Merekonstruksi Tradisi Islam Melalui Nalar Epistemologis

Stats: 49 Views | Words: 498

3 minutes Read








Oleh: Nihayatul Fitriyah

Judul : Nalar Kritis Epistemolog Muslim: Imam al-Ghazali, Ibn Rusyd, Thaha Husein, dan Muhammad Abid Al-Jabiri

Penulis : Prof. Dr. Aksin Wijaya

Penerbit : IRCiSoD

Tahun Terbit : 2024

ISBN : 978-623-8108-46-6

Tebal : 272 halaman

Buku berjudul Nalar Kritis Epistemolog Muslim ini mencoba merekonstruksi tradisi Islam dengan mengomentari karya-karya para pemikir muslim kritis, baik klasik, modern, maupun kontemporer, yang dinilai terlupakan. Upaya menghadirkan karya-karya tersebut dimaksudkan untuk memberikan nuansa baru dalam wacana Islam di Indonesia. Terlebih, karya-karya yang dikomentari tidak hanya berasal dari figur-figur arus utama Islam, bahkan para pemikir yang dianggap bermasalah oleh kelompok “kanan Islam” pun turut dibahas dalam buku ini.

Buku ini menarik, baik dari segi metode maupun wacananya. Dengan menggunakan metode kajian yang dirumuskan oleh Amin Abdullah, Aksin Wijaya mengomentari dan mengungkap sisi lain dari gagasan-gagasan besar para pemikir muslim. Hasilnya cukup mengesankan: pemikiran Islam, termasuk para tokohnya, ternyata tidak berwajah tunggal, melainkan memiliki wajah ganda.

Di satu sisi, ada pemikir yang menampilkan wajah yang layak dikonsumsi masyarakat umum, namun di sisi lain menyembunyikan wajah aslinya yang jika ditampilkan justru dapat menimbulkan persoalan besar. Sebaliknya, ada pula pemikir yang tampilan luarnya dinilai bermasalah oleh khalayak umum, namun di balik itu sesungguhnya memiliki pandangan yang sejalan dengan nalar umum.

Melalui pendekatan inilah, Aksin Wijaya mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru menghakimi seorang pemikir hanya berdasarkan citra luarnya. Setiap gagasan perlu dibaca secara utuh dan mendalam, karena di balik teks yang tampak sederhana sekalipun, seringkali tersimpan lapisan makna yang jauh lebih kompleks. Inilah yang menjadikan buku ini tidak sekadar kumpulan komentar atas karya-karya besar, melainkan sebuah undangan untuk berpikir lebih kritis dan terbuka dalam memahami tradisi intelektual Islam.

Kelebihan

Buku ini menawarkan wawasan yang mendalam mengenai cara berpikir dan kontribusi empat epistemolog muslim, yaitu Imam al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Thoha Husein, dan Muhammad Abid al-Jabiri. Penulis secara kritis mengomentari dan membandingkan gagasan-gagasan besar para tokoh tersebut, mulai dari era klasik, modern, hingga kontemporer, guna merekonstruksi tradisi Islam. Buku ini juga memiliki relevansi kuat dengan konteks masa kini karena berupaya memberikan nuansa baru dalam pemikiran Islam di Indonesia. Metode yang digunakan pun menjadi daya tarik tersendiri, yakni metode kajian yang dirumuskan Amin Abdullah, yang dinilai efektif dalam mengungkap sisi-sisi tersembunyi dari para epistemolog tersebut.

Kekurangan

Kekurangan yang ditemukan dalam buku ini adalah cakupan pembahasannya yang terbatas pada empat tokoh saja, padahal masih banyak epistemolog muslim lain yang relevan untuk dikaji. Hal ini tentu membatasi perspektif yang dapat diperoleh pembaca. Selain itu, karena topik yang diangkat bersifat filosofis dan epistemologis, buku ini berpotensi menjadi berat bagi pembaca awam yang tidak memiliki latar belakang yang memadai dalam bidang filsafat.

Kesimpulan

Buku karya Prof. Dr. Aksin Wijaya, Nalar Kritis Epistemolog Muslim, sangat bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin memahami pemikiran para epistemolog muslim dalam rangka menjawab persoalan-persoalan yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Buku ini membahas secara sistematis setiap tokoh yang dikaji, mulai dari latar belakang, biografi intelektual, hingga model-model epistemologi yang mereka kembangkan. Dengan demikian, buku ini sangat layak dijadikan referensi bagi para peneliti dan mahasiswa yang mengkaji permasalahan agama maupun politik.

 





Citation format :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *