Transhumanisme dan Krisis Eksistensial

Stats: 266 Views | Words: 663

4 minutes Read








Penulis: Zahra Mustafawiyyah
Editor: Wa Ode Zainab Zilullah

Manusia kini berhadapan dengan kontradiksi peradaban: akselerasi kemajuan teknologi dan kehampaan spiritual. Di tengah fasilitas instan dan spektrum kebebasan yang disajikan teknologi modern, muncul pertanyaan eksistensial mendasar: apakah manusia masih bisa mempertahankan otentisitas dirinya?

Transhumanisme, sebagai perwujudan dari kedigdayaan teknologi, menawarkan ilusi keabadian melalui rekayasa genetika dan robotik. Ironisnya, proyek ini mengabaikan dimensi paling esensial dari kemanusiaan, yakni spiritualitas yang menunjukkan ikatan primordial manusia dengan Tuhan.

Transhumanisme adalah gerakan filosofis yang menganjurkan penggunaan teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan bioteknologi, untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas hidup manusia secara fundamental.

Nick Bostrom, pendiri The World Transhumanist Association, mengemukakan bahwa transhumanisme berpandangan bahwa manusia kontemporer bukanlah tahap akhir evolusi, melainkan fase awal yang dapat ditransformasi melalui teknologi (Bostrom, 2003).

Sementara itu, Jacob Shatzer menegaskan bahwa teknologi bukan alat netral, tetapi kekuatan yang membentuk moral, neuron otak, relasi, dan daya ingat penggunanya. Dalam konteks ini, manusia ibarat kepiting dalam panci yang dipanaskan perlahan—tidak menyadari identitas fundamentalnya sedang terurai. Ketika teknologi robotik disatukan dengan tubuh manusia dalam visi bionic human, yang tersisa bukanlah manusia yang disempurnakan, melainkan manusia yang kehilangan makna eksistensialnya sebagai “manusia”.

Ibn Arabi, melalui konsep wahdah al-wujud (kesatuan wujud) atau tauhid eksistensial, berpandangan bahwa satu-satunya wujud sejati adalah Tuhan, dan segala yang ada di alam semesta adalah manifestasi-Nya. Haidar Bagir menjelaskan bahwa ini bukanlah panteisme yang menyamakan segala sesuatu dengan Tuhan, melainkan monorealisme, yakni penegasan akan ketunggalan realitas yang ada (Bagir, 2018).

Ketika konsep ini diterapkan pada problematika transhumanisme, menjadi jelas bahwa upaya menggantikan atau memodifikasi manusia dengan teknologi bukan hanya masalah teknis atau etis, tetapi dapat menciptakan kekacauan terhadap tatanan kosmis. Tugas eksistensial manusia sebagai khalifah di muka bumi seyogyanya dijalankan dengan kesadaran penuh akan posisinya dalam tatanan Ilahi.

Ibn Arabi juga mengungkapkan konsep al-insan al-kamil (manusia sempurna), yakni manusia yang tujuan kehadirannya di bumi adalah memperoleh pengetahuan tentang realitas untuk menjadi manifestasi sempurna dari atribut-atribut Ilahi.

Dalam konteks ini, transhumanisme tampak sebagai persoalan krusial. Alih-alih mengaktualisasikan potensi spiritual untuk menjadi manusia sempurna, transhumanisme justru mereduksi manusia menjadi objek teknologi yang dapat direkayasa sesuai kehendak pasar dan institusi. Akibatnya, manusia perlahan kehilangan kesadaran spiritualnya dan berubah menjadi manusia-mesin.

Tak syak transhumanisme menawarkan kesejahteraan fisik individu melalui augmentasi teknologis. Namun, ia mengabaikan kebutuhan spiritual yang justru lebih mendesak dan esensial bagi eksistensi manusia.

Penyatuan tubuh manusia dengan sistem robotik tidak menyelesaikan kegelisahan eksistensial manusia akan makna dan tujuan hidup; sebaliknya, ia malah menambah penderitaan dengan mengasingkan manusia dari esensi kemanusiaannya.

Ketika tubuh dirusak melalui modifikasi teknologis, jiwa pun mengalami kerusakan karena keterhubungan inheren antara jiwa dan raga. Dengan demikian, transhumanisme bukan solusi bagi keterbatasan manusia, melainkan ancaman bagi integritas eksistensial manusia sebagai totalitas jiwa-raga yang terintegrasi dalam kesatuan wujud Ilahi.

Transhumanisme yang ditawarkan teknologi tidak dapat menjawab pertanyaan paling fundamental: Mengapa kita ada? Untuk apa kita hidup? Dan kemana kita akan kembali?

Solusi terhadap ancaman transhumanisme dan dominasi teknologi bukan dengan menolak kemajuan, melainkan dengan menegakkan spiritualitas sebagai prinsip pengendali. Manusia harus mampu memanfaatkan teknologi dalam batas-batas yang dituntun oleh nilai-nilai Ilahi, menjadikan dirinya cerminan keindahan dan kebaikan Tuhan yang termanifestasi dalam akhlak mulia.

Ketika spiritualitas dikembangkan melalui kedekatan dengan Tuhan, manusia memperoleh kebijaksanaan untuk mengendalikan seberapa besar pengaruh teknologi terhadap kehidupannya.

Penyatuan dengan Tuhan melalui pengalaman spiritual (tajalli) membuka penyingkapan terhadap hakikat segala sesuatu, sehingga manusia dapat melihat teknologi dalam proporsi yang tepat, sebagai instrumen, bukan tujuan; sebagai sarana, bukan makna.

Hanya dengan meneguhkan nilai-nilai spiritual dan mengaktualisasikan potensi sebagai khalifah Tuhan, manusia dapat memastikan bahwa perkembangan teknologi menjadi anugerah yang memperkaya peradaban, bukan musibah yang menghancurkan esensi kemanusiaan. Di sinilah letak urgensi kembali kepada dimensi spiritual: bukan sebagai pelarian dari modernitas, melainkan sebagai fondasi untuk menavigasi kompleksitas peradaban dengan bijaksana dan bermakna.

Referensi

Bagir, Haidar. Buku Saku Tasawuf. Bandung: Arasy Mizan, 2005.

———. Epistemologi Tasawuf. Bandung: Arasy Mizan, 2018.

Bostrom, Nick. “The Transhumanist FAQ.” nickbostrom.com, Faculty of Philosophy: Oxford University, 2003.

Prabowo, Agus Agung. “Lebih Cerdas, Lebih Lama Hidup dan Lebih Bahagia: Diskursus Transhumanisme dan Teologi.” Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika, Vol. 7, No. 2 (Desember 2024).

 





Citation format :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *