Penulis:  Mohammad Faizun Surya Rafli
Editor: Wa Ode Zainab Zilullah

Drama Queen of Tears menjadi drakor yang viral baru-baru ini. Drama ini menampilkan perjalanan pernikahan pasangan Baek Hyun-woo dan Hong Hae-in yang dipenuhi lika-liku dan krisis. Yang menarik dari drama Queen of Tears ini adalah cara kedua pasangan ini mengatasi krisis pasca pernikahan mereka. Drama ini tidak hanya menampilkan sisi romantis-komedi, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan tersirat, khususnya mengenai ‘filsafat cinta’ ala filsuf Simone de Beauvoir.

Cinta dan Pertengkaran menurut Beauvoir

Kehidupan pernikahan atau kehidupan rumah tangga kedua pasangan dalam drama ini cukup naik turun tensinya. Pada masa-masa awal pernikahan, keduanya sangat berbahagia. Namun, setelah tiga tahun perjalanan, terutama pasca keguguran anak pertama mereka, kehidupan rumah tangga pasangan tersebut memasuki masa-masa krisis. 

Hal itu terlihat dari hubungan mereka yang semakin berjarak, bahkan sampai pisah ranjang. Kemudian, sang suami, Hyun-woo, memutuskan untuk bercerai dengan Hae-in. Pada saat yang sama, Hae-in divonis menderita tumor Clouds Cytoma dan hidupnya diperkirakan hanya tinggal tiga bulan.

Namun, paradoksnya adalah justru di masa krisis itulah benih-benih cinta mereka muncul kembali. Saat masa krisis itulah keduanya saling memahami satu sama lain dan mencoba untuk jatuh cinta kembali. Momen tersebut mengingatkan pada sebuah dialog yang ditulis oleh Beauvoir dalam bukunya Who Shall Die. Clarice bertanya pada Jean-Pierre, “Bagaimana cara seseorang mencintai di atas muka bumi ini?” Jean-Pierre lantas menjawab, “Cukup bergabunglah pada sebuah pertengkaran rumah tangga yang biasa terjadi.”

Seperti halnya konflik antara Hyun-woo dan Hae-in, justru karena konflik rumah tangga tersebut, akhirnya satu per satu dari mereka, dalam lubuk hati, terbangun kesadaran untuk saling mencintai. Hanya saja, kesadaran tersebut tertutupi oleh gengsi dan ego masing-masing, sehingga mereka sulit untuk mengungkapkannya. Kondisi tersebut terlihat pada suatu dialog antara Hae-in dan Hyun-woo yang kira-kira seperti ini, “…daripada mengetuk pintumu dan berbicara, lebih mudah untuk tetap di kamarku dan membencimu,” kata Hae-in.

Cinta yang ‘Otentik’

Berbicara tentang cinta pada hakikatnya berbicara tentang sesuatu yang otentik. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Beauvoir dalam bukunya The Second Sex, Beauvoir menjelaskan bahwa cinta adalah, “Kesadaran yang saling berbalas antara dua kebebasan menimbulkan sebuah cinta yang otentik; di satu waktu tiap pasangan akan mengalami menjadi dirinya sendiri sekaligus menempatkan dirinya sebagai yang lain” (Beauvoir, 1983:706).

Dalam rancang bangun filsafat cintanya, Beauvoir membangun sebuah konsep yang ia sebut sebagai cinta yang otentik. Konsep cinta yang otentik tersebut dibangun atas aliran filsafat eksistensialisme. Menurut Beauvoir, cinta yang otentik adalah cinta yang dibangun tanpa hasrat duniawi, cinta yang saling memahami dirinya dan pasangannya.
Pada drama Queen of Tears, konsep cinta yang otentik tersebut tergambarkan pada sosok Hyun-woo dan Hae-in. Hyun-woo mencintai Hae-in atas dasar perasaan tulusnya, bukan karena uang dan warisan keluarganya. Hyun-woo juga mencintai Hae-in dalam segala keadaan, baik saat Hae-in dalam kondisi baik maupun buruk. Adapun Hae-in, ia juga mencintai Hyun-woo dengan tulus, meskipun Hyun-woo secara kedudukan, kekayaan, maupun kekuasaan tidak setara dengannya.

Maniacal and Generous Loving
Dari konsep cinta yang otentik itulah, Beauvoir kemudian memunculkan istilah maniacal loving (mencintai dengan tergila-gila) dan generous loving (mencintai dengan tulus) dalam karyanya yang berjudul The Ethics of Ambiguity.

Pada drama Queen of Tears, maniacal loving tergambarkan pada sosok Yoon Eun-seong yang sangat tergila-gila dengan Hae-in. Ia rela melakukan apapun agar Hae-in mencintainya, meskipun dengan cara kotor. Yoon Eun-seong bahkan tega melakukan brainwash pada Hae-in saat ia amnesia pasca operasi tumor otak. Ketika Hae-in menolaknya mentah-mentah, ia bahkan berniat menembak mati Hae-in dan membawa mayatnya agar ia bisa bersamanya selamanya.

Berbeda dengan Hyun-woo yang tidak memaksakan cintanya pada Hae-in. Bahkan saat Hae-in mengalami amnesia total pasca operasi tumor otaknya dan kemudian di-brainwash oleh Yoon Eun-seong, Hyun-woo tetap dengan sabar membantu Hae-in untuk memulihkan ingatannya. Hyun-woo terus berusaha menjaga Hae-in, memberinya semangat, dan afirmasi positif.

Terakhir, Beauvoir memberikan definisi tentang cinta yang sejati. Cinta sejati tidak mendominasi dan mengontrol satu sama lain. Cinta yang memberikan kedua insan yang saling cinta kebebasan. Cinta yang saling melihat ke arah yang sama dan berjalan bersama dalam setiap keadaan. 

Definisi cinta sejati ala Beauvoir ini tergambarkan dalam drama ini, di mana Hae-in mengatakan dalam satu dialog dengan Yoon Eun-seong bahwa: “Cinta bukan tentang bahagia dan membisikkan kata-kata manis. Cinta adalah ketika kau menanggung rasa sakit bersama. Saat kau memilih tinggal bukan kabur. Bahkan jika punya hutang atau hal lebih buruk, kalian tetap bersama.”

Lalu, pada dialog antara Hyun-woo dan Hae-in, Hyun-woo berkata kepada Hae-in bahwa: “Itulah pernikahan, berada di sisi bahtera yang sama. Jika bahtera itu tenggelam, kita tenggelam bersama.”

Referensi 
Beauvoir, S. D. 1983. Who Shall Die. MO: River Press.
Beauvoir, S. D. 1948. The Ethics of Ambiguity. Secaucus: Citadel Press.
Beauvoir, S. D. 1948. The Second Sex (Penerjemah: Parshley). London: Jonathan Cape.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − nine =