Dewasa ini, kita bisa melihat perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai cabang disiplin ilmu. Ilmu pengetahuan seakan-akan tidak akan pernah hilang dalam peradaban manusia. Memang kenyataannya demikian, Kustiana Arisanti dalam artikel “Ilmu Pengetahuan Sebagai Pilar Peradaban” menganggap pengetahuan merupakan instrumen dasar manusia dalam menekuni kehidupan (Arisanti, 2018). Rasa ingin tahu manusia menjadi dorongan dalam menyimpulkan berbagai hal, sehinggap mampu menghasilkan pengetahuan. Selain itu, banyak objek yang hadir di sekeliling manusia dalam mengolah pengetahuannya. Sebut saja, cerita dalam novel karya Habiburrahman.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengkaji sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) yang berjudul “Kembara Rindu”. Kajian terhadap novel tersebut akan dilakukan dengan melakukan analisis konsep epistemologi. Dengan itu, kajian akan menghasilkan suatu pengetahuan dari cerita yang diangkat oleh Kang Abik, khususnya pengetahuan praktis dalam melihat kehidupan. Sebagaimana di awal dijelaskan, inilah bentuk dari perkembangan pengetahuan dengan coraknya yang khas, meskipun hanya diangkat dari sebuah cerita-novel.

Konten Novel

Dalam novel tersebut, Kang Abik berusaha menggambarkan kehidupan seorang tokoh sederhana yang bernama Ainur Ridho. Ia tumbuh besar dan hidup dalam keadaan sederhana, yang kemudian pergi merantau untuk menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren. Ridho banyak belajar dan tumbuh dewasa di bawah bimbingan Kiyai Nawir sebagai pengasuh pondok tersebut. Sering kali Kiyai Nawir memberi contoh kepada santrinya agar hidup seseorang itu tidak luput dari penghambaan dan mampu menumbuhkan nilai-nilai positif di lingkungan pribadinya. Dalam kesempatan ceramahnya, Kiyai Nawir memberi pesan agar suatu saat nanti santrinya itu dapat mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya di pesantren tersebut.

Demikian dengan Islam, yang mengajarkan kepada kita belajar bahwa manusia itu hidup diciptakan hanya sekadar untuk beribadah kepada Allah swt. Akan tetapi, penghambaan tersebut harus memiliki dasar yang kokoh, berupa kepercayaan (iman) yang disandarkan kepada pengetahuan (Nasution, 1978). Artinya, kualitas kepercayaan tiap individu itu selalu berbeda sesuai dengan pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan objek-objek yang ada.

Nampaknya, ada keterkaitan antara cerita Ridho dengan konsep pengetahuan dan aliran-alirannya dalam epistemologi. Pengetahuan merupakan suatu persepsi personal yang diyakini kebenarannya. Atau menurut Prof. Ahmad Tafsir, pengetahuan adalah segala sesuatu yang dapat diketahui (Tafsir, 2004). Jadi, tidak mungkin seseorang memiliki pengetahuan tapi tidak mampu untuk memersepsikannya. Ada banyak perangkat untuk mendapatkan pengetahuan, salah satunya akal dan pengalaman (Kattsoff, 2004). Ainur Ridho mencoba menerapkan konsep pengetahuan itu selama ia belajar di pesantren. Ia percaya bahwa pengetahuan yang diperolahnya itu berupa jalan kebenaran yang harus diamalkan, sebagaimana pesan Kiyai Nawir.

Di pesantren, Ridho tidak hanya belajar dari teks-teks kitab kuning saja. Posisi Ridho yang sibuk menjadi khadim (pengawal) Kiyainya, sering kali mengamati keseharian Kiyai Nawir sebagai sosok yang memberi manfaat kepada orang. Ridho banyak belajar dari pengalaman empirisnya dan sikap pragmatis dalam mengamalkan ilmunya. Katakanlah, ini merupakan bentuk empiris pragmatisme epistemologis yang digambarkan Kang Abik melalui tokoh Ainur Ridho.

Epistemologi Kisah Habiburrahman 

Karangan Habiburrahman tersebut seperti sedang memberi gambaran mengenai konsep yaqin dalam Islam. Konsep tersebut memiliki beberapa tingkatan, yakni dimulai dari khobar al-yaqin, ilmu al-yaqin, ain al-yaqin, dan haq al-yaqin. Keyakinan dan pengetahuan manusia itu melewati beberapa tahap sehingga sampai pada titik puncak keyakinan yang sebenar-benarnya. Hal yang perlu digaris bawahi, konsep keyakinan tersebut nampaknya lebih cenderung dengan konsep empiris dan pragmatis dalam kajian epistemologi. Tokoh Ainur Ridho seakan-akan sedang mencari pengetahuan dengan memperbanyak pengalaman dan mengamalkan pengetahuan praktis tersebut di kehidupan sehari-hari. Sikap pragmatisnya semakin terlihat ketika Ridho selesai proses belajarnya di pesantren yang letaknya di Cirebon, kemudian pulang ke kampung halamannya di Lampung.

