Penulis: Riski Faldi
Editor: Wa Ode Zainab Zilullah
Dalam era kontemporer yang kompleks, diskursus tentang etika menjadi semakin relevan sebagai kompas moral dalam pengambilan keputusan. Egoisme, yang menempatkan kepentingan diri sebagai pusat pertimbangan moral, menghadirkan tantangan serius terhadap kohesi sosial dan moralitas universal. Immanuel Kant (1724-1804), tokoh Pencerahan Jerman, mengembangkan etika deontologis sebagai respons kritis terhadap egoisme. Melalui konsep imperatif kategoris, akal praktis, dan kehendak baik, Kant menawarkan landasan filosofis yang kuat untuk menolak egoisme sebagai basis etika yang valid.
Egoisme terwujud dalam tiga bentuk berbeda yang perlu dipahami secara mendalam. Egoisme etis menyatakan bahwa seseorang seharusnya bertindak demi kepentingan dirinya sendiri sebagai prinsip normatif, seperti yang diungkapkan Ayn Rand. Sementara itu, egoisme psikologis mengklaim bahwa semua tindakan manusia pada dasarnya dimotivasi oleh kepentingan diri, bahkan tindakan yang tampak altruistik. Di lain sisi, egoisme rasional berpendapat bahwa tindakan adalah rasional jika memaksimalkan kepentingan pribadi. Ketiga bentuk ini membawa konsekuensi negatif: merusak hubungan sosial, menimbulkan konflik, dan menghambat terbentuknya masyarakat yang adil.
Kant membangun etika deontologis dengan menempatkan ‘kehendak baik’ sebagai satu-satunya hal yang baik tanpa kualifikasi. Berbeda dengan teori konsekuensialis, Kant menekankan bahwa nilai moral tindakan terletak pada niat dan kewajiban di baliknya, bukan pada hasilnya. Kehendak baik adalah kehendak yang bertindak dari kewajiban, bukan hanya sesuai dengan kewajiban. Kant membedakan antara moralitas (tindakan karena kewajiban) dan legalitas (tindakan sesuai hukum tapi mungkin didorong motif lain). Akal praktis memungkinkan manusia bertindak berdasarkan prinsip yang mereka berikan pada diri sendiri, menciptakan otonomi kehendak sebagai kebebasan moral sejati.
Imperatif kategoris menjadi inti dari etika Kant, yaitu perintah moral yang mengikat secara universal dan tanpa syarat. Kant merumuskannya dalam tiga cara: pertama, perumusan universalitas yang menuntut agar maksim tindakan dapat menjadi hukum universal; kedua, perumusan kemanusiaan yang mewajibkan kita memperlakukan setiap manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan semata-mata sebagai sarana; dan ketiga, perumusan kerajaan tujuan yang membayangkan komunitas moral ideal di mana setiap anggota adalah pembuat sekaligus subjek hukum universal. Ketiga formulasi ini saling melengkapi dalam memberikan panduan moral yang komprehensif.
Kant mengkritik egoisme secara fundamental karena melanggar prinsip universalitas imperatif kategoris. Maksim egois seperti “Saya akan berbohong jika menguntungkan saya” tidak dapat diuniversalkan tanpa menghasilkan kontradiksi logis. Jika semua orang berbohong, institusi kejujuran akan runtuh. Egoisme juga merendahkan martabat kemanusiaan dengan memperlakukan orang lain sebagai sarana untuk tujuan pribadi, bukan sebagai individu yang memiliki nilai intrinsik. Ketika pengusaha hanya peduli keuntungan tanpa mempertimbangkan kesejahteraan karyawan, ia melanggar prinsip kemanusiaan Kant dengan mereduksi manusia menjadi objek yang dapat dieksploitasi.
Kritik Kant lebih lanjut menunjukkan bahwa egoisme berasal dari heteronomi kehendak, di mana tindakan didorong oleh dorongan eksternal seperti keinginan untuk keuntungan atau kesenangan. Ini bertentangan dengan otonomi moral sejati yang berasal dari akal membuat hukum bagi dirinya sendiri. Egoisme juga menghancurkan gagasan kewajiban mutlak dengan mengubahnya menjadi kondisional. “Saya akan melakukan X jika melayani kepentingan saya.” Bagi Kant, moralitas adalah tentang melakukan yang benar karena itu kewajiban, terlepas dari untung atau rugi pribadi. Egoisme bertentangan dengan akal praktis yang menuntut konsistensi, universalitas, dan imparsialitas.
Implikasi kritik Kant memiliki dimensi filosofis dan praktis yang signifikan. Secara filosofis, Kant memperkuat argumen untuk moralitas objektif dan universal, menolak relativisme moral yang mengklaim moralitas hanya masalah opini. Ia menekankan pentingnya motivasi moral yang benar, bukan sekadar hasil baik. Secara praktis, bagi individu, pemikiran Kant mendorong pengembangan karakter moral yang bertindak dari kewajiban lebih tinggi. Bagi masyarakat, ia menyediakan dasar etis untuk membangun institusi dan hukum yang adil, melindungi hak dan kebebasan setiap orang. Dalam pendidikan, prinsip Kantian membantu membentuk individu yang cerdas sekaligus memiliki kesadaran moral tinggi.
Relevansi kritik Kant terhadap egoisme sangat nyata dalam menghadapi tantangan kontemporer. Krisis lingkungan, misalnya, berakar pada egoisme jangka pendek yang mengeksploitasi sumber daya tanpa mempertimbangkan generasi mendatang. Selain itu, dalam etika bisnis, praktik yang hanya berorientasi keuntungan tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan melanggar prinsip kemanusiaan. Bahkan dalam pengembangan kecerdasan buatan, prinsip Kantian dapat membimbing perancangan sistem AI yang menghormati otonomi manusia dan bertindak berdasarkan hukum moral universal, bukan optimisasi kepentingan tertentu semata.
Referensi
Bertens, K. (2016). Etika. Gramedia.
Kant, I. (1997). Groundwork of the metaphysics of morals (M. Gregor, Trans.). Cambridge University Press.
Prasetyo, H. (2020). Kritik Immanuel Kant terhadap egoisme dalam fondasi metafisika moral. Jurnal Refleksi Filosofis, 5(1), 48.
Stanford Encyclopedia of Philosophy. (2002, November). Egoism. https://plato.stanford.edu/entries/egoism/
Thorpe, L. (2024). Immanuel Kant and deontology. State University of New York Press.
