Penulis: Khodadad Azizi
Editor: Ayu Lestari


Jika ditanyakan apa persisnya definisi filosofis dari eksistensialisme, mungkin banyak dari kita yang bingung, tidak tahu, atau menerka-nerka apa jawabannya. Karena memang, jawaban atas pertanyaan itu sangat langka, atau bahkan tidak tersedia di buku-buku bertuliskan “eksistensialisme” di sampulnya. Padahal, eksistensialisme sebagai salah satu corak dari filsafat adalah salah satu yang berpengaruh, namun ironisnya malah tak banyak yang mencoba menggali apa itu sebenarnya eksistensialisme.

Akibatnya, eksistensialisme diterima begitu saja sebagai filsafat yang membahas soal kecemasan, kebebasan, kematian, absurditas, otentisitas, dan lain sebagainya, dengan secara longgar mengklasifikasikan nama-nama seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Albert Camus, dan sejumlah tokoh-tokoh lain yang memiliki pembahasan serupa ke dalam satu “payung” eksistensialisme.

Tidakkah tiap nama-nama itu memiliki keotentikan pemikirannya masing-masing, yang apabila “disepayungkan” bakal berpotensi mengacaukan keorisinilannya? Untuk itu, perlu definisi yang tajam tentang eksistensialisme, supaya jelas siapa saja tokoh yang tepat disebut eksistensialis dan tokoh yang tidak.

Dalam tulisan ini, penulis akan menghadirkan definisi yang jelas dari eksistensialisme, dengan bersumber dari buku Rethinking Existentialism karya Jonathan Webber. Kita akan melihat batasan yang jelas, hingga tak semua tokoh dan bahasan dapat sesuai dan dikategorikan dengan eksistensialisme.

SEKILAS SEJARAH KEMUNCULAN
Eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat yang cukup populer. Namun, kepopulerannya kemudian berbuntut panjang hingga definisi filosofis yang tepat dari pertanyaan “Apa itu Eksistensialisme?” menjadi buram dan kabur.

Keburaman itu barangkali berpangkal pada istilah eksistensialisme yang hadir di tengah publik Prancis pasca Perang Dunia Kedua. Dari situlah kemudian orang-orang mulai tertarik.

Dua figur penting penyebab kemunculannya adalah Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Sebenarnya, istilah “eksistensialisme” bukanlah berasal dari Sartre ataupun Beauvoir. Namun, gelombang publik lah yang kemudian mempredikatkan istilah itu pada gagasan-gagasan yang dibawa oleh Sartre dan Beauvoir. Sartre (mungkin juga Beauvoir) sempat menolaknya, lalu kemudian mau tak mau menerimanya, dan menggunakan istilah “eksistensialisme” sebagai wadah untuk proyek-proyek filosofisnya (Lianawati, 2021).

Dokumentasi sejarah mencatat betapa gerakan ini begitu menjadi daya tarik yang kuat kala itu. Pasalnya, sesaat setelah eksistensialisme “menyerang” masyarakat Prancis, saat itu juga timbul fenomena seperti gaya rambut eksistensialis, aktor eksistensialis, kejahatan khas eksistensialis, dan berbagai hal-hal lain dengan embel-embel eksistensialis yang mengikutinya (Lianawati, 2021).

Sayangnya, banyak orang-orang yang akhirnya jatuh pada hanya sekadar ikut-ikutan tren, dan sama sekali tidak membaca dan mempelajari eksistensialisme secara menyeluruh. Hal tersebut tak terkontrol, eksistensialisme kian digandrungi akan tetapi diskursusnya tidak begitu dihiraukan. Sebagian diskursusnya pun berlangsung dengan tidak kondusif, seperti kuliah publik Sartre di Club Maintenant, 29 Oktober 1945.

Pada akhirnya, publik tak lagi mempertanyakan eksistensialisme an sich, tetapi lebih kepada seperti apa lelaki eksistensialis, atau seperti apa perempuan eksistensialis, yang tentu saja jawabannya mengarah kepada sosok Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, karena memang mereka berdualah yang bertanggung jawab secara signifikan atas tren filosofis baru yang disebut eksistensialisme tersebut (Lianawati, 2021).

Begitulah kira-kira gambaran yang terjadi saat istilah serta gagasan mengenai eksistensialisme pertama hadir. Lalu bagaimana dengan sekarang? Agaknya masih banyak pembelajar filsafat secara umum, atau bahkan yang khusus menggeluti eksistensialisme, belum mengetahui secara persis apa itu eksistensialisme.

TEMUAN JONATHAN WEBBER
Jonathan Webber, seorang profesor filsafat dari Cardiff University, menjelaskan melalui bukunya Rethinking Existentialism (2018), bahwa banyak dari buku-buku yang berisi tentang eksistensialisme cenderung menjauhi definisi filosofis dari eksistensialisme itu sendiri. Ia menulis:

But articles and books on existentialism written in English ever since have eschewed precise philosophical definition, instead identifying it loosely as a movement of thinkers concerned with certain questions and to some extent providing similar answers.” (Webber, 2018)

Buku-buku tadi ironisnya malah berisi tumpukan para pemikir—serta pemikirannya—yang secara serampangan diklasifikasikan sebagai eksistensialisme, tanpa ada batasan yang jernih apa eksistensialisme sebenarnya. Padahal, sebagaimana yang telah disinggung di awal tulisan, hal ini dapat mendistorsi penerimaan atas keotentikan pemikiran pemikir-pemikir tersebut (Webber, 2018).

