Mungkin benar adanya, perihal asmara; cinta dan mencintai tidak melulu selalu berujung suka atau memiliki ending yang bahagia. Beberapa di antaranya, harus direlakan bersama penolakan dengan menerima luka, rasa sakit, atau bahkan kepergiaan sang pujaan hati sebelum benar-benar dimiliki.

Tak terkecuali dengan asmara para filsuf. Meski dikenal hebat dengan pemikirannya, dan bijak dalam tindakannya. Tak dapat disangkal mereka pun sama seperti kita; manusia, perlu dan masih memiliki cinta di dalam hatinya. Mereka seringkali alih-alih berbahagia dalam keadaan asmara, malah memiliki kisah yang penuh ketragisan dan kesakit-hatian. Berikut adalah filsuf beserta kisah asmara mereka.

Friedrich Nietzsche

Diurutan pertama kali ini, kita hadirkan filsuf Jerman yang lahir pada 15 Oktober 1844. Ia merupakan sosok yang “nakal” sekaligus bebal terhadap teologi. Aforisme serta ajarannya seringkali membuat hati panas dibuatnya. Tak bukan dan tak lain ia adalah Friedrich Nietzsche.

Tentu saja, Nietzsche, sosok Nihilis yang berani melontarkan serapah kepada Tuhan, dengan menyebut bahwa “Tuhan telah mati.” Meski pemikirannya acapkali kontroversial dan penuh sensasi, namun hal tersebut bukanlah alasan yang menjadikan Nietzsche terkenal sekaligus berpengaruh di dataran Eropa bahkan hingga saat ini, tentu saja tidak.

Dia sendiri merupakan seorang ahli dalam filologi yang meneliti teks-teks kuno, menelaah pemikiran para filsuf, kritikus budaya, penyair, penulis cerita, sekaligus komposer. Ia menulis dengan tema yang cukup beragam. Mulai dari agama dan moralitas, budaya kontemporer, filsafat maupun ilmu pengetahuan secara umum. Yang mana semuanya itu ditulis lewat metafora-metafora yang kadang sulit dipahami oleh selain dirinya sendiri.

Nietzsche diketahui membujang hingga akhir hidupnya. Rupanya bukan tanpa sebab, ia pernah jatuh hati kepada satu wanita dan ingin menikahinya. Gadis muda asal Rusia yang cerdas, begitulah gambaran wanita yang dipuja Nietzsche. Lou Salome namanya.

Namun apa daya, cinta Nietzsche rupanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan Lou menolak sampai dua kali banyaknya lamaran Nietzsche. Sakitnya lagi, gadis itu lebih menyukai sahabat Nietzsche sendiri. Bahkan dalam satu kesempatan Lou pernah mengatakan ia akan menerima lamarannya, dengan catatan asalkan Lou masih diizinkan untuk mencintai sahabat karibnya Nietzsche itu, Paul Rée.

Kekandasan cintanya itu, membuat pikiran-pikiran Nietzsche semakin memberontak. Bahkan pemikiran aforisme Nietzsche tersebut lahir setelah kesakit-hatiannya. Seperti ungkapan “Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi yang paling besar.”

Setelah mengalami kepahitan tersebut, akhir hidupnya pun tak kurang menyakitkan. Diketahui bahwa ia terserang penyakit sifilis syaraf, yang berawal dari gejala sakit kepala dan mata yang terus-terusan kambuh.

Semakin lama penyakit yang diidapnya kian memarah, hingga menyebabkan kesehatan mentalnya bermasalah. Setelah itu pada Januari 1889 kegilaan menyerangnya. Sakit jiwa disertai diagnosis dokter membuat Nietzsche tak lagi dapat berpikir jernih dalam kurun dua tahun akhir hidupnya. Hingga pada 25 Agustus 1900, Nietzsche dinyatakan meninggal dunia.

Søren Aabye Kierkegaard

Ia lahir 5 Mei 1813 dan mati pada 11 November 1855. Kierkegaard menjadi sosok sentral dalam dunia filsafat yang dikenal sebagai bapak filsafat eksistensialisme. Pemikirannya banyak sekali memengaruhi para tokoh di abad 20 kemudian. Sebut saja Walker Percy, John Updike, sampai Franz Kafka menjadi deretan tokoh yang dipengaruhi pemikiran filsuf berdarah Denmark ini.

Perjalanan hidup asmara baginya sangat lekat akan ketragisan. Mulai dari lima dari enam bersaudaranya wafat, sampai kepada umur 25 tahun ia pun harus menerima kemalangan kembali. Kemudian dengan sosok ayahnya yang harus lebih dahulu meninggalkan dirinya.

Kisah cintanya pun tak jauh berbeda. Ia pernah jatuh hati kepada sosok wanita rupawan bernama Regina Olsen. Keduanya saling mencintai, bahkan suatu hari Kierkegaard pernah mengirimi puisi ciamik kepada kekasihnya itu.

Pada 1840 ia memberanikan diri untuk meminang Regina. Namun kisahnya tak lama setelah itu, Kierkegaard yang melankolis segera merasa kecewa dan ragu tentang pernikahannya dengan Regina. Tak sampai setahun, dalam selang beberapa bulan ia memutuskan berpisah dan meninggalkan Regina.