Ridho pulang dengan membawa pengetahuan dan cita-cita agar bisa meniru Kiyai Nawir, yakni menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Selang beberapa waktu lamanya, Ridho malah menjadi penjual gorengan dan ayam goreng, bukannya mengajarkan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya di pesantren. Ia berpandangan bahwa meskipun menjadi seorang santri yang belajar agama, tapi menjadi penjual makanan juga bukan merupakan hal yang salah. Karena Ridho percaya bahwa ilmu agama itu luas, tidak hanya bisa dipelajari dan diamalkan di kelas-kelas atau pengajian saja. Pandangan pragmatis Ridho tersebut menunjukkan untuk mengamalkan ilmu agama itu tidak hanya berlaku bagi seorang ustadz saja, melainkan berlaku untuk seluruh hamba Allah.

Di sisi lain, Ridho merasa ia telah melupakan cita-cita kakeknya yang berharap sepulang Ridho dari pesantren tersebut agar bisa meneruskan dan menjaga masjid yang telah dibangun kakeknya. Sampai pada suatu saat, Ridho menerima surat kiriman dari Kiyai Nawir agar meneruskan masjid tersebut sebagai wadah untuk mengajarkan ilmu agama yang ia perolah di pesantren. Akhirnya Ridho sadar dan memutuskan untuk istiqomah dalam mengajarkan ilmu-ilmu Allah kepada masyarakat sekitar. Nampaklah Ridho adalah tokoh yang berjiwa pragmatis, yaitu ia menjadi sosok yang harus bisa memanfaatkan dan menerapkan ilmu sehingga mampu menjadi manusia yang bermanfaat seperti yang ia cita-citakan.

Dari cerita di atas, baik Ridho menjadi tukang penjual gorengan maupun menjadi seorang pengajar di masjid, Ridho tetap memerhatikan aspek-aspek pengamalan pengetahuan yang ia dapatkan dari pengalaman empirisnya. Keyakinan Ridho bahwasannya Islam mengajarkan untuk mendapat pengetahuan yang hakiki itu harus melewati beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut dilewatinya dengan cara mengamalkan ilmu secara praktis dan optimis, serta mengamati lingkungan sekitar sebagai objek-objek pengetahuannya (Masrur, 2016). Dengan demikian, pengetahuan tersebut akan mengantarkan kepada kebenaran, sebagaimana konsep empiris dan pragmatis dalam epistemologi untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.

Pengetahuan akan terus menjadi modal dasar bagi umat manusia. Bagaimana pun pengetahuan itu didapatkan, melalui perangkat akal, pengalaman, imajinasi, atau perasaan, semua akan ditujukan untuk memperolah suatu pengetahuan. Akhirnya, kita lihat adanya kesesuaian antara konsep epistemologis dalam filsafat secara umum dan dalam konsep Islam pada karya Habiburrahman. Demikinalah, nilai-nilai ajaran umum dan agama di kolaborasikan agar saling menguatkan satu sama lainnya. Sehingga manusia harus terus tertarik dalam mengembangkan pengetahuan sebagai batu pijakan kehidupan yang bahagia. Inilah keunikan karya Habiburrahman .

 

Editor: Ahmed Zaranggi

Rujukan:

Arisanti, K. (2018). ILMU PENGETAHUAN. 4, 77–90.

Kattsoff, L. O. (2004). Pengantar Filsafat (9th ed.). Tiara Wacana Yogya.

Masrur, A. (2016). RELASI IMAN DAN ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN (Sebuah Kajian Tafsir Maudhui). Al-Bayan: Jurnal Studi Ilmu Al- Qur’an Dan Tafsir, 1(1), 35–52. https://doi.org/10.15575/al-bayan.v1i1.1672

Nasution, H. (1978). Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 1 (2nd ed.). UI Publishing.

Tafsir, A. (2004). Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan (Pertama). PT. Remaja Rosdakarya.



This article is under the © copyright of the original Author: Please read "term and condition" to appreciate our published articles content. Thank you very much.
(Zona-Nalar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × five =