DEFINISI EKSISTENSIALISME

Di dalam bukunya, Webber memampangkan definisi eksistensialisme yang didefinisikan oleh Simone de Beauvoir dan Jean-Paul Sartre, eksistensialisme adalah:

The ethical theory that we ought to treat the freedom at the core of human existence as intrinsically valuable and the foundation of all other values.” (teori etika yang mengharuskan kita untuk mempertimbangkan kebebasan pada inti keberadaan manusia sebagai sesuatu yang berharga secara intrinsik, dan sebagai fondasi dari seluruh nilai-nilai lain). (Webber, 2018)

Webber menyatakan bahwa sesungguhnya definisi itu sebenarnya telah terkandung dalam slogan “eksistensi mendahului esensi.” Sebuah slogan yang mudah diingat, yang dimaksudkan Sartre untuk mengangkut gagasan bahwa manusia tidak memiliki esensi dan personalitas bawaan tertentu, melainkan mengkreasi esensi, karakter, dan cita-cita mereka sendiri melalui nilai-nilai dan proyek-proyek yang mereka pilih untuk mereka pakai (Webber, 2018).

MENGURAI PARADOKS “EKSISTENSI MENDAHULUI ESENSI”
Barangkali slogan “eksistensi mendahului esensi” nyaris terdengar paradoksal, seolah jika slogan itu memang adalah ciri khas dari manusia, maka bisa saja hal itu menjadi esensi yang telah lebih dulu mendefinisikan seseorang sebelum seseorang mengadopsi nilai-nilai dan proyek-proyek tertentu (Webber, 2018).

Untuk mengatasi paradoks itu, Jonathan Webber memberi jalan keluar dengan memaparkan perbedaan pengartian pada istilah “essence/esensi.” Dalam suatu artian, esensi pada objek tertentu ialah sekumpulan properti-properti yang niscaya ada pada objek supaya objek tersebut memadai untuk dikatakan sebagai objek tersebut. Semisal komposisi kimiawi spesifik yang ada pada air, sehingga untuk mengelompokkan sampel-sampel air, niscaya harus ada komposisi kimiawi spesifik tertentu tersebut (Webber, 2018).

Akan tetapi, dalam artian lain, yakni dalam artian teleologis, esensi adalah:

The relational property of having a set of parts ordered in such a way as to collectively perform some activity.” (properti relasional yang memiliki satu set bagian yang telah diatur sedemikian rupa untuk secara kolektif menjalankan suatu aktivitas). (Webber, 2018)

Sebuah rumah secara esensial adalah tempat berlindung untuk melangsungkan hidup, dalam artian ini, itulah kenapa terdapat dinding dan atap agar terhindar dari angin dan hujan, juga terdapat pintu-pintu untuk tempat keluar-masuk, jendela untuk cahaya masuk, dan lain sebagainya (Webber, 2018).

Esensi dalam artian inilah yang diterapkan Sartre pada manusia. Manusia, bagi Sartre, tidak memiliki seperangkat nilai-nilai bawaan yang secara inheren terstruktur untuk diikuti, akan tetapi, nilai-nilai yang kemudian membentuk perilaku manusia adalah hasil dari pilihan-pilihan yang telah diputuskannya sendiri. Webber menuliskan:

His (Sartre) claim is that a person does not have an inbuilt set of values that they are inherently structured to pursue. Rather, the values that shape a person’s behavior result from the choices they have made. A person’s essence is formed of their chosen values.” (Webber, 2018)

Sartre memberi demarkasi yang jelas bahwa manusia tidak memiliki esensi bawaan, yang pada akhirnya tak ada juga sesuatu seperti fitrah manusia, tak ada esensi bawaan yang seragam di antara orang-orang (Webber, 2018).

EKSISTENSIALISME DAN FILSAFAT EKSISTENSIAL
Bagi Jonathan Webber, jelas siapa saja tokoh yang dapat dikategorikan sebagai seorang eksistensialis. Mereka di antaranya adalah Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Frantz Fanon. Alasannya tentu saja karena gagasan-gagasan yang dibawa oleh mereka bersesuaian dengan definisi dari eksistensialisme (Webber, 2018).

Mungkin ini tampak sebagai upaya mempersempit, tetapi ini juga adalah upaya memperluas. Eksistensialisme mestinya tak lagi dipakai secara serampangan. Alih-alih terus memakai eksistensialisme, gunakanlah istilah filsafat eksistensial (existential philosophy) pada tokoh-tokoh seperti Heidegger, Camus, Kierkegaard, Dostoyevsky, dan lain sebagainya—yang gagasannya berlainan dengan eksistensialisme yang telah kita bahas tadi, meski tetap membahas mengenai penyelidikan eksistensial manusia.

Referensi
Lianawati, E. (2021). Beauvoir Melintas Abad. Yogyakarta: EA Books.

Webber, J. (2018). Rethinking Existentialism. United Kingdom: Oxford University Press.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =