Tanggung Jawab Agama di Era AI (Artificial Intelligence)

Stats: 73 Views | Words: 652

4 minutes Read








Kehadiran AI (Artificial Intelligence) saat ini merupakan fenomena yang tak terhindarkan dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Di satu sisi, AI memberikan banyak kemudahan dan efisiensi bagi masyarakat. Namun di sisi lain, AI juga mengancam dimensi kemanusiaan dalam kehidupan sosial.

Dalam buku terbarunya, Demokrasi, Ateisme, dan Seksualitas, Romo Franz Magnis-Suseno mengulas persoalan ini secara komprehensif. Sebagai rohaniawan, Romo Magnis melihat bahwa agama, sebagai elemen krusial dalam Masyarakat, harus menjadi katalisator “humanisasi teknologi”. Humanisasi teknologi berarti algoritma AI berkembang di atas dasar nilai etika kemanusiaan dan tidak mengorbankan nilai esensial manusia itu sendiri.

 

Algoritma dan Etika Kemanusiaan

Ketika membahas teknologi AI, yang mungkin memiliki IQ melebihi rata-rata manusia, kita tidak bisa melepaskannya dari algoritma yang menjadi “mesin” atau “otak” di balik mekanismenya. Dalam menyoal algoritma, Romo Magnis mencontohkan kasus mobil masa depan yang beroperasi tanpa awak (self-driving car). Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah algoritma cukup bijak dalam mengambil keputusan ketika dihadapkan pada situasi krusial?

Misalnya, mobil tersebut mengalami rem blong dan dihadapkan pada tiga pilihan sulit: pertama, menabrak satu orang di depannya; kedua, menabrak dua orang di sebelahnya; atau ketiga, mengorbankan penumpangnya sendiri dengan terjun ke jurang.

Dalam situasi darurat seperti ini, bagi Romo Magnis, poin utamanya bukanlah terjebak pada ratusan pertanyaan teknis tentang siapa yang harus ditabrak. Hal paling mendasar adalah bagaimana AI dikembangkan di atas fondasi etika kemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya, martabat manusia harus dijamin dalam segala situasi dan tetap dipandang sebagai subjek yang memiliki hak asasi, bukan sekadar angka dalam data statistik.

Contoh penerapan etika ini adalah ketika kebijakan ekonomi pemerintah diambil bukan berdasarkan hitungan algoritma semata, melainkan melalui diskursus demokratis yang berorientasi pada keadilan, kesejahteraan, dan kebebasan rakyat.

Romo Magnis melihat era AI sebagai proses dominasi algoritma atas manusia. Hal ini terjadi ketika segenap dimensi kehidupan; politik, ekonomi, pendidikan, budaya, hingga rumah tangga, dikelola menurut algoritma yang dirancang untuk mencapai “efek optimal.” Namun, yang perlu dipertanyakan adalah: apa kriteria “optimal” tersebut? Siapa yang menentukannya? Manusia atau kode mesin?

Sejalan dengan hal ini, Erich Fromm dalam The Revolution of Hope (1968) telah memperingatkan kita agar lebih berhati-hati dengan kemajuan teknologi. Pada masanya, Fromm telah melihat gejala “masyarakat yang terdehumanisasi.” Dehumanisasi ini muncul akibat pertumbuhan produksi dan konsumsi yang tak terkendali. Menukil pendapat Karl Marx, Fromm melihat fenomena ini sebagai perbudakan manusia terhadap mesin yang menciptakan keserakahan tanpa batas.

Jika tidak ada kesadaran kolektif, masyarakat di abad ke-21 benar-benar terancam kehilangan sisi kemanusiaannya, seperti perasaan, kreativitas, kebebasan, dan kasih saying, lalu berakhir menjadi budak algoritma.

 

Membangun Sinergi Antaragama

Tantangan agama hari ini bukan lagi sekadar debat teologis tentang eksistensi Tuhan, melainkan apakah agama sanggup mempertahankan aspek kemanusiaan di tengah masyarakat yang terdehumanisasi. Agama ditantang untuk bertransformasi menjadi kekuatan humanis yang melawan penyembahan terhadap “berhala baru” berupa mesin dan algoritma.

Pada akhirnya, hubungan antara sains, teknologi, dan agama tidak harus selalu berupa konflik. Sebagaimana kata Einstein, “Sains tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa sains adalah buta.” Keduanya bisa bertemu pada titik di mana sains menjelaskan “bagaimana” alam bekerja, sementara agama dan filsafat memberikan makna “mengapa” kita harus hidup secara bermoral di dalamnya.

Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayeb pada 2019 adalah preseden penting. Membangun sinergi antarumat beragama adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman. Agama harus membuang sikap egosentris dan mulai membuka diri untuk membela prinsip kemanusiaan yang bermartabat.

Sudah saatnya agama-agama mengubah fokus mereka: dari sekadar berlomba memperbanyak penganut, menjadi sinergi untuk menyepakati tuntutan etis yang non-negotiable (tidak dapat ditawar) sebagai landasan pengembangan AI. Persoalan kita hari ini adalah bagaimana agama-agama dapat bersinergi dan memastikan bahwa masa depan umat manusia tetap selaras dengan fitrahnya sebagai ciptaan Tuhan.

Referensi

Einstein, Albert. (2021). Dunia Seperti yang Saya Lihat (Terjemahan: The World as I See It). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fromm, Erich. (2020). Revolusi Harapan: Menuju Masyarakat Teknotronik (Terjemahan: The Revolution of Hope). Yogyakarta: Jendela.

Kant, Immanuel. (2005). Kritik atas Rasio Praktis (Terjemahan: Critique of Practical Reason). Yogyakarta: Kanisius.

Magnis-Suseno, Franz. (2025). Demokrasi, Ateisme, Seksualitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 





Citation format :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *