Filsuf sebagai Lalat Pengganggu (Gadfly)

Stats: 347 Views | Words: 608

4 minutes Read








Penulis: Wa Ode Zainab Zilullah
Editor: Murteza Asyathri

Jika seorang filsuf tidak bisa menjadi raja, minimal ia harus menjadi lalat pengganggu.

Menurut Socrates, peran filsuf ada dua, yaitu sebagai ‘raja’ dan ‘lalat pengganggu’ (gadfly). Apa yang dimaksud dengan lalat pengganggu? Istilah gadfly berasal dari bahasa Yunani myops, yaitu lalat yang mengganggu kuda penarik kereta. Dalam konteks ini, yang dimaksud “filsuf sebagai lalat pengganggu” adalah seseorang yang mengintervensi status quo suatu masyarakat atau komunitas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru yang berpotensi mengganggu, biasanya ditujukan kepada pemegang otoritas.

Sebagai seorang filsuf, Socrates mengemban misi mulia di Athena sebagai “lalat pengganggu” (gadfly). Dalam Apologia karya Plato, Socrates mengungkapkan, “Saya adalah lalat pengganggu yang dikirimkan Tuhan untuk menggertak negara. Sepanjang hari, di berbagai tempat, saya selalu mengikatkan diri saya kepada kalian.” Konteksnya, saat itu Socrates menyampaikan pernyataan ini di hadapan para pejabat pemerintah, pengadilan, dan masyarakat Athena. Tugasnya adalah membangkitkan, memengaruhi, dan mengusik mereka, layaknya seekor lalat.

Diogenes, seorang filsuf yang melanjutkan ajaran Socrates melalui praktik kehidupan, dikenal sebagai “Diogenes si Anjing”. Alkisah, Iskandar Agung sang penakluk dunia tertarik pada sosok Diogenes. Suatu pagi yang cerah, Diogenes tertidur pulas sambil berjemur di dekat gentong anggur.

Kaisar memperkenalkan diri sambil berdiri tegak di hadapannya, “Aku Iskandar, Sang Raja Agung.”

Dari dalam gentong, Diogenes menjawab, “Dan aku Diogenes, Sang Anjing.”

“Jika kamu punya permintaan kepadaku, sampaikanlah!” kata sang raja.

“Aku hanya minta engkau bergeser sedikit agar tidak menghalangi cahaya matahari dariku,” jawab Diogenes.

Sementara itu, Søren Kierkegaard dikenal dengan sebutan “gadfly of Danes” (lalat pengganggu dari Denmark). Ia mengungkapkan bahwa dirinya melanjalankan misi ilahiah sebagai vexing gadfly yang memiliki peran sosial. Dalam tulisannya, ia melacak para gadfly sejak Diogenes. Beberapa kritikannya disampaikan melalui tulisan-tulisan pseudonimnya (Johannes Climacus, Anti-Climacus, Victor Eremita, dll.). Kierkegaard dalam hidupnya terlibat dalam kegiatan politik dan mengkritik kaum agamawan yang menyimpang dari misi gereja. Bahkan, ia mengkritik kehidupan kaum borjuis yang hidup hedon.

Apakah harus filsuf yang menjadi lalat pengganggu? Siapa pun yang memiliki kesadaran terhadap kondisi sosial masyarakat pun bisa. Marthin Luther King, seorang tokoh pembebasan mengungkapkan, “Kita perlu memiliki gadfy yang tidak melakukan kekerasan untuk menciptakan ketegangan di Masyarakat yang akan membantu orang lain melampaui prasangka dan rasismenya yang gelap menuju pada ketinggian pemahaman dan persaudaraan yang agung.”

Seperti lalat yang terus-menerus berdengung dan menggigit, para filsuf sejati sering kali tidak nyaman dan mengganggu. Mereka bukan hanya ada untuk duduk di menara gading dan merenung tentang makna hidup; mereka adalah agen provokasi yang mempertanyakan fondasi-fondasi yang kita anggap remeh.

Seorang filsuf akan datang dan, dengan pertanyaan yang tajam, menusuk gelembung kenyamanan kita. “Apakah demokrasi benar-benar adil?” “Mengapa kita bekerja begitu keras?” “Apa arti kebahagiaan sejati?” Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin membuat kita kesal, bahkan marah, karena mereka memaksa kita untuk melihat ketidaksempurnaan dalam apa yang selama ini kita yakini sempurna.

Tugas gadfly adalah “menyengat orang dan mencambuk mereka untuk marah, semua demi memperjuangkan kebenaran.” Meskipun gadfly mudah dihabisi, membungkamnya menimbulkan risiko bagi masyarakat. “Jika kalian membunuh orang seperti aku, kalian lebih banyak melukai diri kalian sendiri daripada aku,” kata Socrates.

Tanpa lalat pengganggu ini, masyarakat akan menjadi stagnan. Kita akan terjebak dalam lingkaran kebenaran yang diwariskan, tanpa pernah mempertanyakannya. Kita akan menyerah pada kebodohan yang nyaman. Jadi, meskipun terkadang menjengkelkan, bersyukurlah untuk lalat pengganggu dalam hidup, baik itu seorang filsuf atau bahkan seorang kawan yang kerap menantang cara berpikir kita. Sudah seharusnya para pejabat pemerintah atau parlemen pun bersyukur memiliki rakyat yang mengambil posisi sebagai lalat pengganggu.

Referensi

Plato. (2019). Apologia Socrates. (A. R. Yafi, Terj.). BASABASI.

Rakhmat, J. (2025). Filsafat sebagai Way of Life. Simbiosa Rekatama Media.

Russell, B. (2004). Sejarah filsafat barat dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik zaman kuno hingga sekarang. (H. Agus & T. Nurhadi, Terj.). Pustaka Pelajar.

 

 

 





Citation format :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *