Kajian Semantik Toshihiko Izutsu

Penulis: Shilvia Nisa Qurani
Editor: Qonita al-Jufri

Kita pasti sering menemukan kata nur dalam Al-Quran. Apa yang ada dipikiranpembaca ketika mendengar kata nur? Mungkin sebagian kita mengartikan kata nur adalah cahaya. Ternyata kata nur dalam Al-Quran maknanya lebih dalam dari sekadar cahaya lho. Untuk memahami makna kata nur dalam Al-Quran sendiri diperlukan alatbantu yakni ilmu semantik.

Toshihiko Izutsu merupakan seorang profesor dari Tokyo yang terkenal luas karena kontribusinya dalam penerapan pendekatan semantiknya terhadap Al-Quran. Adapun semantik menurut Izutsu adalah analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptualweltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu.

Makna leksikal dan relasional merupakan salah satu konsep metodologi Toshihiko Izutsu dalam kajian semantiknya. Melalui metodologi ini Toshihiko Izutsu mampu memberikan wawasan yang lebih kaya dan komprehensif akan makna kata-kata yang terkandung dalam teks suci, yakni Al-Quran.

Makna leksikal atau makna dasar adalah makna yang tetap melekat pada kata itu, walaupun kata itu diambil di luar konteks Al-Quran. Sedangkan makna relasional adalah ketika kata itu ditempatkan atau bisa disebut maknanya tergantung pada konteks ayat yang menyebut kata itu.

Kata nur ini merupakan Bahasa Arab yang berasal dari gabungan huruf nun wau ra, yang secara asal memiliki arti sesuatu yang menunjukkan kepada sinar atau cahaya, keguncangan, kebingungan, kekacauan, dan kurang teguh atau kurang kokoh. Dari ketiga huruf tadi lahirlah kata nur dan nar. Dinamakan keduanya karena keadaannya yang terang atau karena bisa menerangi. Demikian juga diartikan keguncangan karena cepatnya sebuah gerakan.

Kata nur menurut kamus Al-Ma’aniy adalah cahaya, sinar, terang, kekuatan penerangan. Sedangkan dalam kitab nuzhah al-a’yun an-nawadhir fii ilmi al-wujuh wa an-nadhair mengartikan nur adalah cahaya yang memancar yang dapat ditembus dan dijangkau oleh cahaya penglihatan.

Lalu, Al-Asfahani mengatakan dalam kitabnya bahwa nur yang dimaksud adalah cahaya dunyawi dan ukhrawi. Adapun dunyawi adalah dibagi menjadi dua bentuk. Pertama bentuk cahaya yang dapat diindera oleh mata hati, seperti cahaya ilahiyyah, misalnya cahaya akal dan cahaya Quran. Adapula yang bisa diindera dengan mata fisik, yakni seperti cahaya bulan, bintang dan cahaya yang semacamnya. Adapun cahaya ukhrawi adalah seperti firmanNya pada Qs Al-Maidah ayat 15, Qs Al-An’am ayat 122, dan masih banyak lagi ayat yang menyebutkan cahaya ukhrawi.  

Kata nur dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 49 kali dan tersebar dalam 25 surah. Kata nur disebutkan dalam Al-Quran dengan berbagai derivasinya seperti dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan nomina (isim). Tentunya kata nur dalam Al-Quran beserta derivasinya tidak hanya bermakna cahaya. Maknanya bahkan bisa lebih luas dari itu.

Adapun makna relasional kata ini menurut Abu Abdillah Husein Ad-Damghani dalam kitabnya, bahwa kata ini memiliki 10 makna. Diantaranya adalah; agama islam, iman, petunjuk, Nabi Muhammad SAW, cahaya siang, cahaya bulan, cahaya yang diberikan Allah kepada orang mukmin di sirath pada hari kiamat, penjelasan halal dan haram dalam taurat, penjelasan halal dan haram dalam Al-Quran, adil.

Adapun contoh surat-surat yang menyebutkan kata nur dan memiliki berbagai makna adalah sebagai berikut: Pertama, cahaya dimaknai agama islam seperti pada Qs At-Taubah ayat 32. Kedua, cahaya dimaknai keimanan pada Qs Al-An’am ayat 122. Ketiga, cahaya dimaknai petunjuk atau hidayah pada Qs An-Nur ayat 35. Selanjutnya, cahaya dimaknai Nabi Muhammad SAW layaknya pada Qs Al-Maidah ayat 65. Cahaya dimaknai cahaya siang pada Qs Al-An’am ayat 1. Cahaya dimaknai cahaya bulan pada Qs Al-Furqon ayat 61.

Kemudian cahaya dimaknai cahaya orang mukmin di sirath pada hari kiamat pada Qs At-Tahrim ayat 8. Cahaya dimaknai penjelasan halal dan haram dalam taurat pada Qs Al-Maidah ayat 44. Cahaya dimaknai penjelasan halal dan haram dalam Al-Quran pada Qs At-Taghabun ayat 8. Adapun yang terakhir yakni cahaya dimaknai keadilan pada Qs Az-Zumar ayat 69.

Dapat disimpulkan bahwasanya sebuah kata didalam Al-Quran bisa mengandung banyak makna jika dilihat melalui konteks ayat tersebut. Contohnya adalah kata nur yang tidak hanya diartikan sebagai cahaya. Ternyata maknanya dalam Al-Quran lebih luas dari sekedar itu. Untuk mengetahui hal ini, maka diperlukan sebuah metodologi semantik yang dikenalkan oleh Toshihiko Izutsu, yakni melalui pendekatan makna leksikal atau dasar dan makna relasional.

Referensi
Abdul Rohman, M. I. (2023). Menelusuri Makna Kata Nur dalam Al-Quran: Aplikasi Semantik Ensiklopedik. Al-Kawakib (Jurnal Keislaman), 2, 158.

Ad-Damghani, A. A. (t.thn.). Al-Wujuh wa An-Nadhair. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

Al-Asfahani, A. Q.-M. (2003). Al-Mufradat fii Gharib Al-Quran. Kairo: Maktabah At-Taufikiyah.

Al-Jauzi, J. A.-F. (1987). nuzhah al-a’yun an-nawadhir fii ilmi al-wujuh wa an-nadhair. Beirut: Muassas Ar-Risalah.

Baqi, M. F. (2009). Al-mu’jam Al-mufahras Li Alfadz Al-quran. Kairo: Dar El-Hadits.

Izutsu, T. (2003). Relasi Tuhan dan Manusia. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + 3 =