Walaupun ia yang memutuskan untuk pergi, bukan berarti ia tak mencintai. Dalam beberapa tulisannya, ia beralasan bahwa sifatnya yang melankolis tidak pantas untuk menikah. Namun motif yang sebenarnya selain daripada itu belum diketahui.

Bahkan dalam satu kesempatan diketahui setelah Regina menikah dengan Schlegel, selang beberapa tahun Kierkegaard meminta untuk berbincang dengan Regina. Meskipun pada akhirnya ditolak oleh suami Regina.

Martin Heidegger

Filsuf ini lahir 26 September 1889 dan wafat 26 Mei 1976. Ia menempuh pendidikan di Universitas Freiburg, di bawah bimbingan penggagas fenomenologi, Edmund Husserl. Dan mendapatkan gelar profesor di tempat belajarnya.

Pengaruh besarnya terhadap bidang eksistensialisme, dekonstruksi, heurmenetika dan pasca-modernisme menjadikan nama Heidegger tak boleh dilewatkan ketika membaca filsafat Jerman. Sebab ia merupakan sosok yang banyak melahirkan para murid dan memengaruhi filsuf-filsuf yang tak kalah hebatnya. Sebut saja Hannah Arendt, Jean-Paul Sartre dan Jacques Derrida.

Kisah asmara dia boleh dikatakan merupakan “skandal” besar. Sebab kisah cintanya merupakan kisah antara ia sebagai dosen dengan muridnya, bernama Hannah Arendt. Keduanya menjalin cinta terlarang karena di satu sisi Heidegger berstatus sudah menikah sekaligus dikenal sebagai salah satu pendukung Nazi, sementara di sisi lain Arendt merupakan sosok gadis muda nan cerdas berdarah Yahudi.

Nahas, sewaktu Hitler berkuasa, Heidegger ditunjuk menjadi rektor di Universitas tempat dirinya belajar dan disebut sebagai dalang intelektual di balik pembantaian kaum Yahudi di Jerman. Ditambah, ia tidak dapat memberikan pertolongan kepada kekasihnya, Arendt. Peristiwa ini pun membuat Arendt beserta keluarganya pergi untuk meninggalkan Heidegger ke Amerika untuk menyelamatkan diri.

Jean-Paul Sartre

Siapa yang tak kenal Jean-Paul Sartre, atau akrab disapa Sartre ini. Ia merupakan salah satu filsuf eksistensialisme era kontemporer. Pemikirannya hingga kini masih banyak digandrungi dan ditelaah di beragam tempat di dunia.

Filsuf berkebangsaan Prancis ini diingat salah satunya sebagai filsuf yang menolak untuk diberi hadiah Nobel Sastra pada tahun 1964. Sartre lahir pada 21 Juni 1905, kemudian wafat pada tanggal 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris).

Salah satu kutipannya yang terkenal adalah “Neraka adalah orang lain” serta “Manusia dihukum untuk menjadi bebas.” Tak hanya pemikirannya saja yang kadang buat “njelimet” orang awam, kisah asmaranya pun dapat membuat kita geleng-geleng kepala disebabkan oleh betapa anti-maenstream-nya hubungan mereka.

Sebab, tak ayal Sartre sendiri yang merupakan seorang filsuf berkekasih pula dengan seorang filsuf yang sama menakjubkannya, yaitu, Simone de Beauvoir. Jika Sartre memilih fokus kajiannya kepada eksistensialisme manusia, maka Simone memilih untuk berorientasi kepada feminisme eksistensial.

Keduanya diketahui telah membina hubungan yang tak lazim sejak 1929. Dalam arti bahwa hubungan dua sejoli ini tidak terikat dengan apa yang disebut sebagai pernikahan. Keduanya sepakat untuk mengikat satu sama lain dengan hubungan berjenis open relationship.

Dengan kata lain, mereka tinggal dan hidup berdua, saling bertukar pikiran bersama, serta mencintai satu sama lain, namun keduanya memberi peluang kepada satu sama lain untuk berhubungan badan dengan orang lain. Yang mana hal demikian tidak terlepas dari persepsi keduanya perihal kebutuhan seksual.

Keromantisan keduanya berbeda teramat jauh dengan muda-mudi sekarang. Jika sekarang saling bertukar cokelat, tidak dengan mereka. Keduanya saling mengkritisi hasil pemikiran pasangannya.

Setiap kali Sartre membuat buku, dia meminta waktu sejenak kepada Simone untuk membaca serta mengkritisinya, begitupun sebaliknya. Meskipun keduanya tidak pernah menikah hingga akhir hayat. Keduanya masih tetap bersama, bahkan pada saat ajal menjemput Simone, sepasang filsuf ini dikebumikan di bawah nisan yang sama.

Kata-kata Socrates berikut kiranya merupakan penghujung tulisan kita kali ini. Ia pernah mengatakan “Bagaimanapun, menikahlah! Jika mendapat istri yang baik, kau akan memetik kebahagiaan. Jika pun sebaliknya, kau mendapatkan istri yang buruk, kau akan menjadi seorang filsuf.”

 

Editor: Fitria Zahrah



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =