Penulis: Adhimas Alifian Yuwono
Editor: Wa Ode Zainab Zilullah
Dalam kurun waktu terakhir, viral di media sosial mengenai gerakan “Go Vegan” yang menyerukan agar manusia tidak lagi memakan daging hewan dan beralih sepenuhnya pada konsumsi tumbuhan. Argumen utama komunitas ini adalah bahwa hewan merasakan sakit ketika dibunuh untuk dimakan, sehingga tindakan tersebut dianggap immoral. Mereka mengusulkan konsumsi tumbuhan karena dianggap tidak merasakan sakit dan nutrisi manusia tetap dapat terpenuhi.
Gerakan ini menuai kritik publik dari berbagai perspektif. Argumentasi medis menjelaskan risiko kekurangan zat besi dan omega tiga yang membuat manusia bergantung pada suplemen kimiawi. Argumentasi ekonomi mempertanyakan nasib peternak dan pekerja terkait jika semua orang menjadi vegan. Sementara argumentasi teologis menyatakan bahwa kitab suci membolehkan manusia memakan hewan dengan kriteria dan tata aturan tertentu.
Dalam diskursus etika lingkungan, gerakan Go Vegan sebenarnya sejalan dengan mazhab biosentrisme yang digagas Albert Schweitzer. Biosentrisme mengusung prinsip penghormatan mendalam terhadap seluruh kehidupan (reverence for life), dengan pandangan bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan pada dasarnya setara karena sama-sama hidup. Peter Singer memperkuat paradigma ini melalui bukunya Animal Liberation, dengan mengkritik spesiesisme, anggapan bahwa manusia lebih unggul dari makhluk lain. Singer berpendapat bahwa manusia dan hewan memiliki kesamaan fundamental dalam merasakan sakit dan kebahagiaan, sehingga berada dalam “komunitas moral” yang sama.
Namun, penerimaan gerakan Go Vegan tidak sesederhana penerapan filosofi Singer. Biosentrisme sendiri mendapat kritik karena dapat mengorbankan kepentingan manusia demi makhluk biotis lain secara fatalistik. Sonny Keraf dalam bukunya Etika Lingkungan Hidup (2010) menawarkan tafsir proporsional: penghormatan terhadap kehidupan berarti menjadikan seluruh organisme biotis sebagai “pertimbangan” dalam setiap keputusan manusia, bukan menghentikan konsumsi hewan secara total.
Keraf menjelaskan konsep “kewajiban negatif” yang dimiliki setiap organisme untuk bertahan hidup dengan saling memangsa dalam rantai makanan. Ini merupakan fitrah alami dalam siklus kehidupan. Manusia berhak “memangsa” hewan maupun tumbuhan sebagai aktualisasi kewajiban negatif tersebut. Persoalan muncul ketika manusia melampaui batas, seperti pemburuan liar hingga spesies terancam punah atau meracun sungai yang membunuh kehidupan secara kolektif.
Penghormatan terhadap kehidupan yang digagas Schweitzer justru terwujud dalam prosedur penyembelihan hewan yang dirancang dalam ajaran Islam. Islam membolehkan konsumsi hewan tertentu dengan prosedur ketat: tukang jagal harus berpengalaman, pisau harus tajam, pemotongan di urat leher secara presisi, dan dilakukan menghadap kiblat sambil menyebut nama Tuhan. Seluruh prosedur ini dirancang agar hewan tidak merasakan sakit sedikitpun—bukti konkret sikap menghormati kehidupan.
Membedakan antara “hidup” sebagai makhluk tunggal dan “kehidupan” sebagai sistem kolektif menjadi kunci. Memancing ikan dengan kail yang membunuh makhluk tunggal berbeda jauh dengan meracun sungai yang menghancurkan seluruh sistem kehidupan. Dalam biosentrisme proporsional, kewajiban negatif dibolehkan sejauh untuk pemenuhan biologis yang normal dan tidak melampaui batas yang merusak kehidupan secara sistemik.
Dengan demikian, gerakan Go Vegan tidak dapat dibenarkan begitu saja karena argumentasi filosofisnya mengalami kelemahan di banyak sisi. Gagasan biosentrisme proporsional lebih bijak digunakan untuk mendukung problem lingkungan yang lebih darurat, seperti mencegah kepunahan spesies atau kerusakan ekosistem, ketimbang mengajak manusia berhenti memakan hewan secara fatalistik. Penghormatan terhadap kehidupan tidak selalu berarti penghentian konsumsi, melainkan perlakuan yang bertanggung jawab dan penuh kehati-hatian terhadap seluruh makhluk hidup.
Referensi:
Keraf, S. A. (2010). Etika Lingkungan Hidup. Penerbit Buku Kompas.
Singer, P. (2023). Animal Liberation: The Definitive Classic of the Animal Movement. Inegrated Media.
Tan, S. Y., & Tatsumura, Y. (2014). Albert Schweitzer (1875-1965): A reverence for life. Singapore Medical Journal, 55(7), 351–352. https://doi.org/10.11622/smedj.2014084
