Apa itu Pernyataan Sintetis & Pernyataan Analitis Immanuel Kant?

Stats: 15 Views | Words: 551

3 minutes Read




Penulis: Murteza Asyathri
Editor: Wa Ode Zainab Zilullah

Apakah Anda pernah memikirkan dari mana sebenarnya asal-usul pengetahuan manusia? Apakah kebenaran yang kita yakini sepenuhnya bersumber dari akal, atau justru diperoleh melalui pengalaman indrawi?

Pertanyaan mendasar inilah yang menjadi salah satu perdebatan dalam epistemologi. Sebelum Kant menawarkan kerangka pemikirannya, rasionalisme dan empirisme telah memberikan jawaban yang berbeda. Kant kemudian hadir dengan pendekatan kritis yang berusaha menjelaskan hubungan antara akal dan pengalaman dalam membentuk pengetahuan.

Antara Akal dan Pengalaman

Salah satu pemikir yang memberikan sumbangan besar dalam perdebatan tersebut adalah Immanuel Kant. Melalui karyanya, Critique of Pure Reason (1781), Kant menyelidiki kemampuan sekaligus batas-batas akal manusia dalam memperoleh pengetahuan.Penr

Kant menjelaskan bahwa pengetahuan manusia tidak semata-mata berasal dari akal ataupun pengalaman. Pengalaman memang menjadi titik awal pengetahuan, tetapi tidak seluruh pengetahuan bersumber dari pengalaman. Dalam kerangka inilah Kant membedakan dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan analitis dan pernyataan sintetis.

Pernyataan Analitis dan Sintetis

Pernyataan analitis adalah pernyataan yang kebenarannya sudah secara mutlak terkandung di dalam konsep subjeknya sendiri. Contoh klasiknya adalah kalimat “Semua bujangan belum menikah”. Kita tidak perlu melakukan observasi empiris untuk membuktikannya, karena konsep “belum menikah” sudah melekat pada definisi kata “bujangan”. Sifatnya pasti, namun tidak memberikan perluasan informasi baru.

Sebaliknya, pernyataan sintetis adalah pernyataan di mana predikat memberikan informasi baru yang tidak terdapat di dalam konsep bawaan subjeknya.

Misalnya kalimat “Meja kayu itu berwarna cokelat”. Kebenaran kalimat ini tidak bisa ditebak hanya dengan menganalisis definisi kata “meja”. Kita diwajibkan untuk mengamati dan membuktikannya langsung melalui pengalaman indrawi.

Terobosan Kant: Sintetis Apriori

Gebrakan terbesar Kant muncul saat ia memperkenalkan gagasan “Sintetis Apriori”, dengan matematika sebagai contoh utamanya. Dalam persamaan tujuh ditambah lima sama dengan dua belas, Kant berargumen bahwa konsep “dua belas” sama sekali tidak tersimpan secara tersembunyi di dalam angka tujuh maupun lima. Ini diklaim membuktikan bahwa manusia mampu menyintesis pengetahuan baru yang pasti tanpa harus bergantung pada pengalaman indrawi.

Gagasan Kant mengenai pengetahuan sintetis apriori ini memicu perdebatan intelektual yang sangat panjang hingga awal abad ke-20. Para pemikir dari tradisi filsafat analitik, khususnya kelompok Vienna Circle yang mengusung positivisme logis, menolak keras eksistensi konsep tersebut demi membedakan secara tegas antara struktur bahasa dan ilmu pengetahuan sains.

Bagi filsuf analitik seperti Rudolf Carnap, matematika dan logika hanyalah sekumpulan kebenaran analitis yang didasarkan murni pada kesepakatan aturan bahasa semata, bukan pengetahuan baru. Mereka berkeras bahwa segala pengetahuan yang secara sah mendeskripsikan realitas dunia nyata haruslah murni bersifat sintetis dan selalu berlandaskan pada bukti empiris.

Namun, batas kaku yang dibangun ini pada akhirnya dibongkar oleh filsuf analitik W\.V.O. Quine. Melalui esai “Two Dogmas of Empiricism”, Quine menegaskan bahwa demarkasi mutlak antara kebenaran analitis dan sintetis hanyalah ilusi.

Baginya, tidak ada pemisahan murni antara bahasa dan fakta, karena seluruh sistem keyakinan logika dan sains kita selalu terhubung dan berpotensi direvisi oleh pengalaman nyata.

Kesimpulan

Dengan demikian, bahasa, logika, teori, dan pengalaman empiris tidak dapat dipisahkan secara sederhana. Semuanya saling berkaitan dalam membentuk dan merevisi pengetahuan manusia.

Apakah yang kita yakini sebagai kebenaran benar-benar kita ketahui, atau hanya sesuatu yang selama ini kita terima tanpa pernah kita pertanyakan?

Referensi

– Kant, Immanuel. (1781). Critique of Pure Reason.
– Ayer, A. J. (1936). Language, Truth, and Logic.
– Carnap, Rudolf. (1947). Meaning and Necessity: A Study in Semantics and Modal Logic.
– Quine, W. V. O. (1951). Two Dogmas of Empiricism. The Philosophical Review, 60(1), 20–43.
– https://philosophynow.org





Citation format :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *