Kesyahidan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei: Refleksi Filosofis-Teologis

Stats: 35 Views | Words: 814

5 minutes Read








Penulis: Wa Ode Zainab Zilullah
Editor: Murteza Asyathri

Pada Sabtu (28/2), Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran. Israel menamai operasi ini “Operation Roaring Lion”, sementara AS menyebutnya “Operation Epic Fury”. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah utara Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah, seperti Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Uni Emirat Arab. Serangan ini terjadi di tengah negosiasi nuklir AS-Iran yang buntu. Mediator Oman melaporkan bahwa perundingan masih berlangsung hingga menjelang serangan, namun AS menuntut syarat yang lebih luas dari sekadar denuklirisasi, mencakup pembongkaran permanen fasilitas Fordow dan Natanz, serta penghentian dukungan Hezbollah, Hamas, dan Houthi. Tuntutan tersebut ditolak Iran.

Pemimpin Pemberani Tak Bersembunyi

Dunia dikejutkan oleh berita dari Teheran, Ahad (1/3/2026), bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, gugur dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kantor Berita Iran IRIB mengonfirmasi bahwa Imam Khamenei syahid di Kantor Rahbar (Beit Rahbari) saat menjalankan tugas. Selain Sayyid Khamenei, sejumlah pejabat senior Iran turut syahid, termasuk Panglima IRGC Mohammad Pakpour, Menteri Pertahanan Amir Nasirzadeh, dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mohammad Bagheri. Putri, menantu, dan cucunya juga dilaporkan syahid. Iran menyatakan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Seorang pemimpin berusia 86 tahun, yang memiliki otoritas dan sarana untuk menyelamatkan diri, memilih untuk tidak pergi. Ia tidak bersembunyi di bunker. Ia tidak melarikan diri dan tetap duduk di kursi kepemimpinannya, menghadapi kematian dengan tegak dan bermartabat. Kata-katanya yang kini menjadi wasiat abadi: “Bunuh aku, perang tidak akan berakhir. Pertarungan ini bukan milik saya, ini milik pemuda Iran”, terbukti bukan sekadar retorika, ia menggenapi perkataannya mereguk cawan kesyahidan.

Tradisi Syahadah di Iran

Sejak Revolusi Islam 1979, gugurnya tokoh-tokoh besar justru menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi perjuangan Iran. Murtadha Muthahhari, filsuf Islam, syahid dibunuh kelompok Furqan pada 1 Mei 1979. Dua tahun kemudian, 28 Juni 1981, bom meluluhlantakkan markas Partai Republik Islam, mengugurkan Muhammai Beheshti, arsitek konstitusi Iran dan Kepala Mahkamah Agung. Tradisi ini berlanjut hingga era modern: pada 3 Januari 2020, Mayjen Qassem Sulaimani, Komandan Pasukan Quds IRGC, arsitek pengaruh militer Iran di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman, gugur dalam serangan drone Amerika Serikat di Bandara Baghdad atas perintah Presiden Donald Trump. Bagi Iran, setiap kesyahidan bukan akhir perjuangan, melainkan bahan bakar yang memperbarui tekad generasi berikutnya.

Filsafat Eskatologi Mulla Sadra

Untuk memahami mengapa Imam Khamenei menyambut syahadah dengan ketenangan, kita harus merujuk pada tradisi filsafat Islam. Mulla Sadra (Shadr al-Din al-Shirazi, 1571–1640), filsuf terbesar dalam tradisi Hikmah Muta’aliyah (Teosofi Transenden), mengembangkan konsep eskatologi yang revolusioner. Dalam magnum opus-nya al-Asfar al-Arba’ah, Mulla Sadra menjelaskan bahwa jiwa manusia dalam kematian tidak lenyap, melainkan berpindah modus eksistensi dengan berlandaskan “gerak trans- substansial” (al-harakah al-jawhariyyah) menuju kesempurnaan Ilahi. Dalam kerangka ini, syahadah bukan tragedi, melainkan lompatan ontologis.

Filosofi Kematian Murtadha Muthahhari

Murtadha Muthahhari menguraikan makna kesyahidan secara mendalam. Dalam Jihad and Shahadat, Muthahhari menegaskan bahwa syahadah bukan kematian yang datang, melainkan kematian yang dipilih secara sadar atas dasar cinta kebenaran dan penolakan terhadap kezaliman. Muthahhari membedakan antara kematian biasa (ajal) dengan syahadah: yang pertama datang padamu, yang kedua kamu yang mendatanginya. Etika ini termanifestasi dalam kepemimpinan yang menolak kalkulasi keselamatan diri demi komitmen moral tertinggi, sebagaimana tercermin dalam sikap Imam Khamenei yang memilih bertahan di tengah tekanan militer.

Imam Khomeini dan Teologi Politik Perlawanan

Dimensi politik dari syahadah Imam Khamenei tidak dapat dipisahkan dari warisan pemikiran Imam Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran. Dalam karyanya Hukumat-e Islami, Imam Khomeini berargumen bahwa seorang pemimpin sejati tidak memimpin untuk kekuasaan, melainkan untuk amanah Ilahi dan amanah itu tidak gugur bersama kematian fisik. Imam Khomeini sendiri, ketika diasingkan dan diancam, tidak pernah mundur; melainkan kembali ke Iran dan berjuang bersama bangsanya. Dalam tradisi ini, pemimpin yang syahid justru melahirkan semangat membara yang melampaui kemampuan militer manapun untuk dipadamkan. Seperti yang ditulis Imam Khomeini: “Darah syahid lebih tajam dari pedang.”

Imam Khamenei mengungkapkan bahwa “Bangsa pejuang ini dipimpin oleh para pemuda Iran dan mereka akan tetap tak tekalahkan. Bahkan jika mereka membunuh saya, Iran tidak akan dirugikan; Iran berada di pihak moralitas, Iran tidak memperbudak siapa pun di dunia.” Hal ini sejalan dengan QS. Ali ‘Imran ayat 169: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.” Sebagaimana Iran saat ini, meskipun The Supreme Leader telah syahid, tetapi semangat bangsa tersebut untuk menegakkan keadilan tidak memudar. Dalam konteks ini, syahadah dalam tradisi Islam tidak dipandang sebagai kekalahan karena spiritnya menjalar dalam sosok-sosok lainnya.

Syahidnya Imam Khamenei menjadi katalis baru konsolidasi nasional Iran, tampak jutaan rakyat Iran turun ke jalan dalam tangis dan tekad untuk berjuang. Bahkan, Yaman meluncurkan roket ke arah Israel sebagai respons solidaritas. Di media sosial, narasi yang mendominasi bukan duka semata, melainkan ikrar menentang hegemoni. Dalam perspektif filosofis Mulla Sadra, kematian Imam Khamenei adalah “gerakan trans-substansial” seseorang yang telah mengabdikan seluruh eksistensinya pada nilai-nilai kemanusiaan. Sejarah berulang: dari Asyuro Karbala ke tragedi syahadah dengan pesan yang sama: Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Bagaimana percaturan dunia di masa mendatang?





Citation format :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *