar pemimpin Revolusi Islam Iran 1979, melainkan arsitek konseptual negara Islam kontemporer.

Nama lengkap Imam Khomeini adalah Rūḥullāh ibn Muṣṭafā al-Mūsawī al-Khomeinī. Ia lahir pada 24 September 1902 di Khomein, Iran, dan wafat pada 3 Juni 1989 di Teheran. Sejak usia muda, Imam Khomeini menempuh pendidikan keilmuan Islam secara mendalam. Ia mempelajari fikih dan ushul fikih, ‘irfan, dan filsafat Islam.

Pendidikan dan aktivitas intelektualnya berkembang di Hauzah Ilmiah Qom, tempat ia belajar sekaligus mengajar, hingga diakui sebagai marja‘ taqlid yang memiliki pengaruh luas di dunia Islam, terutama Syiah.

Dalam bidang politik, pemikiran Imam Khomeini dirumuskan secara sistematis dalam konsep Wilāyat al-Faqīh. Konsep ini menegaskan bahwa pada masa kegaiban Imam Mahdi, kepemimpinan umat Islam berada di tangan faqih yang adil, berilmu, dan bertanggung jawab secara moral dan sosial. Gagasan tersebut kemudian menjadi landasan ideologis dan konstitusional Republik Islam Iran.

Sebelum revolusi kritik kerasnya terhadap rezim monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi, kebijakan sekularisasi, serta dominasi Barat, membuat beliau mengalami pengasingan politik selama hampir lima belas tahun, yang membawanya ke Turki, Irak, dan Prancis. Namun, justru dari masa pengasingan inilah pengaruh pemikirannya semakin meluas dan membangkitkan kesadaran revolusioner rakyat Iran.

Pada tahun 1979, Imam Khomeini kembali ke Iran dan memimpin revolusi yang berhasil menggulingkan monarki Pahlavi serta mendirikan Republik Islam Iran, sehingga mengubah secara fundamental sistem politik negara.

Ulasan

Relasi antara filsafat dan penafsiran teks agama merupakan salah satu tema sentral dalam diskursus pemikiran Islam klasik maupun kontemporer. Ketegangan antara pendekatan rasional-filosofis dan pendekatan tekstual-skriptural kerap melahirkan dikotomi epistemologis yang berakibat pada cara umat beragama memahami wahyu. Dalam konteks inilah buku Antara Filsafat dan Penafsiran Teks-Teks Agama karya M. Reza Irsyadi Nia memperoleh relevansi akademiknya.

Buku tersebut mengkaji secara mendalam bagaimana Imam Khomeini memosisikan filsafat dalam penafsiran teks-teks agama, serta bagaimana relasi antara akal, wahyu, dan dimensi batin disintesiskan dalam kerangka pemikiran beliau. Karya ini sekaligus berupaya menepis anggapan bahwa filsafat merupakanancaman bagi kemurnian ajaran agama. Tujuan utama buku ini adalah menunjukkan bahwa dalam pemikiran Imam Khomeini tidak terdapat pertentangan esensial antara filsafat dan wahyu.

Kelebihan

Reza mengajukan tesis bahwa filsafat justru berfungsi sebagai instrumen epistemologis yang membantu manusia memahami makna terdalam teks-teks agama, tanpa menafikan otoritas wahyu itu sendiri.

Menurutnya, Imam Khomeini melihat filsafat, tafsir, dan ‘irfan sebagai tiga jalur yang saling melengkapi dalam pencarian kebenaran. Ketiganya bukanlah disiplin yang berdiri secara terpisah, melainkan berada dalam satu wilayah ontologis dan epistemologis yang sama, yakni pengenalan terhadap sang Maha Kuasa.

Secara metodologis, buku ini bergerak dalam kerangka epistemologi integratif yang mencakup: Akal (filsafat) sebagai sarana rasional untuk memahami struktur makna dan realitas, Wahyu (teks agama) sebagai sumber kebenaran normatif dan transenden. Selain itu, Qalb (‘irfan) sebagai medium penyaksian batin atas kebenaran tersebut.

Kekurangan

Meskipun demikian, kedalaman analisis yang disajikan dalam buku ini menuntut prasyarat pengetahuan. Pembaca yang belum memiliki latar belakang memadai dalam filsafat Islam akan menghadapi tantangan tersendiri dalam memahami bangunan argumentasi yang dikembangkan penulis.

Banyak istilah teknis dan asumsi konseptual digunakan tanpa elaborasi pendahuluan yang cukup, sehingga buku ini lebih tepat diposisikan sebagai rujukan bagi kalangan akademisi dan peneliti yang telah akrab dengan tradisi pemikiran Islam klasik, ketimbang sebagai pengantar bagi pembaca umum.

Kesimpulan

Buku ini berhasil menunjukkan bahwa filsafat bukanlah lawan agama, melainkan mitra epistemologis dalam memahami wahyu dan realitas eksistensial secara utuh. Dengan memadukan kedalaman tradisi ‘irfan, kekuatan argumentasi filosofis, dan kepekaan terhadap dimensi batin manusia, karya ini menawarkan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan wacana filsafat Islam kontemporer. Buku ini layak dijadikan rujukan utama bagi mahasiswa dan peneliti yang mengkaji filsafat Islam, tafsir filosofis, dan irfan sebagai satu kesatuan epistemologis yang tak terpisahkan.





Citation format :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *